Suara Pembaca

Embrio Kelahiran Total Football dan Masa Depan Ajax

Berlokasi di Johan Cruijff Boulevard 29, Amsterdam, Belanda, sebuah klub sepak bola berdiri megah. 18 Maret 1900, merupakan titimangsa di mana sekelompok orang di ibu kota Belanda itu menciptakan momen bersejarah.

Mereka mendirikan sebuah klub sepak bola kebanggaan negeri kincir angin, Amsterdamsche Football Club Ajax. 

Filosofi penamaan Ajax merujuk pada nama pahlawan dalam cerita mitologi Yunani. Ia aktor penting di balik gelanggang perang Troya.

Sosoknya yang dikenal kuat, pemberani, besar,  berwibawa, dan tidak gentar menghadapi siapa pun, membuat dirinya selalu berjaya di medan perang. 

Dengan segala keagungan dan kemasyhuran itulah, Floris Stempel, Carrel Reeser, serta dua bersaudara Han dan Johan Dade yang merupakan pendiri klub berjuluk De Godenzoonen itu menjadikan Ajax sebagai nama klub yang dirintisnya. 

Ajax pun mulai melaju tumbuh menjadi klub sepak bola yang diperhitungkan di jagat persepakbolaan Eropa.

Puncaknya, kala mereka sukses menyabet gelar fenomenal dengan capaian terbaik hingga kini dalam sejarah klub,  hatrick Liga Champions pada rentang 1971-1973

Tomislav Ivic, mantan manajer Ajax, menyebut era itu sebagai “Gloria Ajax”. 

BACA JUGA: 5 Wonderkid Ajax yang Siap Meledak Musim Ini

Liga Champions Soccer Series edisi 2007, menulis era itu sebagai kemenangan Total Football. Sebuah representasi adiluhung gaya permainan menyerang yang diperagakan Ajax di kancah Eropa kala itu.

Ya, dengan Total Footballnya itu, Ajax era 1970-an bak sebuah legenda. Bukan hanya sekadar dipuji sebagai tim impian, namun juga disebut sebagai tim terhebat Ajax sepanjang masa. Bahkan menjadi hegemoni sepak bola Belanda di Eropa. 

Mendiang Rinus Michels, sang penggagas gaya filosofi permainan itu mengenang, “Kami akhirnya bisa menyejajarkan diri dengan klub-klub besar di Eropa.”

“Sebetulnya bukan saya yang memberi nama Total Football kepada gaya permainan yang kami usung. Pers yang sebenarnya melontarkan istilah itu untuk pertama kalinya.”

Di titimangsa itu pula Total Football yang diperagakan Ajax membawa permainan super menyerang yang sanggup menggulingkan dominasi Catenaccio ala Italia.

Sebuah sistem permainan yang mengutamakan pertahanan gerendel dan memanfaatkan serangan balik.

Catenaccio pertama kali diterapkan Helenio Herrera kala membawa Inter menjuarai Piala Champions dua kali berturut-turut musim 1963/1964 dan 1964/1965. 

Pada 31 Mei 1972, Total Football harus berhadapan dengan Catenaccio di partai final Piala Champions.

Di hadapan ribuan penonton yang memadati Stadion Fyenoord Rotterdam, dua tradisi besar filosofi sepak bola itu menarik atensi publik.

Pasalnya, Ajax yang mengusung permainan Total Football yang super menyerang, ditakdirkan melawan Inter yang moncer dengan Catenaccio-nya yang super bertahan.   

Alhasil, pertahanan gerendel yang sempat menakutkan itu tak mampu menahan gempuran Total Football. I Nerazzurri harus mengakui kedigdayaan dua gol tanpa balas De Godenzoonen.

Dua gol kemenangan itu, semuanya berhasil dicetak sang kapten sekaligus legenda Ajax, Johan Cruyff. Kemenangan itu pun sanggup mengantarkan Ajax meraih gelar kedua Piala Champions musim 1971/1972. 

BACA JUGA: Lassina Traore, Si Pemborong 5 Gol Ajax

Di musim itu Johan Cruyff sukses menjadi top skor dengan torehan  lima gol bersanding dengan Antal Dunai (Ujpesti Dozsa), Luigi Macari (Glasgow Celtic), dan Sylvester Takac (Standard Liege).

Meski ditinggal sang penemu bakatnya, Rinus Michels, kesuksesan Cruyff bersama Ajax di bawah kepelatihan Stefan Kovacs di Piala Champions 1971/1972 berhasil membuktikan bahwa dirinya bisa mengimplementasikan Total Football dengan pembuktian yang cukup prestisius. 

Selain trofi Piala Champions 1971/1972, bersama Ajax, Cruyff berhasil menahbiskan dirinya sebagai orang ketiga yang mampu mengangkat trofi Piala Champions baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih, setelah Miguel Munoz (Real Madrid) dan Giovanni Trapattoni.

Sebagai pelatih, Cruyff sukses di Liga Champions bersama FC Barcelona musim 1991/1992. 

Sang otak utama di balik Total Football

Semua bermula dari sini. Dari sebuah kegelisahan Rinus Michels kala kesulitan menerapkan filosofi temuannya itu.

Embrio kebesaran Ajax bersama Total Football-nya sebenarnya sudah teretas sejak musim 1966/1967. Sayangnya, meski Total Football sanggup mengantarkan Ajax ke final Piala Champions 1968/1969, namun harus mengakui kedigdayaan AC Milan di partai final dengan skor 1-4 untuk kemenangan I Rossoneri. 

Berawal dari situlah, Rinus Michels memeras otak agar Total Football-nya terimplementasi dengan baik.

