Suara Pembaca

Dinamika Politik Tiga Raksasa Istanbul

Untuk Fenerbahce bisa dikatakan menarik. Selain letaknya di Asia yang membuatnya berbeda dengan Galatasaray dan Besiktas, banyak tokoh mashyur memproklamirkan diri sebagai fans Fenerbahce.

Politikus seperti Ataturk, Erdogan, hingga sastrawan ternama Orhan Pamuk, menyatakan dirinya adalah fans klub asal Kadıköy ini. Klub ini didirikan tahun 1907 oleh Ziya Songülen, cicit dari Sultan Mahmud II, dengan nama Fenerbahçe Spor Kulübü.

Sedangkan Besiktas Jimnastik Kulübü didirikan pada tahun 1903 sebagai sebuah klub gimnastik. Didirikan di rumah Orhan Pasha oleh anaknya bersama para tetangganya. Mereka ditangkap karena pemerintah Ottoman mengetahui adanya perkumpulan ini.

Namun, karena kebanyakan dari mereka memiliki hubungan dengan elite penguasa dan tidak terbukti bermain sepak bola, mereka dibebaskan. Pada 1910, klub ini baru mendapat pengakuan resmi dan mulai bermain sepak bola.

Selain klubnya yang dikaitkan dengan kekuatan politik tertentu, para suporter Galatasaray, Fenerbahce, dan Besiktas, juga memiliki sikap politik masing-masing.

Ultraslan kelompok suporter Galatasaray yang didirikan tahun 2001, dikenal tidak terlalu frontal dalam menyatakan sikap politiknya.

BACA JUGA: Uniknya Stadion “Kandang Buaya” Milik Bursaspor

Misalnya, meskipun mereka membentangkan spanduk dukungan kepada Palestina, mereka tidak secara frontal menghina kelompok Yahudi. Sebab, mereka mencoba untuk menghindari retorika agama karena tidak semua anggotanya Muslim, tapi mereka juga melawan anggapan bahwa Muslim adalah teroris.

Selain itu, walaupun mereka memegang teguh simbol nasionalisme seperti Ataturk, mereka bukanlah kelompok nasionalisme radikal (fasis) layaknya kelompok ultras nasionalis lain di Eropa. Ultraslan bisa dikatakan sebagai kelompok yang inklusif.

Carsi kelompok suporter Besiktas yang lahir pada tahun 1980. Kredit: Getty Images.

Lalu, ada Carsi sebagai kelompok yang juga bisa dibilang inklusif. Carsi merupakan kelompok suporter Besiktas yang lahir pada tahun 1980. Waktu itu, wilayah Besiktas merupakan wilayah yang heterogen dan didominasi kelompok kiri.

Carsi selalu mencuri perhatian dengan spanduk hitam dengan tulisan putih dan huruf ‘circle A’. Carsi tidak memiliki susunan hierarki, juga tidak memiliki ketua.

Anggota Carsi berasal dari berbagai macam kelompok sosial yakni Muslim, atheis, kelompok kiri, akademisi, buruh, juga kaum minoritas seperti Yahudi dan Armenia.

Carsi melawan segala sesuatu, sesuai slogan mereka Carsi her seye karsi. Mereka menentang rasisme, Islamophobia, fasisme, pornografi anak, kebijakan nuklir, hingga pemanasan global.

Berbeda dengan kedua rivalnya yang terletak di Eropa, tidak ada kelompok suporter yang dominan di Fenerbahce. Namun, yang paling getol bersuara adalah Vamos Bien dan Sol Acik.

BACA JUGA: Caglar Soyuncu, Bek Muda Turki yang Siap Menggebrak Eropa