Suara Pembaca

Mengenang Kejayaan The Magnificent Seven Serie A

Bagi anak-anak, atau remaja era tahun 90-an dan memasuki era milenium baru tahun 2000-an, pasti ingat betul betapa seksinya Liga Italia atau yang familiar disebut Serie A. Inilah liga terbaik di masanya dan menjadi tujuan bintang sepak bola dunia sebagai barometer puncak karier seorang pemain, yaitu bermain di Italia.

Di Indonesia, dulu Serie A ditayangkan langsung oleh televisi swasta pertama di Indonesia sebagai tontonan favorit pencinta sepak bola di akhir pekan. Setiap minggu penonton disuguhkan laga-laga menarik dan dramatis ala Liga Italia.

Lalu jika kita telat atau tidak sempat menonton langsung, kita bisa menyaksikan cuplikan laga di program highlight sepak bola yaitu Planet Football yang dibawakan oleh legendanya presenter olahraga Indonesia, “Dik Doank”. Program ini dapat membantu kita untuk mengetahui info menarik tentang sepak bola dalam sepekan.

Saya tumbuh dewasa dengan kejayaan klub-klub Italia dengan kemapanan finansial klub, yang mampu bersaing dalam bursa transfer tanpa ada kesenjangan yang terlalu jauh. Beda seperti era sekarang di mana Juventus sangat superior dalam segi finansial dan materi pemain.

Baca juga: Si Nyonya Tua yang Tak Lagi Tua

Seakan klub Serie A lainnya telah pasrah untuk mengejar dan menyerahkan scudetto kepada Juventus. Persaingan menuju gelar juara hanya mampu dilakukan oleh Napoli yang di era 90-an menjadi klub semenjana sejak berakhirnya era keemasan Diego Maradona, dan kini bangkit menjadi kekuatan baru yang diperhitungkan di peta juara Serie A.

Tetapi menurut saya, Napoli sebenarnya hanya menjadi “pengganggu” untuk memperlambat scudetto jatuh ke tangan Juventus. Terlihat saat Juventus telah menjuarai Serie A 2018/2019 dengan selisih poin yang sangat mencolok.

Kembali ke tema Magnificent Seven of Serie A mungkin anak milenial tidak terlalu mengenal era ini. Ya, inilah era di mana serie A sangat seksi. Semua klub berlomba-lomba mengejar prestasi dan pengakuan dari publik dunia bahwa Serie A adalah surganya para bintang dunia, di mana Juventus, AC Milan, Inter Milan, Lazio, AS Roma, Parma, dan Fiorentina bersaing menjadi yang terbaik di serie A.

Lewat artikel ini saya akan mengajak kalian bernostalgia singkat dengan membahas klub-klub anggota Magnificent Seven of Serie A.

Baca juga: Andreas Guglielminpietro: Sekali Berarti Lalu Mati

Juventus

Inilah Juventus yang bisa mengangkat trofi Liga Champions terakhirnya, dan tentu anda akan ingat juru transfer hebat mereka, Luciano Moggi, dan keluarga Agnelli. Striker kelas dunia silih berganti datang dan pergi menandakan kehebatan Serie A saat itu, seperti era Viali, Ravanelli, Roberto Baggio, hingga digantikan duet legendaris Alessandro Del Piero, Filippo Inzaghi, dan david Trezeguet.

Tentu anda juga harus ingat playmaker ikonik Zinedine Zidane anggota juara dunia 1998. Di lini tengah ada seorang Dino Baggio bergantian dengan Antonio Conte menjaga keseimbangan, dan Ciro Ferrara berduet dengan Paolo Montero mengawal lini belakang.

Untuk posisi kiper, ada portiere timnas Italia, Angelo Peruzzi, hingga Edwin van der Sar dan sang cannon ball Pavel Nedved, bergabung setelah sempat menjuarai Serie A bersama Lazio.

Baca juga: Jatuh Hati pada Pavel Nedved, Sang “Czech Fury”

AC Milan

I Rosonerri yang mulai membangun skuat baru setelah era dream team mereka habis, dari Fabio Capello diteruskan Alberto Zaccheroni membuat sesak bintang bintang dunia di Serie A. Klub mendatangkan bintang dunia Zvonimir Boban, Leonardo, Fernandi Redondo, trio Belanda Marco van Basten, Ruud Gullit, Frank Rijkaard.

