
Mengubah formasi 4-2-3-1 menjadi 4-3-3 ketika kepepet
Barcelona boleh berbangga hati bisa membantai tim-tim semenjana seperti Ferencvárosi, Real Betis, dan Villarreal dengan skor besar. Namun, mereka sering kali kelabakan menghadapi tim-tim tangguh yang punya plan brilian saat bertanding, seperti Getafe, Sevilla, dan musuh bebuyutan, Real Madrid.
Koeman pun seperti setengah menyadari kalau formasi pilihannya di Barcelona, 4-2-3-1, tidak berjalan begitu baik saat menghadapai tim-tim tersebut. Sebagai bukti, ketika timnya berada dalam posisi tertinggal dan kepepet, ia selalu mengubahnya ke formasi 4-3-3.
Biasanya Koeman melakukannya dengan menarik keluar Busquets sekitar 20-10 menit menuju peluit akhir dan menggantinya dengan pemain bertipe menyerang. Sedangkan posisi single pivot diserahkan kepada Frenkie de Jong.
Saat El Clasico misalnya, Koeman merombak pola permainan nyaris habis-habisan sejak menit ke-80 saat Barcelona tertinggal 2-1. Barça memainkan lima pemain bertipe penyerang sekaligus: Messi, Griezmann, Dembele, Coutinho, dan Trincão. Hanya saja, ia tak menerapkan formasi 4-2-3-1 lagi, namun lebih ke 4-1-2-3. Busquets ditarik keluar.
Frenkie diinstruksikan bermain lebih melebar dan menyerang, menyerupai posisi Andres Iniesta. Lalu, siapa yang mengisi posisi defensive midfielder dalam formula single pivot ini? Coutinho!
Sulit untuk menerka-nerka ide apa yang hendak Koeman terapkan dengan formulasi amburadul ini. Akhirnya, Luka Modric menghukumnya dengan menambah keunggulan El Real menjadi 3-1 di masa injury time yang sekaligus menutup pertandingan.
Begitu pula ketika kalah tipis 1-0 melawan Getafe dan ditahan imbang 1-1 oleh Sevilla. Formulasi single pivot baru diterapkan ketika Blaugrana hendak mengejar ketertinggalan. Hal ini mengimplikasikan dua hal.
Pertama, tidak mulusnya penerapan formasi 4-2-3-1 dan kedua, tidak siapnya beberapa pemain Barcelona (terutama Busquets) untuk beralih ke formasi yang basisnya berbeda dengan apa yang dianut Barça sebelum Koeman mengambil alih kursi kepelatihan.

Jadi, sudah tepatkah formasi Koeman di Barcelona saat ini?
Jawabannya, tidak. Setidaknya sejauh ini, formasi 4-2-3-1 pilihan Koeman tidak berjalan sebagaimana mestinya terutama ketika Barcelona harus menghadapi lawan-lawan kuat.
Sebagai penonton layar kaca, kita barangkali bisa menilai dan memahami kalau apa yang sedang dilakukan Koeman saat ini adalah semacam reformasi untuk mengangkat derajat Blaugrana kembali dari keterpurukkan dalam beberapa tahun terakhir.
Hanya saja, dalam pandangan saya, perubahan dasar yang prinsipil dari single pivot ke double pivot ini tidak bijak, atau secara kasar bisa dikatakan sebagai pengkhianatan filosofis terhadap pondasi dasar yang dibangun oleh ide-ide radikal Cruyffian.
Padahal, banyak penggemar yang berekspektasi kalau Koeman akan mengembalikan kejayaan Barcelona dengan cara yang sama seperti dulu—cara yang arogan, cara yang keras kepala, cara yang hanya satu-satunya, yaitu cara Johan Cruyff.
Lagipula, penggemar sadar kalau Koeman dulu pernah dilatih Cruyff secara langsung.
Memang, saat itu, ketika Barcelona menjuarai Liga Champions untuk pertama kalinya di tahun 1992 di mana Koeman menjadi pencetak gol tunggal, formasi yang digunakan bukanlah 4-3-3, melainkan 3-4-3. Hanya saja, prinsip dasarnya tidak hilang, yaitu single pivot, yang waktu itu diperankan oleh Guardiola.
Maka wajar apabila sekarang terdapat pertanyaan bernada kesal seperti ini: mengapa Koeman tidak menerapkan hal yang sama saat ini? Apalagi El Barça kini banyak dibintangi gelandang-gelandang muda bertipe kreatif dan menyerang.
Namun, Koeman lebih memilih sistem double pivot. Padahal jumlah gelandang bertahan di dalam skuad hanya berjumlah tiga pemain: Busquets, Frenkie, dan Pjanic.
Ketika para gelandang jangkar tersebut mengalami cedera atau diistirahatkan, gelandang yang tidak berprofil defensif mau tak mau harus bermain sebagai pivot, seperti yang dialami Carles Aleña saat pertandingan tandang ke Ukraina menghadapi Dynamo Kyiv di ajang Liga Champions.
Gelandang bertalenta lain yang digadang-gadang sebagai aset terbaik bagi Barcelona di masa depan, Riqui Puig, bahkan disingkirkan sebagai pilihan utama. Koeman beralasan bahwa jumlah skuad terlalu banyak dan Puig tidak sesuai dengan rencana taktiknya, yang tak lain dan tak bukan adalah formasi 4-2-3-1.
Mungkin saja hasilnya akan berubah dan berbuah manis di akhir musim nanti, dan saya akan senang kalau argumen saya dalam artikel ini keliru. Namun sejauh ini, apa yang ditampilkan El Barça di atas lapangan hijau tidak menunjukkan indikasi perbaikan dan rencana yang matang.
*Penulis adalah penggemar berat FC Barcelona. Bukan kidal tapi mampu menyepak bola dengan kaki kiri karena terinspirasi oleh Leo Messi. Bisa disapa di akun Twitter @pratamaesque