Suara Pembaca

Hegemoni Sepak Bola Jepang di Era Heisei

Saya menulis tulisan ini pada awal Agustus sembari mengingat peristiwa besar yang terjadi di awal bulan kedelapan ini: Bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Mungkin jika dua kota tersebut tidak dijatuhi bom atom, serangan udara Tokyo pada tahun 1942 akan lebih dikenang. Atau bisa jadi jika bom atom tidak dijatuhkan, perang akan terus berlanjut dan entah berapa banyak pesawat Ohka¸ pesawat berbahan kayu bertenaga roket yang dibuat khusus untuk misi bunuh diri Kamikaze, diproduksi untuk menambah panjang daftar tentara Jepang yang gugur untuk dikenang di Kuil Yasukuni.

Mungkin juga, jika Hiroshima dan Nagasaki tidak luluh lantak akibat bom atom, status saya saat ini bukan WNI, melainkan Warga Negara Asia Timur Raya.

Jepang menyerah kalah. Perang Dunia II, bencana paling mengerikan pada abad 20 itu pun berakhir. Jalan hidup negara Jepang pun berubah, dari fasis dan totaliter menjadi lebih demokratis, namun tidak melupakan semangat Bushido mereka.

Setelahnya, Jepang menjadi negara maju dan memimpin dunia. Namun, era Showa yang gemilang pasca-hancur lebur akibat perang, berakhir ketika Ketua Sekretariat Kabinet Jepang, Keizo Obuchi, pada 7 Januari 1989 mengumumkan dimulainya era baru yakni era Heisei, setelah sebelumnya Shoichi Fujimori, Kepala Rumah Tangga Kekaisaran mengumumkan berita duka, Kaisar Hirohito telah mangkat akibat penyakit kanker yang diderita. Akihito, putra tertua Kaisar Hirohito, naik tahta menggantikan ayahanda sebagai Kaisar Jepang. 

Baca juga: Ko Itakura, Bek Muda Jepang Milik Manchester City

Heisei yang bermakna damai, ternyata tidak damai-damai amat bagi Jepang. Khususnya bagi perekonomian mereka. Gelembung ekonomi yang terjadi akibat ekses ditandatanganinya Perjanjian Plaza di New York pada tahun 1985. Meski gelembung ekonomi sudah terasa pada era Showa, namun dampaknya makin terasa pada era Heisei.

Ekonomi Jepang mengalami stagnansi, dan Jepang harus merelakan singgasananya sebagai penguasa ekonomi Asia pada Cina, negara yang pada Perang Dunia II menjadi ladang pembantaian, dan harus menyaksikan dengan pahit ketika Korea Selatan, tetangga di semenanjung yang pada tahun 1960-an adalah salah satu negara miskin di dunia, berhasil mengalami kemajuan dengan pesat.

Keadaan diperparah dengan datangnya bencana alam. Dua di antaranya masuk dalam kategori bencana alam besar: Gempa bumi di Jepang Barat pada 1995 dan gempa bumi yang mengakibatkan tsunami di bagian Tohoku pada 2011.

Belum lagi gangguan kemanan dalam negeri yang terusik akibat ulah para anggota sekte hari kiamat Aum Shinrikyo, lewat serangan gas sarin di beberapa stasiun kereta bawah tanah Tokyo pada 20 Maret 1995, yang menewaskan 14 orang dan mengakibatkan ribuan orang mengalami gangguan penglihatan.

Baca juga: Kosuke Nakamachi, Gelandang Jepang di Liga Afrika

Era Heisei mungkin kelam bagi perekonomian Jepang, namun tidak bagi sepak bolanya. Pada era Heisei inilah sepak bola Jepang bangkit. Pada era Showa, sepak bola Jepang berada pada level semenjana. Persis dengan apa yang terjadi pada Manchester United usai era Sir Alex Ferguson.

Jika prestasi tertinggi The Red Devils pada level Eropa setelah ditinggal Sir Alex hanya berupa juara Liga Europa, kejuaraan kelas dua antarklub benua biru, maka prestasi tertinggi Jepang di era Showa hanyalah berupa medali perunggu pada Olimpiade 1968 di Meksiko.

Pada era Showa, klub sepak bola masih dikelola amatir, persis seperti apa yang dilakukan petinggi Manchester United sekarang ini. Maka tak salah jika ada yang mengatakan Yasuhiko Okudera datang ke Jerman dengan status amatiran.

