Turun Minum Serba-Serbi

Usai Jeda Pandemik COVID-19, 4 Klub Eropa Ini Melaju Kencang

Musim 2019/2020 menjadi musim yang berbeda dibanding musim-musim sebelumnya, karena liga-liga top Eropa mendadak terhenti di tengah jalan akibat jeda pandemik COVID-19

Lebih dari dua bulan usai jeda, geliat sepak bola Eropa mulai terlihat kala Bundesliga Jerman menjadi liga pertama di Eropa yang memulai lagi musim mereka, yang kemudian diikuti liga-liga besar Eropa lainnya. 

Mesin-mesin yang telah dingin tiba-tiba dipaksa untuk tarik gas dalam-dalam agar tak luput dari target awal tim.

Tak sedikit tim yang tak siap dengan tampil melempem setelah restart. Hal ini menjadi peluang bagi tim yang sudah siap jauh-jauh hari.

Setidaknya terdapat empat tim Eropa yang tampil ganas maupun semakin superior selepas restart.

BACA JUGA: 4 Klub Eropa Yang Performanya Menurun Sejak Jeda Pandemik Berakhir

BACA JUGA: Redupnya La Masia, Maraknya Transfer Dagelan di Barcelona

AC Milan lupa daratan

Awal musim Milan tampak kacau dengan ditandai bergantinya nakhoda dari Marco Giampaolo kepada Stefano Pioli.

Arah positif sebenarnya sudah terlihat sejak kedatangan Ibrahimovic Januari lalu yang sedikit banyak mengubah mental I Rossoneri. Namun, performa Milan benar-benar menanjak selepas Serie-A kembali dimulai dari jeda pandemik COVID-19. 

Dari 10 pertandingan yang mereka mainkan, Milan mampu meraup 7 kemenangan, 3 hasil imbang dan tak menelan satu kekalahan pun. Yang paling sensasional tentunya kemenangan mereka atas Juventus pada Rabu (8/7) setelah tiga hari sebelumnya mereka juga menggebuk Lazio tiga gol tanpa balas di Olimpico. 

*Sebelum pandemik : Main 26 gim, memperoleh 1,73 poin, mencetak 1 gol, dan kebobolan 1,61 per laga.
*Setelah pandemik : Main 10 gim, memperoleh 2,4 poin, mencetak 2,8 gol, dan kebobolan 1,1 per laga.

F0t0: Twitter @acmilan

Real Madrid langsung melejit

Sebelum LaLiga Spanyol terhenti akibat COVID-19, semua orang setuju jika Barcelona yang akan keluar sebagai kampiun Liga Spanyol. 

Namun, selepas kembali digulirkannya pertandingan, Barca tampak keteteran dan Madrid menghukum mereka dengan berbagai raihan positif yang mereka dapat.

Di akhir kompetisi, tim asuhan Zinedine Zidane mampu merengkuh gelar LaLiga dan merebutnya dari sang juara bertahan, Barcelona. 

*Sebelum pandemik : Main 27 gim, memperoleh 2,07 poin, mencetak 1,88 gol, dan kebobolan 0,77 gol per laga.
*Setelah pandemik : Main 11 gim, memperoleh 2,81 poin, mencetak 1,90 gol, dan kebobolan 0,54 gol per laga.

Bayern Muenchen kembali ke jatidirinya

Sempat saling salip dengan pesaing mereka Borussia Dortmund di awal hingga pertengahan kompetisi, hingga terjadinya pergantian pelatih pada bulan November lalu dari Niko Kovac kepada Hans-Dieter Flick, sudah cukup menunjukkan bahwa Bayern sedanh tidak baik-baik saja. 

Performa The Bavarians meningkat tajam sejak Bundesliga kembali dimainkan pada Mei lalu dengan Lewandowski tampil sebagai pahlawan berkat gol-golnya. Di akhir musim, Bayern tetap menjadi diri mereka sebagai penguasa Jerman seperti yang mereka lakukan 7 tahun terakhir. 

*Sebelum pandemik : Main 25 gim, memperoleh 2,28 poin, mencetak 2,92 gol, dan kebobolan 1,08 per laga.
*Setelah pandemik : Main 9 gim, memperoleh 3 poin, mencetak 3 gol, dan kebobolan 0,66 gol per laga. 

Foto: Getty Images

Bruno Fernandes terbangkan Manchester United 

Kedatangan Bruno Fernandes Januari lalu mengubah kondisi Manchester Merah. Setelah tampil tak konsisten di paruh musim pertama, The Reds Devil menggila di paruh musim kedua.

Usai mentas dari jeda pandemik, penampilan United pun makin melejit. Gelandang Portugal Bruno Fernandes adalah salah satu alasan bagaimana fans United sudah dapat sedikit berharap tim kesayangan mereka akan meraih kegemilangannya lagi dalam waktu dekat. 

*Sebelum pandemik : Main 29 gim, memperoleh 1,58 poin, mencetak 1,51 gol, dan kebobolan 1,03 gol per laga. 
*Setelah pandemik : Main 9 gim, memperoleh 2,33 poin, mencetak 2,44 gol, dan kebobolan 0,66 gol per laga. 

Foto: Getty Images