Eropa Prancis

Florian Thauvin dan Revitalisasi Kariernya di Marseille

Ada seorang pesepak bola berumur 22 tahun, berasal dari negeri sepak bola besar seperti Prancis, merantau di kompetisi terpopuler dan penuh tekanan seperti Liga Primer Inggris, dan di pundaknya menempel status sebagai “penerus” Franck Ribery. Jikalau Anda yang menjadi pesepak bola dengan deskripsi tersebut, beban berat atau justru tantangan yang dirasa? Seperti itulah kiranya yang terjadi pada Florian Thauvin, dua musim lalu.

Dirinya memberanikan diri pindah dari klub yang membuat namanya besar, Marseille, untuk menerima pinangan dari salah satu klub asal Inggris, Newcastle United di awal musim 2015/2016.

Transfer sebesar 15 juta paun menjadi pemulus langkah Thauvin ke St James’ Park, markas Newcastle. Saat itu klub tersebut memang sedang gencar membangun wajah baru di bawah pelatih Steve McClaren dan Thauvin disebut sebagai salah satu pembelian terbaik saat itu.

Tidak lain dan tidak bukan, memang karena sejak masih belia Thauvin sudah menunjukkan bakat besarnya. Dia peraih anugerah pemain muda terbaik di kompetisi Prancis musim 2012/2013 versi persatuan pesepak bola profesional Prancis (UNFP), ketika bermain untuk klub kecil Bastia.

Pendar sinarnya pada usia 20 tahunitu, membuat Marseille kepincut dan merekrutnya. Di klub berakronim I’OM itu, permainan Thauvin semakin matang. Apalagi, dia tergolong pemain spesial karena mampu bermain di beberapa posisi, mulai dari sayap kiri, kanan, gelandang serang tengah, dan bahkan penyerang.

Selain bagus di level klub, Thauvin juga merebak di timnas junior Prancis pada turnamen Piala Dunia U-20 tahun 2013. Saat itu Prancis diisi oleh pemain-pemain yang kelak diramalkan bakal menjadi andalan masa depan Les Blues seperti Paul Pogba, Samuel Umtiti, Lucas Digne, Kourt Zouma, dan tentunya Thauvin itu sendiri.

Di kompetisi muda antarnegara dunia itu, dia menjadi winger andalan timnya. Momen terbaik Thauvin adalah ketika menjadi protagonis dengan memborong dua gol pada semifinal kontra Ghana. Akhirnya tim yang dikapteni Paul Pogba itu menjadi jawara setelah menekuk Uruguay dalam adu penalti di final.

Reputasinya semakin syahdu selepas menjadi juara Piala Dunia U-20 tahun 2013 di yang digelar Turki itu. Bersama Paul Pogba dan Alphonse Areola, dia digadang-gadang menjadi aset masa depan sepak bola negerinya Napoleon Bonaparte.

Beriringan dengan memikatnya performa Thauvin di Marseille dan skuat muda timnas Prancis, makin banyak tawaran masuk dan ke Newcastle-lah dia berlabuh. Selain pengalaman luar biasa yang bisa ia panen di Inggris, banyaknya pemain asal Prancis di klub bernama lain The Magpies itu tentu membuat Thauvin sudi bergabung.

Tetapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Florian Thauvin kesulitan beradaptasi dengan apa yang ada sepak bola Britania. Dia gagal unjuk diri. Sebenarnya, bukan karena ia tak mampu bermain cepat dengan intensistas tinggi khas Inggris. Dia hanya merasa tidak cocok dengan mayoritas hal yang di sana. Mulai dari sepak bola “fisik”, budaya, bahasa, cuaca, dan bahkan makanannya.

Pada petualangan pertamanya di Newcastle (2015/2016), dia cuma bertahan setengah musim saja dengan total membuat 16 penampilan di segala kompetisi. Sesuatu yang bisa dikatakan tidak buruk untuk rookie di Liga Primer. Tetapi usut punya usut, meski tetap mampu bermain dengan lumayan baik, Thauvin memang tidak betah sama sekali di Inggris.

