Berita Eropa

Mogok Main, Besiktas Dieliminasi dari Piala Turki

Dalam leg kedua babak semifinal Piala Turki yang memanggungkan laga panas berupa Derbi Istanbul antara Besiktas dan Fenerbahce tanggal 19 April yang lalu, sebuah peristiwa mengejutkan terjadi di atas lapangan. Pelatih Besiktas, Senol Gunes, mendapat lemparan benda asing dari tribun penonton di Stadion Sukru Saracoglu, kandang Fenerbahce, ketika laga memasuki menit ke-57.

Kejadian nahas itu sendiri memaksa wasit yang memimpin jalannya laga menghentikan pertandingan. Mengacu pada situasi tersebut, federasi sepak bola Turki (TFF) lantas mengumumkan kepada publik bahwa laga ulang akan diselenggarakan pada tanggal 4 Mei tanpa dihadiri penonton.

Walau demikian, kubu Kara Kartallar (nickname Besiktas) tidak sepakat dengan keputusan TFF itu dan menyebut bahwa para pemegang kekuasaan condong berpihak kepada Sari Kanaryalar (julukan Fenerbahce). Besiktas merasa bahwa pihaknya patut diganjar kemenangan otomatis sehingga berhak lolos ke final seraya menyebut jikalau peristiwa yang terjadi di Stadion Sukru Saracoglu lalu adalah ketidakbecusan Fenerbahce dalam mengantisipasi segala hal buruk yang mungkin terjadi setiap kali derbi Istanbul diselenggarakan.

Sebagai bentuk protes terhadap keputusan TFF yang ingin memanggungkan laga ulang, Besiktas memilih untuk tidak datang ke kandang sang rival bebuyutan alias mogok main. Padahal, di saat yang bersamaan skuat Fenerbahce sudah berada di stadion. Akibat pemogokan yang ditunaikan Ricardo Quaresma dan kolega, mereka pun diberi hukuman cukup berat oleh TFF yang diumumkan Sabtu (5/5) kemarin melalui laman resminya.

Pertama, dieliminasi dari semifinal Piala Turki musim ini yang artinya memberi jalan kepada Martin Skrtel dan kawan-kawan untuk melenggang ke final. Kedua, dilarang ikut serta di ajang Piala Turki pada musim 2018/2019 mendatang.

Munculnya sanksi di atas justru mendidihkan kepala para suporter Kara Kartallar yang mendukung langkah pemogokan tim kesayangannya. Suporter yang dikenal sebagai kelompok anti-kemapanan itu lantas menuding bahwa pihak Sari Kanaryalar menjadi dalang di balik hukuman tak seimbang yang didapat masing-masing kubu.