
Vamos Bien didirikan pada tahun 2006 sebagai kelompok yang sangat menentang kapitalisme. Mereka didirikan dengan tujuan untuk menentang segala eksploitasi sepak bola dan kegiatan olahraga lainnya oleh kepentingan pemerintah, otoritas negara, dan elite perusahaan.
Sama seperti Vamos Bien, kelompok Sol Acik juga menentang segala bentuk eksploitasi yang dilakukan dalam sepak bola dan juga segala bentuk otoritarianisme.
Misalnya, mereka melakukan protes kepada Presiden Fenerbahce, Aziz Yildirim, yang dianggap hanya memikirkan keuntungan pribadinya dalam mengelola klub. Terlebih lagi saat munculnya wacana Passolig.
Pada 28 Mei 2013 terjadilah Gezi Park Movement, yaitu aksi protes terhadap pembangunan replika barak militer Ottoman di Taman Gezi, Istanbul.
Dalam aksi tersebut, para suporter ketiga klub raksasa Istanbul yang satu sama lainnya adalah rival, akhirnya bersatu melawan pemerintah.
Mereka bergabung bersama para demonstran lain mengkritisi rencana pembangunan di atas Taman Gezi. Sebab, Taman Gezi adalah salah satu dari sedikit area terbuka hijau yang tersisa di Istanbul. Di aksi tersebut dikabarkan ada 35 anggota Carsi yang ditangkap.
Sejatinya, persinggungan politik dan sepak bola di Turki sudah terjadi sejak dahulu. Misalnya, Altınordu Kulübü pernah dijadikan “klub nasional” oleh pemerintahan Turki Muda.
Klub tersebut dijadikan sebagai alat propaganda mempromosikan semangat nasionalisme untuk negara Turki baru.
Lalu, Presiden Kenan Evren pada tahun 1981 yang memerintahkan Ankaragücü untuk dipromosikan ke liga teratas. Ataupun yang baru-baru ini hangat diperbincangkan, yaitu Istanbul Basaksehir yang santer dikaitkan dengan Erdogan.
Di Turki, pasca-periode 1980 mulai muncul klub-klub dalam bentuk Belediyespor, atau klub sepak bola kota.
Klub seperti Istanbul Büyüksehir Belediyespor (kini berubah menjadi Istanbul Basaksehir) dan Ankaraspor, hingga kini ini tetap dikelola oleh pemerintah kota, dan biasanya oleh wali kota sendiri.
Dalam kasus lain, ada beberapa klub yang secara tidak resmi diambil alih oleh pemerintah kota, seperti Gaziantepspor, Kayserispor, dan Kocaelispor.
Pada 1997 saja, jumlah klub sepak bola “profesional” yang dikendalikan oleh pemerintah kota ada 29 klub.
*Penulis adalah seorang penikmat sepak bola yang tertarik dengan hal-hal yang membangun sepak bola dari luar lapangan. Bisa disapa di akun Twitter @valkenbach