Cerita

Agustus 2017: ‘Serangan Balik’ Carlton Cole ke Persib Bandung

Regulasi baru diterapkan di GOJEK Traveloka Liga 1 2017. Setiap klub diperbolehkan mengontrak satu pemain asing dengan status marquee player. Persib Bandung yang pertama melakukannya usai mendaratkan Michael Essien, disusul Carlton Cole yang didaftarkan sebagai ‘pemain asing biasa’ kemudian.

Walau statusnya adalah marquee player alias pemain yang memiliki cukup pengalaman bermain di Eropa, tapi tidak semuanya bertaji di Liga 1. Peter Odemwingie (Madura United) menjadi yang tersukses, sedangkan sisanya, tidak sedikit yang gagal perform seperti Carlton Cole.

Eks penyerang Chelsea itu tak kunjung menunjukkan ketajamannya, bahkan menyegel satu tempat di posisi inti pun susahnya bukan kepalang. Tak ayal, manajemen Persib kecewa dan melalui manajernya, Umuh Muchtar, Maung Bandung merilis pernyataan telah melepas Carlton Cole di awal Agustus 2017.

Carlton Cole tidak tinggal diam. Dia melalukan serangan balik. Melalui akun Instagram-nya, striker setinggi 1,9 meter itu menganggap Umuh coba menyudutkannya. Cole memakai frase “flabbergasted” yang dalam bahasa Indonesia bermakna keadaan sangat terkejut dan tidak pernah diperkirakan sebelumnya.

View this post on Instagram

I will be professional and calm as I usually am. But this direct attack on me for the whole season must stop. Look at yourself first before you point fingers at good people. I was very surprised and disappointed what came out of Umuh Muchtar's mouth on sky sports news in England. And I would like to clarify I have a great relationship with Persib and everyone connected to the team. But this manipulation of the media has to stop somewhere because when you intentionally try to damage my career that I have worked so hard for it starts to get personal. I have not once mentioned this mans name in a bad way, he has not once supported me since I arrived at the club. And I haven't been treated fairly but I kept my mouth shut and worked hard and kept everything professional. I am still Persib player until I tell you otherwise. I have a 1 year contract here and I have enjoyed it so far even though I have had to turn a blind eye to these direct attacks from this man in the media. Anyway let's hope for the best in the near future for Persib Bandung. 💙🐯

A post shared by Carlton Cole (@iamcarltoncole12) on

Cole juga menyebutkan ada silang pendapat di internal Persib, antara direksi dan manajemen, terutama terkait belanja pemain. Di musim 2017 performa Persib memang anjlok. Meski telah mendatangkan sejumlah pemain bintang, tapi juara Liga Indonesia 2014 ini terjungkal di papan tengah, ke luar 10 besar.

Umuh kemudian angkat bicara mengenai pernyataan Cole. Sang manajer berkata sudah siap menanggung banyak risiko jika melepas Cole, karena dengan nilai kontrak yang diperkirakan mencapai Rp 5 miliar, Persib butuh dana besar untuk memberi kompensasi pada kontrak Cole yang diputus.

Baca juga: Transisi Buruk Persib, Virus yang Menular

Pelajaran dari regulasi marquee player

Regulasi marquee player hanya diterapkan di Liga 1 2017 saja, selebihnya peraturan kuota pemain asing kembali ke seperti semula. PSSI dan PT. LIB pastinya sadar, bahwa mendatangkan eks bintang lapangan hijau tidak sekadar meresmikan kedatangannya, memperkenalkan ke suporter, menyuruh bermain, dan menyapa fans di akhir laga.

Aspek-aspek lain di luar itu juga tak kalah pentingnya. Contoh, memperlakukan pemain secara profesional, menerapkan kualitas wasit di lapangan layaknya sepak bola Eropa, dan faktor non-teknis seperti fasilitas yang diberikan ke pemain, serta yang paling mendasar, punya pondasi finansial yang kuat

Jose Coelho (Persela) sempat kesulitan tidur karena cuaca panas di Lamongan, Michael Essien sempat jadi buah bibir setelah meminta rumah yang ada kolam renangnya ke Persib, padahal itu permintaan wajar dari pemain kelas dunia.

Lalu, ingatkah kamu dengan perseteruan Odemwingie vs Indra Kahfi di laga penentuan juara Bhayangkara FC? Odemwingie mengaku kecewa berat pada kepemimpinan wasit, sampai membalas sikutan Indra Kahfi dengan tendangan ke paha belakangnya.

Federasi sah-sah saja membuat regulasi untuk meningkatkan kualitas pemain asing yang datang ke Liga Indonesia, tapi jelas terlihat sepak bola kita belum siap menampung eks pemain kelas dunia. Mungkin, ada baiknya dimulai dengan menyusun jadwal yang rapi dulu.

Baca juga: Haduh… Jadwal Liga Indonesia Masih Saja Berantakan