Suara Pembaca

Persiraja: Gairah yang Kembali Membuncah di Ujung Sumatera

Satu dekade terakhir, sepak bola Sumatera seolah memasuki era terburuknya dalam sejarah sepak bola Indonesia. Klub-klub besar dari Sumatera seperti PSMS Medan, Semen Padang, Sriwijaya FC, dan PSPS Pekanbaru begitu kesulitan bersaing dengan klub-klub dari pulau lainnya.

Dalam rentang waktu tersebut, sepak bola Sumatera tercatat hanya dua kali menjadi “raja” di Liga Indonesia. Prestasi itu diraih oleh Sriwijaya FC pada gelaran Indonesia Super League (ISL) 2011/2012, serta Semen Padang di Indonesia Premier League (IPL) pada tahun yang sama, saat dualisme liga terjadi di republik ini.

Selain di tahun tersebut, praktis klub-klub asal Sumatera hanya mampu mencatatkan diri sebagai kontestan biasa. Catatan buruk 10 tahun terakhir klub-klub Sumatera mencapai titik kulminasinya di akhir tahun lalu.

Setelah Sriwijaya FC, PSPS Pekanbaru, dan PSMS Medan yang sudah lebih dulu turun ke Liga 2, akhir musim lalu giliran Badak Lampung FC dan Semen Padang yang menyusul tiga “senior”-nya untuk bermain di kasta kedua musim ini.

Untungnya, sontekan dari seorang pemain bernama Assanur Rijal, memastikan tetap ada satu wakil sepak bola Sumatera di Liga 1 2020.

Sontekan yang bukan saja mengubur mimpi Sriwijaya FC untuk kembali berlaga di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, tetapi menjadi pertanda sepak bola ujung Sumatera yang kembali bergairah lewat Persiraja Banda Aceh.

BACA JUGA: Secercah Harapan untuk Stadion Harapan Bangsa

25 November 2019, akan dikenang sebagai momen yang sangat berkesan bagi seluruh masyarakat Aceh. Teriakan “Liga 1, Liga 1, Persiraja Liga 1” tidak hanya menggema di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, pada saat itu, tapi menerobos semua warung kopi, rumah makan, dan seluruh rumah warga yang ada di Aceh.

Penantian lima tahun para Skull (suporter Persiraja) untuk melihat tim kesayangannya kembali berlaga di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, akhirnya berhasil terwujud juga. Euforia dan harapan yang membubung tinggi pun mulai menggelora. Maklum, Laskar Rencong terakhir kali meraih gelar juara di era Perserikatan pada tahun 1980. 

Tentu saja perjalanan Persiraja untuk mengulang kembali memori juara 40 tahun silam tidaklah mudah. Menurut Ismed Sofyan, “Persiraja harus mempersiapkan tim sebaik mungkin karena Liga 1 ini berbeda dengan Liga 2”.

Pemain Persija Jakarta berdarah Aceh ini juga berharap, “Persiraja harus konsisten bermain baik, supaya jangan hanya numpang lewat saja di Liga 1 2020”.

BACA JUGA: Ismed Sofyan, 40 Tahun dan Terus Berlari

Bali United yang menjadi juara Liga 1 musim lalu dapat menjadi contoh nyata bagi Persiraja, tentang bagaimana kombinasi antara persiapan klub yang matang dan permainan yang konsisten, dapat mengantarkan mereka merebut gelar juara pertamanya. 

Lalu, apakah Persiraja akan numpang lewat saja di comeback-nya kali ini? Seharusnya tidak. Optimisme harusnya dimiliki oleh seluruh Skull dan masyarakat Aceh jika menilik keseriusan manajemen dalam mengelola tim ini, serta motivasi para pemain untuk bisa bertahan di Liga 1.

Dari sisi manajemen, para Skull sudah tidak perlu meragukan keseriusan sosok bernama Nazaruddin Dek Gam. Pria berusia 38 tahun ini, merupakan Presiden Persiraja yang menjadi aktor penting dari prestasi yang berhasil diraih klub yang akan bermarkas di Stadion Harapan Bangsa ini.

Wali kota Banda Aceh, Aminullah Usman, bahkan tidak segan melabeli Dek Gam dengan sebutan “Dimurthala Baru”. Dimurthala sendiri merupakan sosok penting keberhasilan Persiraja dalam meraih juara di tahun 1980.

Pernyataan Aminullah dirasa tidak berlebihan, jika melihat bagaimana sosok Dek Gam membangun tim ini dimulai dari tiga tahun lalu, saat ia memutuskan untuk mengakusisi seluruh saham tim Lantak Laju di tahun 2017. 

