Eropa

4 Klub Eropa Yang Performanya Menurun Sejak Jeda Pandemik Berakhir

Sejak jeda pandemik berakhir dan kompetisi sepak bola di Eropa kembali digulirkan tetap saja drama tak bisa hilang dari lapangan hijau. Lihat bagaimana Real Madrid tiba-tiba bangkit dan keluar sebagai juara LaLiga, di tempat lain perjalanan Liverpool dan Bayern Muenchen ke tangga juara Liga Primer dan Bundesliga pun tidak semudah yang dibayangkan.

Memang berat untuk diakui namun jeda pandemik dalam kompetisi sepak bola di Eropa sedikit banyak mempengaruhi performa tim. Ibarat sebuah kendaraan yang melaju kencang, rem mendadak yang dilakukan beberapa klub justru membahayakan keselamatan mereka sendiri terlebih bagi yang berada dalam pacuan gelar.

Tak terkecuali untuk empat klub Eropa yang performa menurun sejak jeda pandemik berakhir dan kompetisi kembali digulirkan. Alih-alih berprestasi lebih mereka justru menyelesaikan liga dengan posisi kurang menguntungkan. Menariknya keempat klub ini kebetulan sama-sama menjadikan warna biru sebagai warna kebesarannya. Siapa saja mereka?

BACA JUGA: 2 Mei: Dilly Ding Dilly Dong dan Dongeng Leicester City Pun Lahir

BACA JUGA: Getafe, Klub ‘Butiran Debu’ yang Memburu Jatah ke Liga Europa

Tak ada Cinderella Story lagi, Leicester

Sebelum pandemik COVID-19 menyerang The Foxes bersaing memperebutkan satu jatah ke Liga Champions di bawah Liverpool dan Manchester City, namun kini performa mereka kian melempem dengan 2 kemenangan saja dari sembilan laga terakhir. Berada di posisi kelima, laga kontra Manchester United Minggu (26/7) malam WIB besok jadi taruhannya jika mereka ingin menembus Eropa lagi.

Sebelum pandemik: Main 25 gim, memperoleh 1,48 poin, mencetak 1,32 gol, dan kebobolan 1,44 gol per laga.
Setelah pandemik: Main 9 gim, memperoleh 0,22 poin, mencetak 0,56 gol, dan kebobolan 2,44 gol per laga.

Foto: Juniper Sports

Terjun Bebas Getafe

Hanya sekali menang dari 11 laga pasca jeda pandemik, Getafe yang tadinya berada di peringkat keempat LaLiga terjun bebas ke posisi 8 klasemen akhir. Padahal mereka merupakan salah satu tim dengan pertahanan terbaik, jumlah kebobolan 37 kali di musim 2019/2020 bahkan lebih baik dari runner-up liga, Barcelona.

Sebelum pandemik: Main 27 gim, memperoleh 1,70 poin, mencetak 1,37 gol, dan kebobolan 0,93 gol per laga.
Setelah pandemik: Main 11 gim, memperoleh 0,73 poin, mencetak 0,55 gol, dan kebobolan 1,09 gol per laga.

Foto: Olt News

Setelah jeda pandemik musim buruk Schalke 04 dimulai

Dihancurkan 4-0 oleh sang rival di Riever Derby di awal "New Normal Bundesliga" Schalke bahkan tak mampu menang dalam 9 laga sisa dimana tujuh diantaranya adalah kekalahan. Mengamankan posisi keenam sebelum jeda, anak asuh David Wagner bahkan harus puas mengakhiri Bundesliga di posisi ke-12.

Sebelum pandemik: Main 25 gim, memperoleh 1,48 poin, mencetak 1,32 gol, dan kebobolan 1,44 gol per laga.
Setelah pandemik: Main 9 gim, memperoleh 0,22 poin, mencetak 0,56 gol, dan kebobolan 2,44 gol per laga.

Foto: The Telegraph

Nasib Nahas Lazio

Di antara klub lainnya di daftar ini nasib si Biru dari Italia ini terbilang nahas, terlihat dari statistik yang ada di bawah ini. Lazio berubah dari pesaing terdekat Juventus, dengan selisih satu poin sebelum jeda pandemik menjadi pesakitan yang kini nangkring di posisi keempat yang sudah kalah 5 kali sejak Serie A bergulir lagi. Menjalani tiga laga sisa dan gelar juara bukan lagi jadi soal, kini Lazio hanya sekadar memperbaiki statistik hingga akhir musim saja.

Sebelum pandemik: Main 26 gim, memperoleh 2,38 poin, mencetak 2,31 gol, dan kebobolan 0,88 gol per laga.
Setelah pandemik: Main 9 gim, memperoleh 1,11 poin, mencetak 1,22 gol, dan kebobolan 1,67 gol per laga.

Foto: ESPN