Cerita

Liga 1 dan Para Veteran Andalan

Bila tidak kembali mengalami perubahan, musim kompetisi tertinggi sepak bola Indonesia akan dimulai dalam waktu sekitar dua pekan ke depan.

Persiapan klub peserta telah memasuki tahap pematangan. Pemain-pemain asing yang diharap dapat mengangkat performa tim telah didatangkan. Pemain-pemain muda yang diorbitkan, kemampuannya terus ditingkatkan.

Tapi tidak hanya pemain asing dan pemain muda, musim ini nampaknya masih akan menjadi panggung para pemain senior. Mereka yang terus bertahan di kala senja masih menjadi kekuatan tersendiri. Berkaca dari musim lalu ketika para pemain matang menjadi kunci dengan masing-masing perannya, nampaknya musim ini juga demikian.

Tengok saja ketika di musim lalu penyerang naturalisasi gaek, Alberto Goncalves, seakan tidak kehilangan ketajaman di usia 38 tahun. Meski tidak dapat menyelamatkan Sriwijaya FC dari degradasi, tapi penyerang asli Brasil itu mencatatkan 11 gol atas namanya.

Masih ada juga nama Herman Dzumafo Epandi yang mencetak 9 gol untuk Bhayangkara FC. Terlihat untuk keduanya usia tidak mengurangi kemampuannya mencetak gol.

Baca juga: Herman Dzumafo Epandi dan Bagaimana Bhayangkara FC Memaksimalkan Kemampuannya

Di barisan bertahan terdapat nama-nama naturalisasi lain yang juga menjadi andalan. Dari Persebaya Surabaya terdapat dua nama, Otavio Dutra dan OK Jhon. Meski keduanya sering disibukan dengan cedera, namun perannya tidak dapat dipisahkan dengan keberhasilan Bajul Ijo bertengger di peringkat 5 klasemen akhir dengan hanya kemasukan 48 gol.

Meski belum resmi memiliki paspor hijau, Fabiano Beltrame tidak ketinggalan dari deretan nama pemain bertahan naturalisi yang bersinar musim lalu. Berposisi sebagai bek tengah, di Pulau Garam ia bukan hanya berperan sebagai penjaga jantung pertahanan. Dengan torehan 9 gol, pemain bertinggi badan 183 centimeter menjadi pencetak gol terbanyak Madura United dan bek tersubur GOJEK Liga 1 2018.

Dengan pengalaman dan kematangan yang didapat dari bertambahnya usia, posisi pertahanan nampak menjadi  yang paling banyak diisi oleh pemain senior. Pemain-pemain di atas usia 35 tahun seperti Leonard Tupamahu, Zulkifly Syukur, Supardi Nasir, Hamka Hamzah, Maman Abdurrahman, hingga Ismed Sofyan masih menjadi andalan.

Bersama Persib, Supardi seolah tidak terganti. Kapten Maung Bandung itu masih dapat bersaing dengan pemain yang jauh lebih muda. Bahkan bila harus tergeser, Supardi lebih sering hanya berubah posisi, bukan mengalah untuk duduk di kursi pemain pengganti.

Serupa dengan Hamka Hamzah. Dengan kematangannya, pemain yang sering berkelana ke banyak klub ini dipercaya memimpin Singo Edan di lapangan. Terbaru, Hamka yang mengantarkan Arema FC menjadi kampiun Piala Presiden, terpilih menjadi pemain terbaik ajang yang sama.

Baca juga: Arema FC: 2018 Hampir Degradasi, 2019 Dapat Trofi

Di Persija, dua bek pengalaman, Ismed Sofyan dan Maman Abdurrahman melengkapi Bambang Pamungkas sebagi pemain senior sebagai kunci gelar juara Macan Kemayoran.

Di jantung pertahanan Maman menjadi andalan siapapun rekan duetnya, sedangkan Ismed masih setia mengisi pos bek kanan selama 16 tahun hingga akhirnya merasakan gelar juara bersama Persija.

Bambang Pamungkas, meski tidak mendapat banyak menit bermain, tidak dapat dilepaskan dari kesuksesan klub ibu kota. Meski hanya mencetak 1 gol dan 1 asis, Bepe memiliki peran lain dalam tim ini. Sebagai pemain senior, Bambang adalah panutan dan apa yang diperlukan darinya adalah bimbingan pada pemain muda.

Musim ini, berarti satu tahun usia mereka kembali bertambah. Menarik dinanti apakah mereka masih akan terus bertahan unjuk kemampuan dengan kematangan yang juga bertambah, atau menjadi akhir senja yang tidak terhindarkan.