Sangat sulit adalah jawaban yang logis dari pertanyaan “Apakah Manchester City mampu menyamai rekor tak terkalahkan Arsenal dalam satu musim?” Musim 2017/2018 masih terlalu pagi, bahkan untuk menyimpulkan bahwa City akan menjadi juara. Namun, melihat performa mereka sampai saat ini, imajinasi liar tersebut tak salah jika tiba-tiba terbersit.
Akhir minggu yang lalu, Manchester City meladeni usaha Arsenal bermain terbuka. Di rumah sendiri, The Citizens menunjukkan bahwa mereka punya banyak cara untuk membongkar berbagai jenis pertahanan lawan. Dan The Gunners memberikan kemudahan itu, ruang yang lega untuk berkreasi dan mencetak gol.
Dari lawan yang bertahan begitu dalam, hingga Arsenal yang sempat menyulitkan. City berhasil menundukkan lawan-lawan seperti itu. Hasil meyakinkan dari setiap laga membantu City duduk nyaman di posisi pertama klasemen sementara Liga Primer Inggris. Dan hingga pekan ke-11, City belum pernah menelan kekalahan.
Dari 11 pertandingan, City mencatatkan 10 kemenangan, satu hasil imbang, dan nol kekalahan. Tim yang diarsiteki Pep Guardiola tersebut berhasil mencetak 38 gol, jauh meninggalkan para rivalnya. City hanya tujuh kali kebobolan. Catatan kemasukan gol tersebut adalah kedua terbaik setelah Manchester United.
Impresif. Adalah satu kata yang bisa digunakan untuk merangkum penampilan City. Mulai dari kerja mereka di jendela transfer musim panas, cara bermain, hingga kerja keras Guardiola mengembalikan performa pemain yang sebelumnya bermain begitu buruk. Jika sudah begitu, mampukah City menghindari kekalahan hingga akhir musim?
Di atas kertas, ada beberapa catatan yang bisa membantu mereka menyandang gelar invincible.
Mudah mencetak gol
Corak Arsenal musim 2003/2004 adalah tentang perayaan sepak bola menyerang. Mereka dinamis, kreatif, dan hampir selalu bisa membuat gol dari banyak situasi. Total 73 gol berhasil Arsenal sarangkan, dengan 26 kali kebobolan. Catatan memasukkan dan kemasukan tersebut adalah yang terbaik di liga saat itu.
Pencetak gol terbanyak Arsenal adalah Thierry Henry dengan catatan 30 gol. Unggul delapan gol dari Alan Shearer di tempat kedua dengan 22 gol. Namun, tak hanya Henry yang begitu tajam. Arsenal terbantu dengan ketajaman Dennis Bergkamp dan lini kedua Arsenal. Terutama kedua sayap mereka, Robert Pires dan Freddie Ljungberg.
Musim ini, City juga tidak masalah dengan urusan mencetak gol. Pun ketika ditahan imbang Everton di bulan Agustus, City berhasil mencetak satu gol. Sergio Aguero menjadi pencetak gol terbanyak dengan delapan lesakan. Jumlah gol Aguero sama dengan jumlah gol yang sudah dicetak Harry Kane.
Dan yang paling menarik, tiga pemain City lainnya masuk dalam daftar pencetak gol terbanyak, yaitu Gabriel Jesus dan Raheem Sterling yang sama-sama mengoleksi tujuh gol, sedangkan Leroy Sane sudah membuat enam gol. Perlu digarisbawahi bahwa baik Gabriel Jesus dan Leroy Sane bukan bagian dari tim utama pada awalnya.
Hal itu menunjukkan bahwa kedalaman skuat City sangat baik. Kerja menjual dan membeli yang sudah dilakukan manajemen City berbuah dengan ranum. Dan kerja keras itu menjadi catatan kedua mengapa City bisa menduplikasi rekor Arsenal.
Kedalaman skuat
Kedalaman skuat tidak hanya soal punya banyak pemain di bangku cadangan. Kedalaman skuat juga berkaitan dengan kualitas yang terjaga bahkan ketika lebih dari tiga pemain inti berhalangan hadir. Terutama untuk lini tengah dan depan, Guardiola bisa membongkar pasang pemain dengan lebih leluasa tanpa takut terjadi penurunan kualitas.
Bangku cadangan City berisikan pemain-pemain seperti Gabriel Jesus, Leroy Sane, Bernardo Silva, Ilkay Gündogan, Yaya Toure, Vincent Kompany, Fabian Delph, Danilo, hingga Claudio Bravo. Bahkan, Anda bisa memasukkan nama Phil Folden, remaja berusia 17 tahun dengan potensi besar, dan gaya bermain mirip David Silva.
Baca juga: Phil Folden: Nuansa Cerah Langit Biru Manchester City
Seperti yang sudah disinggung di atas bahwa, kedalaman skuat juga berkaitan dengan kualitas yang terjaga. Ketika Benjamin Mendy cedera, City agak kesulitan untuk mengisi pos bek kiri. Namun, dengan berani, Guardiola mengonversi Delph, seorang gelandang, menjadi bek kiri. Dan hasilnya sangat baik. Delph yang musim lalu performanya anjlok, kini justru menjadi salah satu penampil paling konsisten.
Keberhasilan mengangkat dan menjaga konsistensi performa semua pemain akan menguntungkan City untuk mengarungi musim yang panjang.
Faktor di balik kemudi
Ketika melewati satu musim tanpa kekalahan, Arsenal dilatih Arsene Wenger, yang masih menjabat hingga saat ini, dan menyuguhkan cara bermain yang segar dan revolusioner. Gaya pass and move yang cepat, dipadukan dengan serangan balik yang tajam adalah hal baru di dunia sepak bola Inggris.
Revolusioner, menghadirkan hal baru, sama seperti Wenger, Guardiola juga melakukan hal yang sama. Musim lalu, dengan komposisi pemain yang belum ideal, Guardiola sudah menunjukkan ide besar yang ia inginkan. Juego de posicion, atau boleh disebut positional play, harus diakui masih terasa asing untuk telinga Liga Primer Inggris.
Dengan pendekatan ini, terutama musim ini setelah mendapatkan skuat yang lebih baik, Guardiola menang dengan meyakinkan.
Satu lagi yang juga perlu dicatat adalah Guardiola sudah berpengalaman dengan urusan “pacuan dua kuda”. Di awal musim ini, City dipepet ketat oleh Manchester United. Bahkan, raihan poin keduanya sempat sama. Namun ketika masuk pekan ke-11, City sudah unggul delapan angka atas rival satu kota.
Apa maknanya? Maknanya adalah Guardiola berpengalaman melatih di bawah tekanan kompetisi. Ia tak berusaha sekuat tenaga menjaga performa City. Dengan begitu, ketika tak bisa menjalankan rencananya di atas lapangan, skuat City bisa terhindar dari kekalahan. Misalnya ketika ditahan imbang Wolverhampton Wanderers di ajang Carabao Cup. Pertandingan berlanjut ke adu penalti, dan City masih keluar dari pemenang.
Nah, tiga catatan di atas memang baru sekadar catatan di atas lapangan meski disusun berdasarkan performa City sendiri. Selama pertandingan, banyak variabel yang mungkin akan menjadi penjegal City mengulangi rekor Arsenal.
Namun yang pasti, tak bisa disangkal, meski nanti akhirnya menelan satu atau dua kekalahan, City sudah menunjukkan cara bermain yang “revolusioner” seperti masa-masa bulan madu Wenger bersama Arsenal.
Author: Yamadipati Seno (@arsenalskitchen)
Koki Arsenal’s Kitchen