Dek Gam membangun kembali tim kesayangan masyarakat Aceh ini tatkala mereka terseok-seok kekurangan dana untuk menjalani kompetisi, dan menggaji para pemain. Bahkan, minat penonton untuk datang ke stadion juga sudah berkurang.

Berkat tangan dinginnya dalam mengelola klub, Dek Gam membuat Persiraja menjelma jadi sebuah klub dengan manajemen profesional.

Ia memastikan tidak ada gaji atau bonus pemain yang tertunggak, mencari donatur dengan cara bekerja sama dengan pemerintah maupun perusahaan-perusahaan besar di Aceh, hingga membuat kanal komunikasi terbuka dan beragam (situs web dan media sosial) untuk menampung saran dan kritik dari para suporter dan masyarakat Aceh.

“Kami ingin kebangkitan sepak bola Aceh kembali bergairah, dan sekarang sudah berhasil kami buktikan. Persiraja sudah menjaga marwah sepak bola Aceh. Sangat besar harapan masyarakat Aceh begitu Persiraja masuk ke Liga 1, 80 persen rakyat Aceh pasti senang dengan keberhasilan ini,” ungkapnya.

Melalui pengelolaan klub yang profesional tersebut, staf pelatih dan para pemain akan lebih fokus dan tenang dalam setiap laga yang dilakoni, sehingga Persiraja dapat menjadi tim yang solid, dan bertahan di kasta teratas sepak bola Indonesia. 

Lalu, motivasi tinggi dari para pemain menjadi faktor lain yang dipercaya dapat membuat Persiraja tidak akan “numpang lewat” saja di musim ini. Keberhasilan Persiraja dalam mengarungi Liga 2 di musim lalu tak lepas dari motivasi dan semangat juang para pemain yang begitu besar.

Dek Gam dan manajemen tim percaya, motivasi dan semangat besar tersebut dipicu oleh beberapa pemain asli Aceh yang menginginkan klub ini terus menang dan juara.

Semangat besar yang dimiliki oleh Defri Rizki, Mudassir, Aulia Rachmat, Muklis Nakata, Luthfi Fauzi, hingga Ferry Sandria sebagai putra asli Aceh, seolah menular ke pemain lainnya di musim lalu.

BACA JUGA: 5 Transfer Terheboh di Liga 1 Musim Ini

Kepercayaan akan motivasi tinggi yang dimiliki para pemain lokal Aceh, nampaknya akan tetap dipercaya manajemen sebagai faktor penting yang dapat membuat Persiraja bertahan di Liga 1 2020. Hal tersebut terlihat dari langkah transfer manajemen dalam memulangkan beberapa nama putra daerah di bursa transfer awal musim ini.

Miftahul Hamdi, Feri Komul, dan Nazarul Fahmi merupakan tiga pemuda asli Aceh yang sudah berhasil “dipulangkan” ke Tanah Rencong.

Beberapa putra Aceh lainnya masih tetap diburu oleh manajemen sebelum bursa transfer resmi ditutup pada 10 Maret 2020 mendatang.

Pemain-pemain asli Aceh ini diharapkan dapat mengulang sukses yang sama seperti di musim lalu, dengan bahu membahu bersama beberapa amunisi yang baru didatangkan, seperti Muhammad Kassim Slamat, Bruno Dybal, Samir Ayass, Vanderlei Fransisco, dan Adam Mitter. 

Dalam waktu kurang dari dua minggu lagi, Persiraja akan berlaga lagi kasta sepak bola tertinggi negeri ini. Sebagai satu-satunya wakil dari Sumatera yang tersisa, Persiraja jelas tidak ingin hanya numpang lewat saja.

Melalui pengelolaan klub yang profesional dan motivasi tinggi dari para pemain, sepak bola ujung Sumatera bersiap untuk kembali bergairah.

Meski datang dari ujung Sumatera, mereka pantang dipandang sebelah mata. Sebab, anak-anak Persiraja percaya “ana saket geutob ngon rincong, leubeh saket geungieng ngon iku mata”.

BACA JUGA: Dirumorkan ke Persib, 5 Bintang Ini Justru Batal ke Bandung!

BACA JUGA: Awas, Pak Polisi Semakin Bertaji!

BACA JUGA: 5 Bintang Garuda Select yang Berpeluang Masuk Timnas Senior Indonesia

 

*Penulis adalah abdi negara yang cinta sepak bola Italia. Bisa disapa di akun twitter @abietsaputra