Analisis

Memilih Antara Luis Milla dan Shin Tae-yong Tak Semudah yang Dipikirkan

Teka-teki pelatih anyar timnas senior Indonesia belum menemui titik terang. Meski mengerucut ke dua nama, Luis Milla dan Shin Tae-yong, pergantian nakhoda tak semudah yang dipikirkan publik.

Dari dua nama yang belakangan digemborkan ada banyak pertimbangan. Memilih sosok familiar yang masih memiliki luka lama atau beralih ke wajah baru yang buta dengan kekuatan tim.

Sayangnya di tengah pergantian nakhoda, suasana ruang ganti Garuda bermasalah. Simon McMenemy merajuk usai mengetahui dirinya tak lagi menjadi pelatih kepala timnas senior.

Meski akhirnya berangkat ke Malaysia dengan embel-embel supervisor, Yeyen Tumena yang didapuk sebagai pengganti tak mampu membawa Indonesia menang di Bukit Jalil. Harimau Malaya menerkam Garuda dengan dwigol yang dicetak Safawi Rasid.

BACA JUGA: Andil Besar Rahmad Darmawan di Karier Safawi Rasid

PSSI latah sebut nama Luis Milla dan Shin Tae-yong

Luis Milla memang menjadi kesayangan publik lapangan hijau Indonesia, setelah sang entrenador berhasil membawa timnas U-23 ke babak 16 besar cabor sepak bola putra di Asian Games 2018. Eks gelandang Barcelona dan Real Madrid tersebut mampu menerapkan gaya bermain tiki-taka yang nyetel dengan permainan Evan Dimas cs. dan tak heran namanya selalu dielu-elukan bahkan setelah kepergiannya.

Federasi yang tak memperpanjang kontraknya pun menjadi kambing hitam atas jebloknya penampilan timnas di beberapa ajang seperti Piala AFF 2018 bersama Bima Sakti, dan kualifikasi Piala Dunia 2022 serta Piala Asia 2023 bersama Simon McMenemy.

Sementara itu, nama Shin Tae-yong mencuat ke permukaan publik atas usul orang nomor satu PSSI yang baru saja terpilih, Mochamad Iriawan.

Sebelum Ketum PSSI periode 2019-2023 ini menyebut nama eks pelatih Seongnam Ilhwa tersebut, beberapa anggota Exco berseliweran mengungkapkan niat menggunakan pelatih Asia dari Jepang atau Korea Selatan untuk melatih tim senior, yang selama ini tampil loyo di bawah pelatih asal Eropa. Selain karena kedekatan kultur yang tak jauh berbeda, beberapa tim di Asia Tenggara memang menggunakan jasa pelatih Jepang dan Korea Selatan.

Sebut saja Vietnam yang menjuarai Piala AFF 2018 lalu dengan Park Hang-seo di balik kemudi, atau Kamboja yang mempekerjakan Keisuke Honda sebagai pelatih kepala.

BACA JUGA: Petualangan Baru Keisuke Honda di Vitesse

Keputusan Indonesia untuk meniru tren ini bahkan sempat dijadikan bahan bercanda oleh media Vietnam karena setelah ikut meminang Alfred Riedl, kini Indonesia dicap kembali mengikuti formula kejayaan Golden Dragons dengan (mungkin) merekrut pelatih asal Korea Selatan.

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan atau yang akrab disapa Iwan Bule, saat ditemui oleh Football Tribe Indonesia di kualifikasi Piala Asia U-19 di Stadion Madya beberapa waktu lalu  memberikan gambaran bagaimana proses pemilihan pelatih kepala hingga mengerucut menjadi dua nama, Luis Milla dan Shin Tae-yong.

“Untuk pengganti, ada dua nama, pelatih Korea Selatan (Shin Tae-yong) dan Luis Milla. Tapi nanti akan ada nama-nama lain yang masuk pada bulan November karena masih terikat kontrak dengan tim lain. Kemudian kami juga nanti akan meminta masukan dari pelatih nasional yang di mana nama-nama calon pelatih baru akan melakukan assessment mungkin semacam meminta penjelasan pola bermain, sehingga nanti mengerucut ke satu nama,” ujar pria yang juga pernah menjabat Pelaksana Tugas Gubernur Jawa Barat tahun lalu.

