Suara Pembaca

Catatan Kaki Eusebio Di Francesco

AS Roma timbul tenggelam musim ini. Penampilan inkonsisten ditunjukkan Daniele De Rossi dan kolega. Di pentas Serie A, AS Roma bahkan kehilangan predikat sebagai pengganggu Juventus di pucuk klasemen. Meninggalkan Napoli berjuang sendirian mengejar Si Nyonya Tua.

Romanisti dibuat frustasi, sebab sampai saat ini, klub kesayangannya harus bersaing dengan duo Milan untuk satu tempat di Liga Champions musim depan.

Cerita kusut AS Roma mengorbankan satu nama. Belum sampai dua musim, Eusebio Di Francesco terdepak dari kursi kepelatihan AS Roma. Dua kekalahan beruntun merenggut jabatan yang diperolehnya 2017 silam. Dihempaskan rival sekota Lazio dengan skor mencolok 3-0 di Serie A, dan terkapar oleh comeback sempurna Porto di Liga Champions, tiga gol berbalas satu. Roma menderita, Di Francesco terusir.

Kepergian selalu menyisakan luka dan kenangan. Terusirnya Difra – sapaan akrab Di Francesco – mungkin luka bagi beberapa orang.  Tetapi, kenangan bisa menjadi sesuatu yang berharga, mengingatkan untuk tetap menjalani hari ke depan dengan semangat. Sebagaimana Difra selama menjabat sebagai pelatih, kenangan itu ada dan selalu ada.

Satu setengah musim lebih, Difra menampilkan sisi lain dari Roma. Pun, menyuguhkan beragama cerita yang pantas dikenang. Difra, sebagai pelatih yang sangat mengapresiasi pemain muda, juga membangun pondasi yang kokoh bagi masa depan Serigala Ibukota.

Roma have risen from their ruins! Manolas, The Greek God in Rome!” begitu bersemangatnya komentator , usai Kostas Manolas menjebol gawang Barcelona di leg kedua babak 8 besar Liga Champions 2017/2018. Gol ketiga penyama agregat, sekaligus mengantarkan AS Roma ke semi-final. Comeback luar biasa Di Francesco bersama anak asuhnya, menyingkirkan Barcelona bersama Messiah Olimpico, Roma.

Drama terbaik di gelaran Liga Champions musim lalu. Pagelaran yang tak pernah disangka oleh siapapun. Kemenangan yang tak masuk hitungan statistik manapun. Di Francisco menahbiskan satu ingatan pada setiap Romanisti, tentang peristiwa yang jarang terjadi.

Bagaimana mungkin klub yang kalah 4-1 di leg pertama atas Barcelona, bisa bangkit dan menang 3-0? Semua orang tahu siapa Barcelona. Semua orang paham siapa Lionel Messi. Tapi, semua orang harus percaya, Difra dan anak asuhnya, menampilkan keajaiban. Sesuatu yang banyak orang sebut ketidakmungkinan.

Baca juga: Utang Daniele De Rossi dan Kostas Manolas yang Dibayar Habis

“Saya senang untuk pelatih dan rekan satu tim saya. Kemenangan ini adalah salah satu yang terbaik yang pernah saya alami sejak bergabung dengan Roma,” kata Kapten Daniele De Rossi di malam menakjubkan itu, seperti dikutip dari asroma.com.

Eusebio Di Francisco sukses membawa  AS Roma menembus semi-final di pentas Liga Champions 2017/2018 untuk pertama kalinya selama 34 tahun. Meski perjalanan itu kemudian kandas di tangan Liverpool dan sang mantan pemain, Mohammed Salah, catatan kaki Difra tak akan terlupakan.

Mengenai pemain muda, Di Francesco memang terkenal sebagai pelatih yang menaruh kepercayaan pada anak remaja. Sebelum melatih Roma, Difra banyak menggembel darah muda di Sassuolo. Memberi banyak menit bermain, untuk mengembangan kemampuan. Di Roma, selama dua musim, darah muda menunjukkan tajinya.

Musim lalu, orang akan mengingat bagaimana Cengiz Under muncul ke permukaan. Kepiawaiannya sebagai inverted winger dimanfaatkan Difra dengan baik. Begitu mendapat kepercayaan, Cengiz langsung menjawabnya dengan penampilan dan gol yang memukau. Di musim ini pula, seorang pemain kidal diperkenalkan Difra. Nicolo Zaniolo, digadang-gadang sebagai masa depan Italia, sesekali tampil menakjubkan apabila diberi kesempatan.

Tidak ketinggalan juga nama-nama lain yang cukup mendapat banyak menit bermain di bawah asuhan Di Francesco. Ada Lorenzo Pellegrini, Justin Kluivert, Bryan Cristante, Mirko Antonucci, hingga Luca Pellegrini. Deretan nama tersebut, adalah pondasi penting dalam membangun AS Roma di masa depan. Dan Difra telah berhasil meletakkan batu pertamanya.

Baca juga: Keterpurukan dan Kebangkitan Bryan Cristante

Kenang-kenangan lain Eusebio DI Francesco tentu lebih banyak lagi, selain dari dua catatan kaki yang pengaruhnya paling terasa bagi Romanisti selama hampir dua musim. Difra memang tak menyumbangkan satu gelar pun. Tetapi, semangat bertarung kala menumbangkan Barcelona, bisa menjadi pelecut bagi pemain-pemain Roma di masa depan. Bahwa, selama pertandingan masih berlangsung, ketidakmungkinan masih bisa berbalik menjadi kemungkinan.

Dari tahun 1997 sampai 2001, Eusebio Di Francesco melihat seorang pangeran muda Roma berkembang sepenuhnya. Francesco Totti adalah insprirasi setiap anak muda di Roma, tentang bagaimana mengenakan nomor sepuluh di punggung, sembari orang-orang di curva sud Olimpico menyanyikan namanya. Dari situ, Di Francesco mengambil inspirasi dengan memberi banyak pemain muda kesempatan. Membangun pondasi demi AS Roma dan Totti yang baru di masa depan.

Difra mungkin bercita-cita meraih gelar bersama AS Roma sebagai pelatih. Menyandingkan dengan scudetto musim 2000/2001 yang pernah ia berikan kepada Romanisti, ketika masih berstatus sebagai gelandang tengah Serigala Ibukota. Sayangnya, catatan kaki berupa gelar tidak sempat terukir di buku kenangan para Romanisti.

Grazie, Master!

 

*Penulis bisa dijumpai di akun Twitter @bedeweib