Cerita

Serba Salah Persija Jakarta di Bawah Mistar Gawang

Jelang Sriwijaya FC vs Persija Jakarta di Go-Jek Liga 1 2018 pekan 15, kubu Macan Kemayoran menghadapi dilema di bawah mistar gawang. Niat hati meraih hasil lebih baik ketika Andritany Ardhiyasa pulih, tapi yang didapat justru blunder yang dilakukan kiper timnas Indonesia itu. Sementara memainkan kiper pelapis juga bukan solusi tepat.

Blunder fatal pertama Andritany usai pulih dari cedera adalah kegagalan mematahkan serangan balik Perseru Serui pada gol kedua. Andritany yang maju keluar dari sarangnya hendak memotong laju bola, tapi ia gagal.

Silvio Escobar pun terbebas, dan menceploskan bola ke gawang kosong. Gol tersebut membuat Persija semakin sulit membalikkan skor karena dicetak pada menit ke-72. Memang ada kesalahan juga dari seorang bek di depannya yang gagal mengintersep umpan lambung Perseru, tapi jika Andritany lebih cermat dalam mengambil keputusan, Escobar mungkin tidak akan menggandakan keunggulan tuan rumah.

Apesnya lagi bagi Andritany, dua menit kemudian ia kembali membuat kesalahan. Tendangan jarak jauh Yohanis Nabar gagal ditepis dengan sempurna, dan bola bergulir meluncur pelan ke gawang Persija. Tiga gol Perseru memimpin, yang membuat gol tendangan bebas Marko Simic di menit 80 hanya jadi hiburan semata.

Berlanjut di pekan 14 ketika Persija menjamu PSM Makassar, Andritany kembali melakukan kesalahan yang sama fatalnya. Sebuah umpan silang PSM di menit 40 memang berhasil dipotongnya, tapi bola justru lepas dari tangkapan. Guy Junior yang berada di dekat Andritany tidak membuang peluang dan mencetak gol pertama PSM malam itu.

Tiga blunder fatal dari dua pertandingan, sesuatu yang sangat bukan Andritany. Bahkan jika gol Persebaya Surabaya dalam laga tunda kontra Persija ikut dihitung, maka sang adik kandung Indra Kahfi sudah melakukan empat kesalahan berujung gol, karena bola tepisan kakinya saat itu tidak “bersih” dari serbuan pemain lawan.

Butuh waktu, tapi…

Kiper memang menjadi salah satu permasalahan pelik Persija musim ini, selain kesibukan mencari kandang. Ketika Andritany cedera, performa dua kiper pengganti yaitu Muhammad Rizky Darmawan dan Daryono sangat mengecewakan, karena identik dengan blunder.

Rizky Darmawan menjadi yang paling berat mendapat cobaan tersebut. Dua blunder, dan dua-duanya di pertandingan Piala AFC 2018 melawan Home United, membuat Persija tersingkir karena kesalahan pemainnya sendiri. Home United memang lebih unggul secara taktikal, tapi jika tidak ada “andil” Rizky Darmawan saat itu, Persija kemungkinan yang akan lolos.

Sementara itu blunder yang dilakukan Daryono terjadi dalam laga kontra Madura United di Go-Jek Liga 1 2018 pekan 8. Stefano ‘Teco’ Cugurra saat itu memainkan Daryono agar Rizky Darmawan bisa beristirahat untuk menghadapi leg kedua lawan Home United, tapi Daryono juga menjadi penentu kekalahan.

Baca juga: Beratnya Rindu Persija Jakarta terhadap Seorang Andritany Ardhiyasa

Sepakan penalti Fabiano Beltrame tidak mampu ditepisnya dengan baik, dan kembali menuju bek tengah Madura United tersebut. Gol! Membuat Persija semakin kesulitan mengembangkan permainan karena menurunkan tim lapis keduanya, dan akhirnya bobol lagi lewat aksi Zah Rahan di menit akhir.

Saat itu banyak orang berpikir tidak ada kiper Persija yang bisa menyamai level Andritany, tapi ketika Andritany bermain, ternyata hasilnya tidak jauh berbeda. Mengapa bisa demikian? Kemungkinan ada faktor waktu.

Waktu, karena Andritany baru saja pulih dari cedera retak tulang hidung yang cukup lama, dan ketika turun lagi ke lapangan, ia menghadapi lawan-lawan yang berat. Perseru dengan serangan balik dan umpan lambungnya, sedangkan PSM datang bertamu dengan membawa hobi mencetak gol lewat umpan silang.

Tiga skema tersebut adalah momok bagi kiper. Untuk membaca serangan balik, umpan lambung, maupun umpan silang, kiper harus punya pengamatan yang baik, pengambilan keputusan yang tepat, yang didukung dengan pengalaman.

Secara jam terbang Andritany memang sarat pengalaman, tapi sebagai pemain yang baru pulih dari cedera panjang, kesiapannya tidak sama dengan rekan-rekannya yang bermain reguler. Jadi yang kita lihat adalah blunder, bukan penyelamatan super.

Sangat merugikan memang, tapi Persija harus sabar menghadapinya. Toh, memainkan kiper pelapis justru semakin meningkatkan potensi kebobolan, juga potensi bagi sang kiper untuk semakin dihujani kritikan.

Untuk saat ini memainkan Andritany masih menjadi pilihan terbaik bagi Persija. Saat melawat ke markas Sriwijaya besok (10/7), kemungkinan Andritany untuk kembali melakukan blunder tetap ada, tapi potensi untuk kembali ke performa terbaik juga ada.

Masalahnya adalah, Andritany akan kembali berhadapan dengan kesebelasan yang gemar mencetak gol dari umpan silang dan sepak pojok. Dua situasi yang membutuhkan kiper memiliki ketepatan waktu untuk memotong bola, dan ketahanan tubuh untuk beradu fisik.