Tak tanggung-tanggung, saking latahnya menyebut Luis Milla dan Shin Tae-yong, situs resmi PSSI bahkan ikut membuat artikel yang memberikan spekulasi masa depan pelatih timnas usai pemberhentian Simon McMenemy. Dalam artikel berjudul PSSI Ganti Simon McMenemy terdapat kalimat:

“Beberapa nama pelatih masuk dalam pantauan, seperti mantan pelatih tim nasional Korea Selatan, Shin Tae Yong. Selain itu juga ada Luis Milla yang kembali diusulkan.”

Jelas hal ini cukup menarik mengingat sebagai akun resmi federasi seharusnya berita yang disampaikan haruslah lugas, tegas dan bersifat final bukan bersifat spekulatif.

BACA JUGA: Suporter, Jalankan Saja Tugas Kalian!

Melatih Indonesia (seolah) tugas adiluhung

Namun di balik keputusan mendatangkan pelatih baru, ada yang menarik dari proses pemilihan pelatih kepala baru hingga mengerucut ke dua nama: Luis Milla dan Shin Tae-yong.

Pasalnya keduanya terlebih dulu harus memaparkan program kerjanya sebelum benar-benar dikontrak PSSI untuk menangani timnas senior yang dalam jangka pendek setahun ke depan menuntaskan tiga laga tersisa di kualifikasi Piala Dunia 2022 dan Piala Asia 2023, serta Piala AFF 2020.

Menariknya menurut Mahir Pradana penulis buku Home & Away: Kaki-Kaki yang Bergerak Mencapai Impian, kedua pelatih yang sudah punya rekam jejak kelas atas seharusnya tak perlu lagi diadu, memaparkan visi-misinya, seolah pekerjaan menangani negara dengan peringkat ke-171 FIFA ini adalah pekerjaan yang paling bergengsi di dunia.

Lantas jika alasannya PSSI ingin pola permainan yang diandalkan kedua pelatih harus sejalan dengan produk kebanggaan mereka, Filanesia, ataupun paling tidak memiliki karakter yang sama dengan permainan sepak bola Indonesia pada umumnya, mengapa tidak mengontrak pelatih lokal untuk menangani timnas di sisa laga kualifikasi tahun depan?

Sebut saja nama Seto Nurdiantoro (PSS Sleman) dan Rachmad Darmawan (PS TIRA-Persikabo) yang sempat mencuat ke permukaan. Opsi lain juga dapat mencoba pelatih asing yang sudah lama berkarier di Indonesia seperti Jacksen F. Tiago (Persipura Jayapura) atau Mario Gomes (Borneo FC) misalnya.

Tapi bisa saja karena alasan ini PSSI condong memilih sosok familiar yang masih memiliki luka lama yakni Luis Milla, daripada beralih ke wajah baru yang buta dengan kekuatan tim, Shin Tae-yong.

Namun baru-baru ini ternyata memilih di antara keduanya bukan perkara mudah, apalagi bagi federasi yang dikenal agak sensitif soal “hitung-hitungan.” Sebab, gaji Tae-yong sedikit lebih terjangkau dibanding Milla yang sudah pernah menjuarai Piala Eropa U-21 bersama David de Gea, Ander Herrera, dan sejumlah bintang lainnya.

Saat tulisan ini dibuat Shin Tae-yong sudah bertemu dengan Iwan Bule, Iwan Budianto, dan Ratu Tisha di Malaysia pada Selasa (19/11) malam. Pelatih berusia 49 tahun tersebut dikabarkan sudah memaparkan visi-misi selama kurang lebih dua jam.

Sementara itu Iwan Bule menolak bertemu asisten Luis Milla yang dikirim sang entrenador. Iwan bersikukuh untuk tetap bertatap muka dengan Milla.

Pertemuan Milla dan pihak PSSI rencananya akan diadakan sekitar tanggal 22 atau 24 November, maka setelahnya kemungkinan di antara Luis Milla dan Shin Tae-yong akan menjadi nahkoda baru Garuda.

Siapa yang akan terpilih?