Yasuhiko Okudera memang berhasil membawa FC Koeln meraih gelar ganda, juara Bundesliga dan DFB Pokal di musim 1977, musim pertama Okudera merasakan kompetisi liga di Eropa. Selanjutnya praktis tidak ada lagi pemain yang bersinar seperti Okudera di Eropa pada era Showa.


Jepang hanya mengirim “wakil” berupa nama sponsor di jersey klub-klub Eropa.  Ini mengingatkan saya akan petinggi Manchester United yang hanya memikirkan keuangan klub dibanding prestasi dengan lebih giat mendatangkan sponsor ketimbang pemain berkualitas. 

Di era Heisei, Jepang berhasil menjadi juara Asia sebanyak 4 kali, runner-up Piala Konfederasi 2001, dan tidak pernah absen tampil di Piala Dunia sejak 1998. Kegemilangan Jepang dimulai di Hiroshima, kota yang hancur lebur akibat bom atom.

8 November 1992 akan selalu dikenang masyarakat Jepang. Untuk pertama kalinya Jepang menjadi juara Asia, meski di rumah sendiri. Umur era Heisei saat itu masih 3 tahun 7 bulan. Segera setelah berhasil menjadi jawara Asia, langkah selanjutnya adalah pembenahan kompetisi, dan lahirlah apa yang kita semua kenal dengan nama J.League yang sampai sekarang ini masuk dalam salah satu kompetisi sepak bola terbaik di Asia. 

Pembenahan kompetisi berdampak positif. Layaknya budaya pop Jepang yang mendunia di era Heisei, pemain Jepang pun mulai dilirik klub-klub Eropa. Meski sebelumnya ada nama Kazuyoshi Miura yang malang melintang di klub-klub Eropa mulai dari Genoa kemudian menyebrangi Laut Adriatik dan bermain bersama Croatia Zagreb, namun prestasi King Kazu, julukan Miura, terbilang biasa saja.

Baca juga: Kaki Renta Kazuyoshi Miura yang Masih Berlari

Seringnya Miura berganti klub mengingatkan saya akan koas yang berganti stase. Bulan ini di stase bedah, 6 bulan kemudian pindah stase anak. Baru setelah Piala Dunia 1998, pemain Jepang yang berkualitas mulai dikenal dunia. 

Jika ada pemain Jepang yang mewakili kegemilangan sepak bola di era Heisei, maka Shinji Kagawa orangnya. Bukan Hidetoshi Nakata, Shunsuke Nakamura, Shinji Ono, Makoto Hasebe, atau Keisuke Honda. Tidak seperti mereka, yang sebenarnya punya prestasi mengilap, Shinji Kagawa lahir di era Heisei.

Kagawa lahir 17 Maret 1989, memang hanya beberapa bulan setelah era Heisei dimulai, tapi Kagawa berhasil menaklukkan dua kompetisi top Eropa: Bundesliga dan Liga Primer Inggris. Kagawa berhasil membawa Dortmund menjadi jawara Bundesliga pada musim pertamanya, mengikuti jejak Okudera dan Hasebe. Musim berikutnya, yang merupakan musim terakhirnya bersama Dortmund, Kagawa kembali mengantarkan Dortmund menjadi juara.

Baca juga: Mengapresiasi Mentalitas Bertanding Timnas U-19 Jepang

Musim 2012, Kagawa bergabung bersama Manchester United dan meraih titel ke-20. Shinji 1 – Gerrard nil. Meski kemudian kembali ke Dortmund dan kemudian dipinjamkan ke Besiktas, Kagawa adalah representasi kegemilangan Jepang di era Heisei.

Tanpa Kagawa, Jepang akan kesulitan meraih gelar juara pada ajang Piala Asia 2011. Sekadar pengingat, musim 2015 ada samurai dengan nama Shinji juga, namun berbeda marga, yakni Okazaki yang berhasil membawa Leicester juara liga domestik. Shinji 2 – Gerrard nil.

Era Heisei, layaknya era Showa, kini sudah berakhir. Era yang baru bernama Reiwa sudah dimulai sejak Mei kemarin. Kagawa dan kolega gagal memberi perpisahan yang manis bagi era Heisei setelah dikalahkan Qatar di final Piala Asia 2019, namun Olimpiade 2020 di Tokyo bisa jadi awal pembuka jalan kegemilangan Jepang di era Reiwa. Mungkin bisa melebihi era Heisei.

Menarik ditunggu.

 

*Penulis adalah seorang karyawan yang percaya cinta pada pandangan pertama itu ada setelah melihat Manchester United dan Erika Ikuta. Bisa ditemui di akun Twitter @adithya86530_d