Belum lagi legenda Italia seperti Franco Baresi, Paolo Maldini, dan Alessandro Costacurta, dikombinasi dengan pemain pemain bintang era awal 2000-an seperti Dida, Rui Costa, Andrea Pirlo, Kaka, Andriy Shevchenko, dan banyak nama-nama besar lainnya.

Mereka silih berganti datang dan pergi untuk bahu membahu menjuarai Serie A bergantian dengan Juventus dan menjuarai Liga Champions.

Baca juga: Menanti Rocco, Sacchi, dan Ancelotti baru di AC Milan

Javier Zanetti untuk Internazionale

Inter Milan

Klub ini sangat antusias membangun kekuatan dengan mendatangkan Ronaldo Nazario da Lima untuk berduet dengan Ivan Zamorano. Dipimpin oleh Javier Zanetti yang selalu prima, Inter sempat menjuarai Piala UEFA atau sekarang dikenal dengan Liga Europa.

Jangan lupakan juga bintang muda dan pemain kidal khas Amerika Selatan yang jago bola mati, Alvaro Recoba. Di lini tengah ada Di Biaggio, Cristiano Zanetti, untuk menyokong juru gedor yang membawa Atalanta berjaya, Nicola Ventola.

Di bawah asuhan Hector Cuper, I Nerazzurri dua kali meraih runner-up Serie A berturut-turut sebelum calciopoli membawa berkah juara Serie A.

Baca juga: Menengok Keunikan ‘Rumah Inter’ Milik Bung Piepit

AS Roma

Dengan kehebatan skuat juara tahun 2000/2001 yang berisikan striker lokal Vincenzo Montella, Marco Delvecchio, dan bintang masa depan Italia saat itu, si bengal Antonio Cassano, mulai diborbitkan oleh pelatih bertangan dingin Fabio Capello.

Juga tentu saja kita tahu sang pangeran Roma, Francesco Totti, sedang on fire dan di puncak karier ditambah striker yang melegenda bersama Fiorentina, Gabriel Batistuta, rela hengkang untuk mengejar gelar scudetto.

Di lini tengah ada Emerson dan gelandang elegan Damiano Tommasi. Di belakang ada Aldair berduet dengan Walter Samuel mengawal Francesco Antonioli, sukses mengantar scudetto terakhir klub asal ibu kota ini dan satu-satunya yang diraih sang pangeran Roma sebelum pensiun.

Baca juga: AS Roma yang Lebih dari Sekadar Klub ‘Supermarket’

Lazio, Parma, dan Fiorentina

Jangan lupakan Lazio, Parma, dan Fiorentina. Dengan kekuatan uang sang presiden Sergio Cragnotti, Lazio membangun dream team-nya dan memenangkan Serie A dengan bintang dunia Juan Sebastian Veron, Diego Simeone, dan Pavel Nedved sebelum pindah ke Juventus.

Lini pertahanan juga dikawal oleh sang kapten, Alessandro Nesta, berkombinasi dengan Fernando Couto, Nestor Sensini, Paolo Negro, dan attacante kawakan Simone Inzaghi.

Parma pun menembus kemapanan juventus, duo Milan, dan duo tim ibu kota. Mereka berhasil menjuarai dua kali Piala UEFA berbekal bintang dunia, Thomas Brolin, Ariel Ortega, mengorbitkan Hernan Crespo yang berduet bersama Enrico Chiesa.

Di posisi kiper ada pemain muda yang kelak menjadi legenda dunia, yakni Gianluigi buffon, ditambah bek tangguh Lilian Thuram dan Fabio Cannavaro. Parma juga rutin mengorbitkan bintang-bintang baru seperti Adriano, Adrian Mutu dan striker muda Italia awal 2000-an, Alberto Gilardino.

Baca juga: Alberto Gilardino: Dulu Juara Dunia, Kini Pemain Semenjana

Klub terakhir adalah Fiorentina dengan Batigol dan sang maestro, Rui Costa. Kolaborasi mereka berhasil mengantarkan Fiorentina disegani di liga domestik maupun Liga Champions.

Sebagai informasi, piala pertama Roberto Mancini adalah membawa Fiorentina menjuarai Coppa Italia. Keberhasilan tersebut membawa namanya menjadi pelatih sukses sampai saat ini. Tetapi piala ini pun menjadi kesuksesan terakhir klub sebelum mereka menjual pemain bintang karena masalah finansial.

Fiorentina mencoba bangkit dengan mendatangkan striker Portugal yang sedang on fire di Piala Eropa 2000, Nuno Gomes, tetapi tidak sanggup menghindari jeratan degradasi ke Serie B.