Suara Pembaca

Seksisme di Sepak Bola, Perkara yang Tiada Habisnya

Kemudian menurut Watson, seksisme dapat digolongkan menjadi:

Old Fashioned Sexism

Asumsi yang berkembang di sini adalah asumsi kuno mengenai perempuan atau laki-laki yang sudah ada sejak zaman dulu, contohnya bahwa laki-laki lebih pintar dari perempuan.

Pemimpin juga harus laki-laki, dan 70 perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi karena pada akhirnya akan berakhir di dapur.

Modern Sexism

Modern sexism muncul dari anggapan bahwa perempuan dan laki-laki sudah setara dan sejajar dalam masyarakat. Oleh karenanya, muncul pandangan bahwa seksisme bukan lagi masalah dan hal-hal yang dilakukan untuk memudahkan perempuan tidak lagi diperlukan.

Seksisme modern mengabarkan fakta bahwa masih ada kasus diskriminasi gender misalkan dalam hal gaji, atau jumlah perempuan yang menjadi wakil di wilayah politik.

BACA JUGA: Mimpi Garuda Pertiwi Berlaga di Piala Dunia

Ambivalent Sexism

Ada dua tipe seksisme ini, yakni hostile dan benevolent. Hostile didasari oleh rasa benci terhadap jenis kelamin tertentu sementara benevolent sexism menganggap bahwa perempuan memiliki moral yang lebih baik dari kaum laki-laki karena itu harus dilindungi dengan baik.