Seiring dengan pergantian pelatih dari Vicente Del Bosque kepada Carlos Quieiroz, Los Galacticos hanya sempat merengkuh Piala Super Spanyol 2003 sebelum akhirnya melempem dan selalu gigit jari selama tiga musim beruntun. Bahkan, pada musim 2003/2004 Real Madrid harus bercokol di urutan empat klasemen La Liga.
Bergabungnya pilar megabintang baru seperti Michael Owen (dari Liverpool), Robinho (Santos), dan Antonio Cassano (AS Roma) tidak mengubah kebuntuan. Madrid terus tertatih. Di kancah Eropa, selama tiga musim terakhir (2003-2006), mereka gagal mencapai semi-final dan bahkan dua kali tumbang lebih dini di perdelapan final (2004/2005 dan 2005/2006).
Lebih menyakitkan lagi, pada masa kelam tersebut, dewi fortuna seolah berpihak pada rival abadi mereka, FC Barcelona. Di bawah determinasi jogo bonito-nya Ronaldinho, Blaugrana sukses mengumpulkan dua trofi La Liga (2004/2005 dan 2005/2006) dan satu mahkota Liga Champions (2005/2006).
Fakta antiklimaks inilah yang membuat Perez kelimpungan dengan proyek Los Galacticos perdananya, sehingga ia akhirnya memutuskan untuk mundur dari jabatannya pada 28 Februari 2006.
Pergantian Pelatih, Biang Keladi Antiklimaks Prestasi Galacticos Pertama
Ditinjau secara baik-baik, sebetulnya ada satu faktor penting yang menyebabkan kegagalan proyek Galacticos edisi pertama. Faktor tersebut terletak pada pergantian pelatih. Perez terbukti lebih sering gagal dalam menyerahkan Real Madrid pada arsitek yang tepat untuk mempersatukan semua bintang yang ada pada timnya.
Pada fase awal, El Real masih sempat mendulang prestasi sebab memang ditangani oleh etrenador yang cakap, Vicente Del Bosque. Tetapi selepas Bosque, Perez justru mempercayakan armadanya pada Carlos Queiroz.
Hanya punya reputasi tertinggi sebagai asisten manajer Sir Alex Ferguson di Manchester United, akhirnya Queiroz pun gagal total sebelum diberhentikan pada akhir musim 2003/2004.
Selanjutnya menjadi hal yang miris dalam sejarah kepelatihan Real Madrid. Hanya dalam dua musim (2004-2006), Perez bergonta-ganti empat pelatih. Jose Antonio Camacho dilantik mengganti Queiroz pada 1 Juni 2004, namun mantan pelatih timnas Spanyol tersebut hanya berkantor di Bernabeu selama 120 hari.
Posisi krusial tersebut hanya diisi dengan seorang caretaker bernama Mariano Garcia Remon. Prestasi Los Merengues tak kunjung membaik sehingga dalam waktu singkat pelatih asal Brazil, Vanderlei Luxemburgo segera ditunjuk pada akhir 2004.
Di bawah besutan Luxemburgo, peforma Los Galacticos toh tetap sama saja dan lagi-lagi Perez kesulitan mencari pelatih handal. Ia hanya menaikkan pangkat Juan Ramon Lopez Caro dari Real Madrid Castilla untuk mengganti Luxemburgo sampai El Real betul-betul hanya menjadi pecundang hingga akhir masa jabatan Perez.
Pasca kemunduran Perez, Ramon Calderon yang didaulat sebagai presiden baru pada awal musim 2006/2007 mendatangkan pelatih kawakan Fabio Capello dari Juventus. Dan rupanya inilah yang membuat keadaan berubah.
Peran Capello sangat dominan terhadap keberhasilan Madrid mengakhiri paceklik dengan gelar La Liga pada musim itu.
Perhatian terhadap posisi pelatih nampaknya menjadi bahan evaluasi penting bagi seorang Florentino Perez sehingga hasil yang diperolehnya pada proyek Galacticos keduanya (sejak 2009) sangat berbeda.
Setelah Manuel Pelegrini gagal total pada musim pertama periode ini, tak tanggung-tanggung Perez langsung mendatangkan The Special One, Jose Mourinho, yang kemudian mampu mengangkat peforma Real Madrid ke jalur juara.
Selepas Mourinho, eksistensi Los Galacticos tidak terlepas dari nama-nama pelatih legendaris dan handal semisal Carlo Ancelotti hingga Zinedine Zidane sekarang ini. Karenanya, Los Galacticos saat ini tidak mengalami grafis antiklimaks seperti terjadi pada edisi perdana.
Penulis adalah seorang Madridista asal Flores- NTT. Bisa dijumpai di akun Twitter @RoymundN