Cerita

Ini Untuk Jakarta!

Ini bukan aksi berjilid-jilid, ini hanya sebuah perayaan juara. Pesertanya pun bukan jutaan umat, hanya sekitar ratusan ribu penggila sepak bola ibu kota. Ratusan ribu orang yang memerahkan jalan nadi Jakarta–Sudirman-Thamrin—hingga ke jantungnya, Balai Kota, bahkan melumpuhkan jalan-jalan sekitarnya.

Jika selama ini seringkali banyak yang mengaku terganggu dengan kemacetan yang timbulkan suporter Persija Jakarta, hari ini semua lebih parah. Hari ini mereka lumpuhkan ibu kota dari berbagai arah. Namun semua serasa pantas untuk perayaan satu gelar juara nan mewah.

Jika selama ini seringkali banyak yang menggerutu dengan ulah mereka naik di atap metromini, hari ini pemain Persija yang mereka puji naik ke atas bus wisata berlantai dua. Para pemain yang menjadi pahlawan kota, lengkap dengan piala juara.

Gelar juara yang 17 tahun dinanti kembali ke ibu kota serupa jawaban untuk semua kritik yang mengarah pada Persija dan pendukung setianya. Klub yang oleh sebagian orang di pandang sebelah mata karena dianggap kering prestasi, kini telah menjawab dengan bukti.

Gelar juara Persija untuk Jakarta. Untuk pendukung setianya, dan untuk orang-orang  yang mungkin lebih sering mengangkat alis ketika klub ini bermain di kandangnya. Juga untuk orang-orang yang menganggap sepak bola lokal tidak layak ditonton karena semua intrik di dalamnya. Gelar juara Persija untuk seluruh penghuni kota.

Baca juga: Antara Persija, The Jak, dan Metromini

Jika selama ini Jakarta familiar dengan dodol betawi, sayur pucung, palang pintu, dan kebudayaan lain, mungkin mulai sekarang Persija dan gelar juara dapat menjadi hal identik untuk Jakarta.

Persija akan memulai langkah mereka

Juara, momentum merubah citra

Kini, dengan 11 gelar juara dan tanpa pernah terdegradasi dari kasta tertinggi, Persija adalah yang terbaik di negeri ini.

Namun jangan terbuai terlalu lama. Persija yang seringkali mendapat pandangan miring, memiliki pekerjaan rumah tidak sedikit untuk merubah segalanya. Pembuktian sebenarnya ada di musim depan. Bahkan mengalihkan fokus pada kompetisi tingkat Asia tidak ada salahnya. Bungkam mereka yang meragukan dengan gelar juara sekali lagi.

Bukan hanya Persija, publik sepak bola Jakarta juga harus merubah citra. Suporter Persija yang tidak jarang dimusuhi di kota sendiri harus segera berbenah. Dalam perlintasan zaman yang semakin berjejal dan bergegas, semua harus berubah dan sedikit banyak menyesuaikan diri.

Baca juga: Aksi Bersih-bersih Jakmania Usai Laga Kontra PS Tira

Jika beberapa tahun lalu naik ke atap metromini dianggap sesuatu yang keren, kini sudah tidak demikian. Jika beberapa tahun lalu ugal-ugalan di jalan masih dapat dimaklumi, kini sudah tidak lagi. Kota Jakarta dan seisinya telah berbeda dan semua orang yang ada di dalamnya harus terus berubah. Termasuk mereka yang mengaku cinta Persija. Demi Jakarta yang lebih Persija, demi Persija dapat menjadi tuan rumah di kotanya.

Akan tetapi jika semua usaha itu tidak ada artinya bagi sebagian orang lainnya, biarkan saja. Pembenci selalu punya alasan sendiri untuk terus membenci. Sebab semua tahu siapa kita, Jakartans.