Cerita

Ante Rebic, Si Congkak Penuh Determinasi

Sepak bola kadang berkebalikan dengan kehidupan sehari-hari. Kalau di keseharian kita menemui orang yang congkak, besar kemungkinan dia dijauhi. Tapi di sepak bola, itu belum tentu terjadi. Contohnya adalah Ante Rebic.

Congkaknya Rebic terlihat dari perkataannya di bursa transfer musim panas 2018/2019. Saat itu ia dikaitkan dengan tiga klub sekaligus, yaitu Tottenham, Sevilla, dan Manchester United. Ini didapatnya berkat performa impresif di Piala Dunia 2018.

“Aku sangat senang mendengarnya, dan membaca berapa banyak pelatih serta klub besar yang menanyakanku. Sejujurnya, aku merasa pantas mendapatkannya,” ucap Rebic, dikutip dari calciomercato.com.

“Aku bermain bagus di Piala Dunia dan bahkan bermain lebih baik di Eintracht (Frankfurt). Ya, aku tahu ada tawaran nyata, dan aku terus berhubungan dengan agenku.”

“Aku senang aku bisa membuktikan ke semua orang kalau kalian bisa mengandalkanku,” sambungnya.

Dari petikan wawancara itu, terlihat bagaimana Rebic menyikapi rumor transfer yang mengelilinginya. Ia merasa jemawa, sangat bangga dengan pencapaiannya, dan merasa pantas naik kelas. Padahal, waktu itu dia baru sampai tahap bermain bagus, belum menjadi juara sepenuhnya.

Ya memang ada trofi DFB -Pokal yang diraihnya di akhir musim 2017/2018 bersama Frankfurt, dan dia menyumbang dua gol di final. Tapi melawan Bayern Muenchen yang sedang pincang sampai harus memanggil lagi Jupp Heynckes dari masa pensiunnya, bukanlah sebuah kemenangan yang hakiki.

BACA JUGA: Jupp Heynckes, Pria Pemenang Legendaris dari Mönchengladbach

Niko Kovac, yang pernah menangani Rebic semasa di Frankfurt, juga mengakui pemain asal Kroasia itu punya kepribadian yang rumit.

“Banyak yang bilang dia (Rebic) punya karakter yang sulit dipahami dan menyusahkan, tapi sebenarnya Ante orang yang sangat baik, pria yang ramah,” ungkap Kovac di situsweb resmi Bundesliga.

Pun di Piala Dunia 2018, lampu sorot cuma sekali mengarah ke Rebic, saat tendangan voli kaki kanannya merobek jala Argentina di fase grup. Memang indah, tapi itu tidak akan terjadi kalau Willy Caballero tidak membuat kesalahan bodoh seperti kiper amatir.

Sebagai pemain di tim finalis, Rebic kalah pamor dari Luka Modric, Ivan Rakitic, Ivan Perisic, dan Mario Mandzukic. Walau juga memiliki peranan penting, Rebic tak ubahnya bayangan yang menguntit di belakang rekan-rekannya di lini serang.

Kalau mereka main bagus, nama Rebic ikut terangkat. Sebaliknya, kalau mereka bapuk semua, Rebic bukan tipikal pemain yang bisa one-man show menyelamatkan tim seorang diri.

Tapi karena dari dasarnya Rebic ini pemain yang tipikalnya keras, dari situlah jiwa pantang menyerahnya dipupuk. Determinasinya tinggi, dan punya daya juang luar biasa di lapangan. Itu dibuktikannya dalam dua laga terakhir AC Milan.

BACA JUGA: AC Milan Bangkit Bermodal Pemain Cadangan

Pahlawan dari bangku cadangan

Rebic yang sinarnya meredup usai menerima pinangan AC Milan sebagai pemain pinjaman, mendadak bercahaya terang lagi di dua giornata terakhir. Dia adalah pahlawan kemenangan, walau bukan berstatus pemain inti.

Di giornata 20 Minggu (19/1) lalu, Rebic jadi bintang lapangan dengan sepasang golnya ke gawang Udinese. Gol pertama menyamakan kedudukan, dan gol kedua adalah penentu kemenangan di menit akhir. Milan menang dramatis 3-2.

Kemudian di giornata 21 dini hari tadi (25/1), pemain berusia 26 tahun ini jadi pahlawan lagi. Gol tunggalnya di menit 71 lawan Brescia memastikan I Rossoneri meraup tiga kemenangan beruntun di Serie A. Empat malahan, kalau Coppa Italia juga dihitung.

Nama Rebic naik lagi. Dia yang awalnya cuma penghangat bangku cadangan dan hanya menghabiskan waktu memandangi Hakan Calhanoglu kehabisan ide, mendapatkan sentuhan terbaiknya lagi. Dalam formasi 4-4-2 racikan Stefano Pioli, tak ada yang mengira Rebic justru bisa dimaksimalkan.

Di Frankfurt, kemampuan Rebic berkembang maksimal dalam formasi 3-4-1-2. Ia membentuk trisula maut bersama Luka Jovic dan Sebastien Haller. Ketiganya mengoleksi total 31 gol di musim 2017/2018, dan berperan di 36 dari 39 gol Frankfurt, baik dari asis ataupun gol.

Rebic sendiri menyumbang enam gol dan tiga asis saat itu, dari 25 penampilan. Jumlahnya meningkat di musim berikutnya. Sembilan gol dan empat asis dari 28 pertandingan Bundesliga.

BACA JUGA: Kroasia dan Prestasi Gemilang di Bidang Olahraga

Sementara di timnas Kroasia saat melawan Rusia di Piala Dunia 2018, Rebic yang diplot jadi pemain sayap di formasi 4-2-3-1 mencatatkan statitik sebagai pemain kedua dengan jumlah dribel terbanyak selama 120 menit. Ia berada tepat di bawah Luka Modric.

Daya juangnya sangat luar biasa. Di laga sebelumnya kontra Denmark di babak 16 besar, Rebic juga bermain 120 menit. Tidak banyak pemain sayap yang masih kuat menjelajah sisi lapangan selama dua jam pertandingan, di dua laga beruntun yang berdekatan harinya.

Determinasi tinggi inilah yang membuat Rebic terus bangkit, walau berulang kali terjatuh. Dia sempat gagal di Fiorentina dan Hellas Verona, juga tidak berkembang di RB Leipzig. Hingga kemudian, meroket bersama Frankfurt dan tampil cemerlang di Rusia pertengahan tahun 2018.

Jatuh bangun bukan hal yang asing di kehidupan Rebic, si congkak dari Split, Kroasia. Sekarang tinggal bagaimana dia menjaga konsistensi performanya di Milan yang sedang menanjak.

Apakah bisa dipertahankan bahkan ditingkatkan, atau justru menguap begitu saja karena saking jemawanya.