Nasional Bola

Pekan Baru, Cerita Lama, di Liga 1 2019

Seperti pepatah: “lagu lama, kaset baru” pekan ketiga Shopee Liga 1 2019 juga diwarnai beberapa kontroversi. Jika pekan sebelumnya PSS Sleman dirasa diuntungkan dengan penalti hantu Kushedya Hari Yudho, kali ini giliran Bali United yang dianggap diuntungkan wasit di pekan ketiga.

Wasit tak melihat handball Ricky Fajrin yang tertangkap reka ulang di televisi saat Riko Simanjuntak hendak mengirim umpan silang ke kotak penalti Bali United pada pertengahan babak pertama. Sontak hal ini langsung jadi perbincangan banyak pihak terlebih dengan wacana VAR di Liga 1 yang mengemuka belakangan ini.

PSSI sendiri memang berencana menggunakan VAR di Liga 1 untuk memberikan kemudahan bagi wasit yang bertugas dan meminimalisir keputusan kontroversial yang kerap terjadi di liga. Selain VAR, alat bantu komunikasi untuk wasit juga sudah diwacanakan sejak musim lalu.

Wasit kaya pengalaman, Thoriq Alkatiri, beserta jajaran asistennya yang memimpin laga Madura United kontra Borneo FC pada Selasa (28/3) terlihat sudah menggunakan alat bantu komunikasi meskipun alat bantu tersebut milik pribadi.

Baca juga: Denda Rp 240 Juta di Pekan Kedua

Namun selain masalah sarana-prasarana tersebut, satu hal lain yang menjadi cerita lama di pekan ketiga Shopee Liga 1 2019 yakni soal kinerja wasit terlebih keputusan wasit dalam memberikan hukuman atas pelanggaran yang terjadi di dalam pertandingan.

Konyolnya wasit-wasit di Indonesia masih kurang tegas dalam memberikan hukuman, seperti insiden yang terjadi antara Elisa Basna dan Fredyan Wahyu dalam laga Persebaya Surabaya kontra PSIS Semarang Kamis (30/5) lalu. Elisa yang kedapatan menginjak perut Fredyan hanya diganjar kartu kuning oleh wasit  Mochammad Adung.

Padahal jika dilihat dari reka ulang televisi, pelanggaran tersebut termasuk pelanggaran berat dan dapat dikenai kartu merah langsung. Kabarnya pihak PSIS Semarang telah melaporkan wasit Adung dan Elisa ke pihak PSSI. Di lain kesempatan Sekjen PSSI Ratu Tisha juga menilai perlu ada edukasi dari pemain soal keselamatan.

“PSSI berkomitmen mengevaluasi wasit, dan nanti salah satunya bahasan kami kerja sama ke APPI (memberikan) sosialisasi kepada pemain, soal area cedera, atau risiko, ini bukan soal pelanggaran, ini soal keselamatan,” ujarnya sebagaimana dikutip dari bolasport.com.

Baca juga: Beragam Metode Penanganan Cedera

Benturan ke area perut pernah menyebabkan dua pesepak bola Indonesia meregang nyawa. Pada 2009 Jumadi Abdi (PKT Bontang) yang diterjang Denny Tarkas (Persela Lamongan) meninggal sebulan setelah dirawat intensif di rumah sakit akibat infeksi usus, sementara Denny menerima larangan hukuman bermain selama 4 bulan.

Peristiwa yang sama terulang di 2017 dalam pertandingan Liga 2 antara PSAP Sigli kontra Persiraja Banda Aceh. Penyerang Persiraja, Akli Fairuz, yang bertabrakan dengan kiper PSAP Sigli, Agus Rohman, harus meninggal enam hari setelah dirawat. Agus pun menerima larangan hukuman bermain selama 1 tahun.

Meski Elisa telah mengirimkan permintaan maaf kepada Fredyan secara pribadi dan telah diterima juga, penting menjaga keselamatan pemain di dalam lapangan. Semoga noda kecil di catatan akhir pekan 3 Liga 1 2019 bisa segera dibersihkan dan sepak bola Indonesia menjadi lebih baik dan manusiawi lagi.