Sementara Materazzi, malam itu ia telah menciptakan dongengnya sendiri. Dalam drama adu penalti, ia sukses menceploskan bola sebagai penendang kedua.
Sementara penendang kedua Prancis, David Trezeguet (yang tertawa lebar di pinggir lapangan saat menyaksikan gol Zidane), gagal membobol gawang Buffon setelah tendangannya membentur mistar.
Nama Marco Materazzi sebelumnya memang tidak setenar Franco Baresi, Paolo Maldini, atau Alessandro Nesta. Tapi malam itu menjadi pembuktian dirinya, meski menghalalkan segala cara untuk menang.
Nama dan “dada”-nya akan selalu dikenang sejarah. Saya teringat sebuah narasi menarik dalam film dokumenter Piala Dunia 2006 ketika ia berhasil mengeksekusi penalti di babak tos-tosan.
“Ini pertandingan hebat bagi Materazzi. Ia membuat Prancis mendapatkan hadiah penalti, mencetak gol pembuat seri, terlibat dalam pengusiran Zidane, dan mencetak gol dalam drama adu penalti.”
Malam itu di Berlin, Materazzi dan Italia menjadi juara dunia!
*Penulis adalah seorang Cules yang terlatih tabah saat tim kesayangannya menjadi korban comeback di Liga Champions. Bisa disapa di akun Facebook Monteiro Van Halle