Cerita

Lapangan VIJ, Berstandar Internasional dan Mewah Pada Masanya

Akhir pekan lalu Pemda Provinsi DKI Jakarta mengadakan sebuah festival bertajuk 125 Tahun M.H. Thamrin. Festival yang diadakan dua hari, 15-16 Februari adalah sebuah peringatan 125 tahun lahirnya pahlawan asal Jakarta sekaligus tokoh sepak bola ibu kota.

Hari pertama berlokasi di Balai Kota DKI Jakarta. Acara diisi seminar dan diskusi sejarah kisah hidup M.H. Thamrin serta kisah kecintaannya akan sepak bola. Seminar dan diskusi dipandu Kojek Rap Betawi, serta menghadirkan JJ Rizal selaku sejarawan Betawi, juga Abdilah Afif, pemerhati sejarah sepak bola Jakarta dari Abidin-Side. Kemudian di hari kedua acara digelar di Lapangan VIJ, Petojo, Jakarta.

Di Lapangan VIJ, acara diisi pameran foto dengan sub-tema “Sejarah VIJ hingga Persija: MH Thamrin, Politik dan Sepak Bola Kebangsaan”. Juga pertandingan sepak bola persahabatan serta hiburan Gambang Rencak, Orkes Melayu dan kebudayan Betawi lainya.

Dipilihnya Lapangan VIJ tentu bukan tanpa alasan. Lapangan VIJ tidak bisa dipisahkan dari kisah Thamrin. Sekaligus menjadi saksi kecintaannya terhadap VIJ, bond sepak bola yang kemudian hari dikenal dengan nama Persija.

Baca juga: Ini Untuk Jakarta!

Dikisahkan Abdilah Afif pada sesi seminar 125 Tahun M.H. Thamrin, pada Oktober 1930 VIJ melaui pengurusnya, Soeri dan Soeardi melakukan pertemuan dengan Thamrin selaku anggota Volksraad. Sebagai Bond yang baru berdiri, VIJ menyampaikan kebutuhan mendasar akan lapangan milik sendiri.

Sebelumnya, semenjak awal berdiri 1928, VIJ menggunakan Lapangan Brandweer Kazerne untuk memutar kompetisi rutin klub-klub anggotanya. Lapangan Brandweer Kazerne sendiri kini menjadi kantor Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta. Tepatnya di Jl. Kyai H. Zainul Arifin, Jakarta Pusat.

Tanggal 1 Januari 1931 mimpi memiliki lapangan sendiri akhirnya terkabul. Tidak lain dan tidak bukan berkat peran M.H. Thamrin. Thamrin yang dikenal cinta sepak bola tidak ragu mengeluarkan 2000 gulden dari kantong pribadinya.

Dikisahkan Afif dalam kesempatan berbeda, ketika saya dan komunitas Sepakbola Jakarta menemuinya di Lapangan VIJ beberapa tahun lalu, Afif yang ditemani Gerry Putra Anugrah sesama penulis buku Gue Persija menuturkan, 2000 Gulden ini kemudian dipergunakan untuk memangari lahan yang kemudian dikenal sebagai Lapangan VIJ.

Baca juga: Sutanto Tan, Colin Kaepernick, dan Rasisme Struktural

Siang itu di Lapangan VIJ, Afif dan Gery menceritakan bila sebelumnya lapangan ini ada namun kosong begitu saja dan menurut koran-koran zaman dahulu bisa dibilang kawasan ini dikelilingi rawa-rawa.

Menegenai pemilihan lokasi, Abdilah Afif melalui bukunya menyebut VIJ kala itu sulit mencari lapangan di tengah kota. Meski kini kawasan Lapangan VIJ berada di Jakarta Pusat, dulunya daerah tersebut termasuk kawasan pinggiran. Sedangkan lapangan-lapangan di pusat kota telah menjadi milik klub-klub besar lainnya. Termasuk lapangan VIOS yang kelak menjelma jadi Lapangan Menteng di era setelah kemerdekaan.

Selanjutnya Gerry Putra Anugrah menambahkan hal positif dari dipilihnya kawasan Petojo. Baginya kawasan Petojo yang dihuni banyak kaum pribumi menimbulkan semangat nasionalis yang lebih terasa. Lebih jauh Gerry berkisah, Lapangan Petojo atau Lapangan VIJ adalah representatif perlawanan orang-orang pribumi. Dari pinggir akan masuk ke tengah untuk melakukan perlawanan.

JJ Rizal dalam siaran pers 125 Tahun M.H. Thamrin menuliskan, berkat 2000 gulden pemberian Thamrin, Lapangan VIJ menjadi stadion berstandar internasional pertama yang dimiliki bond sepak bola pribumi.

Baca juga: Persija dan Cerita dari Singapura

“Berkat inilah bond sepak bola pribumi pertama kali memiliki stadion sepak bola yang representatif dan berstandar internasional dengan tribun juga ruang makan. Lapangan di Laan Triveli inilah yang menjadi markas VIJ.”

Menariknya, Lapangan VIJ juga pernah menjadi saksi persahabatan dua tokoh besar Indonesia, M.H. Thamrin dan Soekarno. Soekarno  yang baru bebas dari penjara Sukamiskin pada Desember 1931, dijemput langsung oleh Thamrin. Beberapa bulan berselang, pada 16 Mei 1932 Soekarno diminta oleh Thamrin untuk membuka kompetisi PSSI dengan melakukan tendangan pertama pertandingan VIJ melawan PSIM Yogyakarta.

Semua perjalanan sepak bola Jakarta, serta kisah kecintaan M.H. Thamrin akan sepak bola terangkum dalam artefak berwujud lapangan sepak bola di Jl. Petojo VI no. 2 RT 3/6, Cideng, Gambir, Jakarta pusat.

Lapangan kosong yang disulap menjadi stadion sepak bola yang representatif dan berstandar internasional dengan tribun juga ruang makan, yang kini lebih akrab disebut rumah oleh penggila sepak bola Jakarta. Lapangan VIJ.

Baca juga: Lodaya, Lapangan Desa yang Berstandar FIFA