Michels akhirnya sadar bahwa ia membutuhkan seorang suksesor di lapangan. Memasukkan Johan Cruyff ke tim senior Ajax sejak 1964 merupakan titik awal kesuksesannya.

Michels berkeyakinan bahwa Cruyff merupakan pemain yang tepat.

BACA JUGA: Memori Keabadian Johan Cruyff

Cruyff yang digadang ampuh menerapkan filosofi itu memiliki kemampuan menyerang dengan daya jelajah tinggi ditambah kemampuan individualnya yang mumpuni.

Potensi individu yang pas dengan sistem permainan Ajax. 

Tak hanya dari penilaian seorang Michels, publik pun mengakui  bahwa Cruyff merupakan dirigen permainan utama Ajax.

“Cruyff adalah Total Football itu sendiri. Jika Ajax tak memiliki Cruyff, sepak bola total tak pernah akan muncul.”

“Dia adalah dirigen yang mampu mengorganisir pemain untuk memainkan seluruh ‘notasi’ dalam sepak bola total secara sempurna,” Seperti ditulis Ifhof.com. 

Puncaknya tatkala Piala Champions 1972/1973, Cruyff masih menjadi inspirasi dalam menerapkan Totall Football .

Ia yang kembali menjadi kapten  sanggup memimpin rekan-rekannya menjuarai Piala Champions musim itu untuk kali ketiga.

Di partai final, ia berhasil menaklukkan Juventus yang saat itu diperkuat pemain berkaliber di atas rata-rata seperti Fabio Capello, Dino Zoff, dan Roberto Bettega. Trofi masih di Amsterdam. 

Jiwa Cruyff dalam akademi Ajax

Gen Johan Cruyff setidaknya harus benar-benar tersublim di inti permainan Ajax sekarang. Pasca terdepak dari Liga Champions musim ini, pelatih Eric Teen Hag kudu berpikir keras untuk mencari otak utama gaya permainan Ajax. Tentu saja ini merupakan ikhtiar investasi masa depan Ajax. 

Cruyff suatu kali pernah bilang “Bermain sepak bola sangat sederhana, tetapi memainkannya dengan cara sederhana adalah yang tersulit.

Ucapan Cruyff itu terejawantah melalui gaya permainan Total Football yang sederhana. 

Ajax memang minim dihuni pemain bintang. Tapi pemain bintang potensial banyak dilahirkan oleh Ajax.

BACA JUGA: Marc Overmars: Si Pelari Kencang

Sederet pemain bintang era 1990-an kala De Godenzoonen dibesut Louis van Gaal seperti Edgar Davids, Clarence Seedorf, Patrick Kluivert, Marc Overmars, Frank Rijkaard, dan Danny Blind sanggup membawa Ajax juara Liga Champions musim 1994/1995. 

Narasi kejayaan Ajax hampir  terulang jika saja di leg kedua semi-final Liga Champions 2018/2019 tidak terkalahkan oleh Tottenham Hotspur.

Ajax yang sudah unggul 2-0 di leg ke-1 terpaksa harus mengakui kedigdayaan Spurs melalui hattrick Lucas Moura di leg ke-2.

Meski gagal melaju ke babak final, Ajax saat itu dihuni pemain muda potensial;  Franky De Jong (kini di FC Barcelona), Donny Van De Beek (Manchester United), Mathijs De Light (Juventus), Sergino Dest (FC Barcelona), Hakim Ziyech (Chelsea), dkk

Kepergian mereka menandakan bahwa Ajax akan terus mereproduksi pemain muda berbakat jebolan akademi.

Ajax tak perlu khawatir soal masa depan kekurangan pemain. Ajax memiliki Akademi Ajax yang dapat memberi harapan masa depan sepak bola bagi pemain muda.

Mereka terus digembleng dalam suasana latihan yang kondusif. Ada empat hal yang diutamakan dalam pengembangan akademi Ajax, empat hal itu dilansir dari Ajax Online dikenal dengan TIPS: Technique, Insight, Personality, and Speed.

Sebuah perpaduan antara teknik, wawasan, kepribadian, dan kecepatan. Empat itu, mampu membentuk para pemain muda jebolan akademi memiliki integritas yang tinggi terhadap dunia sepak bola. 

Selain itu, di setiap latihan pun selalu memiliki 8 bahan utama; latihan koordinasi; menendang, mengoper, lemparan ke dalam; pergerakan untuk melewati lawan; sundulan; penyelesaian akhir; position play; position game play; small sided games.

BACA JUGA: Sepak Bola akan Baik-baik Saja Seperti Kata Bob Marley

Komponen-komponen itu bertujuan untuk membentuk karakter bermain mereka  di lapangan.  

Masa depan Ajax terbentuk melalui pembentukan karakter pemain muda baik di luar maupun di dalam lapangan. Inilah warisan adiluhung Johan Cruyff yang sangat berharga.

Cruyff meninggalkan secercah sinar di kota Amsterdam. Sinar itu menyinari akademi Ajax. Ajax kecipratan sinar Cruyff.

Ajax telah memiliki segalanya.  Tinggal bagaimana mereka lebih menginternalisasi gaya Total Football seperti yang Cruyff lakukan. 

Cruyff tidak hanya sekedar ikon kemasyhuran Ajax, tapi ia atma adiluhung sepak bola bagi Ajax. Mengembangkan gaya Total Football berarti berusaha menggapai sinar itu, sinar yang akan mengubah Ajax menjadi pemandu pemain muda potensial untuk investasi masa depan sepak bola.

BACA JUGA: Menyaksikan Langsung Pesta Juara Ajax

*Penulis menikmati Ajax sebagai representasi kesukaan pada filosofi tiki- taka Barcelona. Dapat dijumpai di akun Twitter @ghufronistjr21