Berita Nasional

Lodaya, Lapangan Desa yang Berstandar FIFA

Sebuah inovasi brilian dilakukan warga desa/kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Melalui dana desa dan bantuan keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, mereka membangun lapangan sepak bola berstandar FIFA, yang diberi nama Lodaya Sakti.

Lapangan Lodaya, demikian namanya kerap disebut, diklaim menggunakan rumput Zoysia Matrella. Rumput tersebut adalah yang terbaik untuk lapangan sepak bola, yang juga digunakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring untuk keperluan Asian Games 2018 lalu.

Baca juga: 4 Stadion Instagram-able di Asia Tenggara

Rumput Zoysia Matrella memang dikenal memiliki ketahanan tinggi, tingkat kerapatan yang bagus, elastisitas yang baik, dan perakarannya sempurna. Dengan karakteristik seperti itu, risiko pemain cedera akibat faktor lapangan dapat dikurangi secara signifikan.

Dibangun seluas 93×54 meter, lapangan Lodaya ditaksir memakan biaya sekitar Rp 1,4 miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk perataan tanah, pengadaan water sprinkle, pemberian pasir, dan pendirian pagar. Untuk biaya perawatan, pemerintah setempat mengalokasikan dana Rp 5 juta per bulan.

Meski sudah bisa digunakan, tapi Lapangan Lodaya masih terus berbenah. Dalam waktu dekat akan dibangun trek lari dan tribun, sehingga semakin lengkap untuk menjadi sarana olahraga warga setempat. Sebab, lapangan ini juga disewakan bagi masyarakat umum, dengan tarif Rp 500 ribu per pertandingan.

“Pembangunan sarana olah raga di desa ini sesuai dengan Permendes Nomor 19 Tahun 2017 tentang Penetapan Prioritas Dana Desa Tahun 2018, dan sudah mendapat persetujuan dari semua unsur masyarakat,” menurut penjelasan dari Kepala Desa Cisayong, Yudi Cahyudin, dikutip dari Tribun Jabar.

Selain menjadi inovasi mutakhir yang langsung viral di dunia maya, lapangan ini juga bisa menjadi sindiran untuk klub-klub papan atas Liga 1. Bagaimana tidak, sebuah desa yang tidak punya klub sepak bola profesional saja bisa memiliki lapangan berstandar FIFA, tapi sebagian klub Liga 1 masih bergantung pada tempat latihan milik pihak ketiga, itupun dengan standar seadanya.