Dikutip dari chroniclelive.co.uk, dia mengatakan “Saya masih muda, Saya berusia 22 tahun. Pada usia itu, Anda meninggalkan negara Anda, Anda menemukan budaya baru, bahasa baru, liga baru, makanannya tidak sama. Ini rumit, tapi itu adalah hal yang bisa membantu Anda tumbuh dewasa”.

Selain itu, Thauvin juga menambahkan alasan lain dia pergi ke Inggris, pemain bertinggi 179 sentimeter itu berkata “Itu (transfer ke Newcastle) terlalu dini untuk Saya. Ini adalah transfer yang terjadi dengan cepat. Biasanya, Anda meluangkan waktu Anda, Anda memikirkannya, tapi bagi Saya itu semua terjadi terlalu cepat selepas kepergian Marcelo Bielsa”. Ternyata faktor kepergian Bielsa juga berdampak pada kepergian Thauvin.

Setelah setengah musim yang tak membuatnya tidak kerasan, dia menghabiskan sisa musim 2015/2016 dengan kembali ke Marseille via skema pinjaman. Di sana dia menemukan kembali kesenangan dalam bermain. Mungkin, Thauvin bisa saja kita sebut sebagai pesepak bola “jago kandang”, yang enggan atau malas merangkai karier di luar negeri. Tetapi, keputusan Thauvin untuk pulang kampung terbukti jitu. Thauvin sendiri berhasil dipermanenkan awal musim ini oleh Marseille dengan biaya 11 juta euro.

Di Marseille, dia berhasil merevitalisasi kariernya yang “sedikit padam” di Inggris. Dia kembali menjadi andalan dan idola publik Stade Velodrome, markas Marseille. Musim lalu bahkan dia selalu dimainkan di setiap pertandingan liga (38). Musim ini, dia pun masih diandalkan oleh pelatih Rudi Garcia di lini depan bersama kapten Dimitri Payet dan Kostas Mitroglou.

Penampilan gemilangnya semenjak kembali ke Marseille, membuatnya menuai pemanggilan ke skuat senior timnas Prancis pertama kalinya, kala melawan Luksemburg di Kualifikasi Piala Dunia 2018. Bisa menyeruak di tengah persaingan ketat lini depan Prancis yang diisi oleh Kylian Mbappe, Alexandre Lacazette, Anthony Martial, atau Antoine Griezmann, tentu merupakan kalau ada sesuatu yang spesial dari pemain kidal ini.

Lain daripada itu, revitalisasi karier Thauvin di Marseille setidaknya membuat ekspektasi besar publik Prancis tidak meleset padanya. Karena beberapa kali pemain muda, terutama yang berposisi alami sebagai sayap, selalu dibanding-bandingkan dengan Franck Ribery, Samir Nasri, atau bahkan Hatem Ben Arfa. Di antara mereka yang gagal karena harapan tinggi itu adalah Younes Belhanda dan Remy Cabella.

Kini, di usia ke-24, sudah saatnya Thauvin mekar, bagai sebenar-benarnya mekar bunga di musim semi. Pemain seangkatannya seperti Pogba, Umtiti atau Areola sudah mulai membuktikan diri mampu menunjukkan potensi nyata, yang tidak sekadar habis pada usia muda saja.

Baru-baru ini Thauvin dinobatkan sebagai pemain terbaik Liga Prancis bulan November 2017. Padahal kita tahu sendiri adan nama tenar semacam Neymar, Edinson Cavani, Mbappe, hingga Radamel Falcao di Ligue 1 yang juga tampil dengan performa bagus.

Tentu hal itu menunjukkan kalau Thauvin sudah siap menjemput kembali sinarnya bersama Marseille. Selamat kepada Florian Thauvin, yang berhasil merevitalisasi dirinya kembali menjadi pesepak bola masa depan Prancis.

C’est la vie, Florian!

Author: Haris Chaebar (@chaebar_haris)