Suara Pembaca

Siluman Bernama Saigon FC

Kota-kota sepak bola membentang mengisi seluruh bumi. Dari Bantul hingga Liverpool, tempik sorak, kibaran bendera, selebrasi, dan hal-hal lain memeluknya dengan mesra.

Sebuah partikel-partikel organik yang berkumpul dalam satu tempat. Seluruh penjuru tribun tanpa terkecuali, metropolitan hingga “kota ketiga”. Dari Manchester, Barcelona hingga kota bising seperti Hanoi, sepak bola adalah satu hal, yakni semua berhak memilikinya.

Gemuruh sepak bola di Kota Hanoi sangatlah riuh. Mulai dari zaman kolonial seperti The Cong, hingga proyek ambisius dalam mencetak blueprint sepak bola modern seperti Hanoi FC.

Pun kebanyakan tim di kota ini menyimpan berbagai persoalan, seperti krisis finansial, lisensi, hingga “jatah kepemilikan” seperti yang akan dibahas.

Perayaan juara di Kota Hanoi | Kredit: Getty Images

Paradoks tim sepak bola di Hanoi

Hanoi penuh dengan tim sepak bola, tapi jika mengatakan siapa yang paling tradisional, jawabannya adalah The Cong.

Tim ini sebenarnya proyek ambisius Tentara Vietnam Utara pada 1954. The Cong pernah mengalami beberapa krisis, hingga menyerahkannya pada Viettel selaku badan telekomunikasi milik militer Vietnam. 

Semua bermuara pada 2010, ketika Kementerian Pertahanan menghapus nama The Cong. Penghapusan The Cong -bagi suporter- bukan hanya sebatas nama, tapi juga histori dari arti sepak bola Hanoi itu sendiri.

The Cong berpindah ke Thanh Hoa dengan pemodal baru, sedangkan The Cong II dibeli oleh perusahaan T&T Group sebagai pengembangan dari tim muda yang mereka nakhodai, yakni Hanoi FC.

BACA JUGA: Sepotong Kegembiraan dari Pelabuhan Vietnam

Hanoi FC pun kini memiliki dua kekuatan, dengan divisi utama sebagai kekuatan utama. Ada pula Hanoi FC II yang dijadikan seperti Real Madrid Castilla dan mendekam di divisi ketiga. Mereka sama-sama dipuja, dan seiring memudarnya The Cong, tim ini menjadi primadona ibu kota.

Di kasta ketiga pun Hanoi FC II menunjukkan taringnya sebagai tim muda yang bergairah. Mereka menahbiskan diri bahwa Hanoi memiliki armada muda yang menjanjikan.

Promosi demi promosi mereka lewati, kasta tiga hingga dua, dengan semangat muda yang meledak-ledak hingga pada tahun 2012 mereka menempati posisi kedua V.League 2. 

Seluruh asa membubung tinggi di Kota Hanoi. Mereka akan memiliki satu tim lagi yang mewakili kota, tetapi asa itu karam dalam sekejap.

Di V.League tidak diperbolehkan ada dua tim dalam satu kasta dipegang oleh pemilik yang sama. Kebetulan, Hanoi FC dan Hanoi FC II sama-sama dimiliki T&T Group. Konsepnya berbeda seperti di Spanyol yang melarang tim muda tidak boleh satu kasta dengan tim senior.

Hanoi FC | Kredit: sports247.my

Pindah berkala

Mungkin jika menyematkan pertanyaan “siapa yang pantas berlaga di kasta teratas”, tentu tanpa berpikir panjang jawabannya adalah tim senior. Terlebih musim lalu mereka berhasil menduduki peringkat kedua di liga.

Namun, bagaimana pun juga, pengalaman bagi pemain muda juga sangat dibutuhkan. Sebuah kesempatan yang baik bagi bibit unggul ini mentas di kasta tertinggi.

V.League edisi 2016 berjalan empat putaran, dan Hanoi FC II masih dengan nama dan kepemilikan yang sama. Jagat sepak bola Vietnam pun melancarkan protesnya. Banyak pihak menuding tidak ada ketegasan dalam kasus yang jelas-jelas melanggar tuntutan.

Nguyen Giang Dong, selaku pemilik kedua klub, memiliki siasat, yakni menjual saham dari Pemerintah Kota Hanoi, menuju Pemerintah Kota Ho Chi Minh City.

BACA JUGA: Kegilaan Suporter Song Lam Nghe An FC Saat Tandang

Tepat sebelum putaran ke lima dimulai, Nguyen Giang mengirimkan surat resmi ke VFF (PSSI-nya Vietnam). Pada tanggal 4 April 2016, VFF setuju untuk memindah kandang Hanoi FC II, serta mengganti nama mereka jadi Saigon FC. 

Entah sebuah tawa atau kewajaran -lantaran sepak bola di negeri kita tak kalah lucunya- sebuah tim berpindah kandang sejauh kurang lebih 1.700 kilometer. Ditambah, nama yang berubah, kota yang berubah, stadion yang berubah, ditambah para penduduk Saigon yang kebingungan, bagaimana bisa tiba-tiba di kota mereka berdiri sebuah tim yang malam sebelumya tidak pernah ada.

Apakah Saigon FC adalah “siluman”? Melepas apapun itu, tanpa tedeng aling-aling, jawabannya adalah; ya! Namun, jika harus membela, mana ada sebuah tim yang mau terus-terusan berada di kasta bawah meskipun itu adalah tim junior?

Toh, tidak ada sebuah aturan seperti di Liga Spanyol. Masalahnya adalah tidak boleh di bawah naungan pemilik yang sama, dan ketika kepemilikan itu berpindah, Saigon FC adalah sebuah pemakluman.

Apakah dalam kasus ini, bisa dijadikan pisau analisis guna membangun sebuah argumentasi logis tentang “tim siluman di Indonesia”?

BACA JUGA: Berproses untuk Juara, Seperti Chiangrai United

Tentu harus banyak aspek di dalamnya, juga yang mendasarinya. Di Indonesia, tim berpindah dari kota besar ke kota besar lainnya. Bukan peristiwa yang sama dengan Saigon FC, yang semula adalah tim muda Hanoi FC.

Di Indonesia, tim yang berpindah memiliki basis massa kedaerahan. Bersemayam loyalitas yang mendasarinya. Bukan sekadar nama perusahaan, pemodal atau kepemilikan, sepak bola Indonesia adalah panji daerah yang diusung dengan tinggi, disanjung secara agung.

Jika boleh memakai terma sakral, barang kali sepak bola sudah setara dengan kebudayaan yang diusung oleh para pemeluknya. 

Saigon FC adalah tim siluman. Sebagaimana arti secara terminologi, dengan wujudnya yang menyeramkan. Tim ini pun sama, bak penanda zaman bahwa sepak bola bukan lagi perihal kejayaan, prestise yang dikejar, atau perkara loyalitas.

Sepak bola membuka tabir barunya sebagai kesempatan untuk bertahan, bagaimana pun caranya. Saigon FC telah menunjukkan, mereka memulai babak barunya.

 

*Penulis adalah penggemar sepak bola Asia Tenggara, dengan diary pribadi di pukulrata-sepakbola.blogspot.com. Bisa disapa di akun twitter @gustiaditiaa