Suara Pembaca

Seksisme di Sepak Bola, Perkara yang Tiada Habisnya

Kemudian, apa itu Sexism In Football?

Sexism In Football atau seksisme dalam sepak bola merupakan suatu paham atau sistem kepercayaan mengusung seksisme di sepak bola.

Seksisme dalam sepak bola sendiri sudah ada sejak zaman dahulu, namun beberapa waktu yang lalu menjadi viral atau trending topic kembali ketika ada pemain dari tim Liga 1 Putri yang mengalami perlakuan seksis dari suporter tim lawan.

Lalu belum lama ini ada salah satu komentator yang mengatakan suatu candaan yang tidak seharusnya dikatakan di layar televisi.

BACA JUGA: Para Perempuan di Tengah Dominasi Pria dalam Sepak Bola

Seksisme dalam sepak bola ini tentunya tidak hanya dialami oleh pemain, namun dialami juga oleh suporter ketika sedang mendukung tim kebanggaannya di stadion.

Meskipun ada stigma buruk dari  masyarakat, bahwa perempuan yang menjadi suporter bola itu kurang sesuai.

Entah kesan maskulin terkait tawuran antarsuporter atau kesan negatif akibat ulah suporter yang bertindak kurang baik.

Identitas gender tersebut selalu dibawa dan tidak terbantahkan, hal itu sering ditemui di lingkungan sosial sehari-hari yang tanpa sadar akan memunculkan perilaku seksisme yang dianggap “biasa”.

Seakan kesenjangan dan batasan sosial antara kaum laki-laki dan perempuan yang menjadi suporter sepak bola adalah hal yang wajar.

BACA JUGA: Louisa Necib: ‘Female Zidane’ yang Pensiun Demi Cintanya untuk Sang Suami

Menurut Puput Putri (dalam Onriza Putra, 2019) menjelaskan bahwa salah satu bentuk seksisme dalam sepak bola adalah mengeksploitasi suporter perempuan.

Masyarakat Indonesia cenderung melabeli stigma buruk atas keberadaan suporter perempuan di tribun penonton.

Pengidentifikasian label-label feminim seperti ladies, women, girls, nona, angels, dan lain-lain amat ditonjolkan.

Hal ini berbeda dengan suporter laki-laki yang biasanya cuma disebut suporter saja tanpa embel-embel maskulin.

BACA JUGA: Perempuan di Arab Saudi Sudah Bisa Menonton Sepak Bola, Perempuan di Iran Kapan?

Penyebutan bidadari tribun atau selebriti tribun justru memberi kesan kehadiran suporter, terutama di stadion, perempuan begitu istimewa.

Padahal perempuan memiliki hak yang sama untuk menyaksikan pertandingan sepak bola.

Eksploitasi terhadap suporter perempuan juga dilakukan oleh media. Sebagai contoh, sering kali terlihat kameramen televisi memfokuskan kameranya kepada suporter perempuan yang ada di tribun.

Tanpa disadari, perilaku seperti ini sering dianggap biasa saja oleh sebagian besar masyarakat Indonesia bahkan, oleh perempuan sekalipun.

BACA JUGA: Urgensi Rasa Aman dan Nyaman bagi Perempuan di Tempat Nobar

BACA JUGA: Saya Seorang Perempuan dan Saya Mencintai Sepak Bola

BACA JUGA: Balada Kaum Wanita dan Sepak Bola

*Penulis bisa disapa di akun twitter @fajaragusta_