Suara Pembaca

Transisi Buruk Persib, Virus yang Menular

Lanjutan pertandingan Shopee Liga 1 2019 antara Persebaya Surabaya menjamu Persib Bandung mungkin adalah laga terburuk bagi coach Robert Rene Alberts sepanjang kariernya di Indonesia. Bermain dengan modal 1 kemenangan dan 3 hasil imbang sebelumnya yang membuat mereka dituntut menang, Maung Bandung justru tampil di bawah performa terbaik mereka. Empat gol yang bersarang tak mampu sekalipun dibalas.

Sorotan utama dari pertandingan kali ini sebenarnya bukan seberapa baik lini depan Persebaya Surabaya mengonversi peluang yang mereka dapat menjadi gol. Justru, sorotan utama jatuh ke buruknya lini pertahanan Persib dalam mengatasi serangan balik. Empat gol yang tercipta melalui hat-trick dari penyerang impor Persebaya, Amido Balde, dan satu gol Irfan Jaya, semua lahir dari serangan balik cepat.

Satu gol melalui sebuah sundulan dan tiga gol melalui akselerasi pemain yang semuanya diawali dari umpan terobosan, menunjukkan betapa buruknya lini pertahanan Persib dalam mengatasi serangan balik cepat di pertandingan ini. Namun, faktor yang menyebabkan kekalahan bukan hanya hal tersebut.

Buruknya delay permainan yang dilakukan oleh lini tengah maupun lini depan Persib juga membuat pemain Persebaya bebas mengirim umpan terobosan terukur ke lini depan Bajul Ijo. Rahmat Hidayat, Otavio Dutra, Novan Setya, hingga Manu Dzhalilov yang mengirim asis selalu dalam posisi bebas ketika akan mengirim umpan.

Hal tersebut tentu sebuah cacat besar bagi tim dengan strategi menyerang seperti Persib, karena konsep bertahan dari tim yang dominan bermain menyerang adalah bagaimana transisi bekerja ketika akan terjadi serangan balik cepat.

Baca juga: Nostalgia Skuat Juara Persib di Piala Presiden 2015

Bagaimana dua full-back cepat kembali ke sektor mereka, bagaimana pemain depan termasuk winger cepat menutup ruang bagi pemain belakang lawan agar tidak bisa melakukan direct passing ke depan, hingga bagaimana gelandang bertahan harus bekerja keras menutup pergerakan playmaker lawan agar tidak bisa leluasa mengirim serangan balik.

Semua itu harus diperhatikan untuk menjaga keseimbangan transisi permainan dari sebuah tim, dan itulah yang tak terlihat dari permainan Persib di laga ini.

Ezechiel N’Douassel dan Rene Mihelic terlihat malas mundur ketika bola terebut dari kawannya. Hariono dan Kim Kurniawan yang kerap out of position membuat lini tengah lawan gampang mengirimkan umpan terobosan yang enak, sampai Bojan Malisic dan Saepuloh Maulana yang sering gagal melakukan jebakan offside, dan tak bisa menutup pergerakan Amido Balde. Semua tak berjalan sesuai dengan konsep transisi permainan yang seharusnya diinginkan pelatih. 

Tentu ini masalah besar bagi coach Robert. Ini bukan tentang strategi, melainkan pemahaman taktikal dari tiap individu pemain. Harus menanamkan kembali konsep yang benar ketika liga tengah berjalan tentu bukan hal mudah, tapi karena masalah transisi telah menghancurkan Persib di laga besar di Surabaya, tentu sang meneer harus memberi perhatian lebih untuk masalah ini.

Baca juga: Aroma Nama Legenda Dunia di Diklat Persib

Masalah yang dialami Persib di laga ini pada dasarnya bukan masalah baru di Liga 1. Laga ini seakan menjadi alarm keras bagi semua tim yang memiliki gaya bermain menyerang.

Hampir semua tim yang memiliki gaya bermain menyerang memiliki masalah dalam konsep transisi ke bertahan. Sebut saja Arema FC, Barito Putera, atau Persipura Jayapura. Ketiga tim ini memiliki strategi menyerang yang luar biasa. Namun konsep transisi ketika terjadi serangan balik yang buruk membuat mereka harus mengakhiri beberapa laga dengan hasil imbang atau bahkan kekalahan.

Hanya Madura United dan Bali United mungkin yang sejauh ini memiliki transisi yang baik.

Laga yang disaksikan pelatih timnas Indonesia, Simon McMenemy, ini juga tentu memberikan gambaran bagi mantan pelatih Bhayangkara FC itu tentang pemahaman konsep taktikal dari pemain Indonesia. Coach Simon yang terkenal dengan gaya permainan menyerangnya tentu harus lebih berhati-hati dalam memilih pemain.

Semua pemain yang dipanggil tentulah harus mampu menyerang dan bertahan dengan baik, karena sepak bola modern, semua pemain harus terlibat dalam permainan baik bertahan maupun menyerang.

Laga kali ini tentu menjadi peringatan keras bagi tim yang bersikukuh menjalankan strategi menyerang. Buruknya transisi telah menghancurkan Persib Bandung di laga ini.

Jika masalah tersebut tidak segera diperhatikan oleh pelatih Liga 1 lainnya, tentu tim dengan serangan balik cepat seperti Persebaya siap menerkam dari balik kegelapan.

 

*Penulis merupakan mahasiswa Astronomi ITB. Bisa dihubungi di ID LINE: achmzulfikar