Cerita

Arema FC: 2018 Hampir Degradasi, 2019 Dapat Trofi

Roda kehidupan benar-benar berputar untuk Arema FC. Singo Edan yang pada GOJEK Liga 1 2018 sempat mendekam di papan bawah cukup lama, kini di tahun 2019 mengakhiri turnamen Piala Presiden dengan tawa.

Jika melihat penampilan Arema FC musim lalu, tentu tak ada yang menyangka Singo Edan bisa keluar sebagai juara Piala Presiden 2019. Bagaimana tidak, Arema FC yang tertatih di GOJEK Liga 1 2018 bahkan sempat menghuni posisi dua terbawah klasemen dari pekan ketiga sampai ke-12, tiba-tiba jadi tim yang berpesta di akhir pagelaran.

Publik pastinya lebih menjagokan Bali United yang baru saja memboyong Stefano Cugurra, Madura United yang bergelimang pemain papan atas Liga Indonesia, atau Persebaya Surabaya yang berulang kali memecahkan rekor penonton di stadion. Mungkin juga mengharap kejutan tim-tim kuda hitam seperti Persela Lamongan, Bhayangkara FC, dan Barito Putera menembus final seperti Borneo FC dua tahun lalu.

Akan tetapi, di akhir perjalanan Piala Presiden 2019, tak ada satupun dari tim-tim itu yang mengangkat trofi. Justru Arema FC, yang lolos ke fase gugur sebagai runner-up Grup E dan merupakan satu dari segelintir klub yang mengandalkan penyerang lokal, keluar sebagai juara untuk kedua kalinya.

Baca juga: Deretan Fakta Unik Arema FC di Piala Presiden 2019

Terhitung mengejutkan, tapi juga menjadi pertanda bahwa wajah Arema FC telah berubah. Dari yang tertimpa musibah di 2018, menjadi predator gagah di 2019. Penunjukan Milomir Seslija sebagai pelatih dan semakin matangnya para pemain muda Singo Edan jadi dua kunci utama di atas lapangan.

Milomir Seslija terkenal dengan gaya pressing-nya yang ketat dan pertahanan yang disiplin. Di Torabika Soccer Championship (TSC) A 2016 ia membawa Arema Cronus jadi tim dengan jumlah kebobolan terminim, hanya 22 gol dari 34 laga. Di GOJEK Traveloka Liga 1 2017, ia membuat Persiba Balikpapan tak pernah kemasukan lebih dari dua gol per pertandingan walau berstatus tim papan bawah, sampai ia meninggalkan klub di putaran kedua.

Hanya di Madura United pada GOJEK Liga 1 2018 racikannya tidak ampuh, sehingga dilengserkan dan diganti dengan pelatih sebelumnya, Gomes de Olivera.

Gaya bermain itu kemudian diterapkan lagi olehnya di Piala Presiden 2019. Pelatih asal Bosnia & Herzegovina ini memang tidak gawang Arema FC minim kebobolan di fase grup, tapi di perempat-final dan semi-final, gawang Singo Edan selalu perawan.

Baca juga: Makan Konate: Bertabur Asis di Sriwijaya FC, Bergelimang Gol di Arema FC

Menang 4-0 lawan Bhayangkara FC di perempat-final, dan masing-masing menang 3-0 di tiap leg ketika menghadapi Kalteng Putra di semi-final. Tajam di depan, kokoh di belakang.

Kemudian di leg pertama final Piala Presiden 2019, tampak jelas coach Milo membawa Arema FC tampil cerdik. Di tengah kepungan Persebaya yang berlaga di kandang, timnya tidak terbawa irama permainan tuan rumah dan tetap fokus menjaga kedalaman garis pertahanan.

Hasilnya, Singo Edan dapat mencuri dua gol di Stadion Gelora Bung Tomo. Gol pertama diawali tekanan Hendro Siswanto yang mencuri bola dari penguasaan Fandi Eko Utomo, dan gol kedua hasil eksekusi tendangan bebas Makan Konate memanfaatkan kesalahan penempatan posisi Miswar Saputra.

Meski Arema FC juga kebobolan dua gol, tapi tabungan sepasang gol tandang tentu mengangkat moral tim jelang leg kedua di kandang. Benar saja, di Stadion Kanjuruhan mereka kembali clean sheet dan dihiasi torehan dua gol.

Dedik Setiawan

Singa muda yang semakin garang

Tak hanya faktor pelatih, pemain juga memiliki peranan penting dalam kesuksesan Arema FC di Piala Presiden 2019. Para pemain muda seperti Dedik Setiawan, Hanif Sjahbandi, dan Kurniawan Kartika Ajie yang melejit berkat regulasi pemain U-23 di tahun 2017, kini semakin matang. Ketiganya bahkan berhasil menembus timnas. Hanif dan Kartika Ajie tampil di SEA Games 2017, dan Dedik bermain di timnas senior.

Khusus untuk Dedik dan Hanif yang ikut menjuarai Piala Presiden 2017 di Arema FC, sangat terlihat peningkatan kematangan bermainnya. Dedik tak lagi melulu mengandalkan kecepatannya, dan Hanif kian pandai mengatur tempo permainan.

Tak heran coach Milo lebih memilih memainkan Dedik ketimbang striker asing, sedangkan kepiawaian Hanif menjalankan tugasnya di lini tengah membuat Makan Konate bebas berkreasi. Berpadu dengan tiga wonderboys, Ricky Kayame (25 tahun), Rivaldi Bawuo (25 tahun), dan Kartika Ajie (22 tahun), membuat Arema FC punya masa depan cerah.

Gelar juara Piala Presiden 2019 tentu menjadi awalan yang bagus bagi Arema FC tahun ini. Namun harus diingat, pertarungan sebenarnya ada di Liga 1 2019. Coach Milo beserta jajaran staf dan pemainnya harus pandai menjaga peak performance, agar tidak bernasib seperti PSMS Medan yang mamayo di Piala Presiden 2018 tapi loyo di liga.

Selamat berbahagia, Arema FC dan Aremania!