Nasional Bola

12 Pemain Berbakat Keturunan Indonesia yang Belum Dinaturalisasi (Bagian Pertama)

Naturalisasi. Istilah yang mendadak populer di Asia Tenggara setelah Singapura menyabet gelar juara Piala Tiger (kini bernama Piala AFF) 2004. Dengan skuat campuran antara pemain lokal, serta pemain keturunan dan pemain asing yang dinaturalisasi, Singapura sukses meraih gelar keduanya di ajang itu.

Berkaca pada pencapaian negara tetangga tersebut, Indonesia juga tergiur melakukan langkah serupa, tepatnya sejak Piala AFF 2010. Hasilnya juga cukup memuaskan. Meski tidak berujung gelar, tapi menjadi awal dari gerbong pemain keturunan yang mengantre untuk mendapat kewarganegaraan Indonesia.

Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan nama-nama seperti Ezra Walian, Stefano Lilipaly, dan Raphael Maitimo yang termasuk dalam kelompok terbaru naturalisasi yang berasal dari keturunan. Tapi, apakah hanya berhenti sampai mereka saja? Ternyata tidak, karena masih ada belasan pemain berbakat lain yang masih menanti kesempatan untuk mendapat paspor Indonesia.

 

Leroy Resodihardjo

Namanya sangat beraroma Jawa Tengah, dan ternyata dia memang memiliki darah Kebumen yang didapat dari salah satu anggota keluarganya. Leroy saat ini tercatat sebagai pemain Scheveningen, klub kasta keempat Liga Belanda.

Sebelumnya, gelandang berusia 30 tahun ini sempat bermain di ADO Den Haag dan Almere City, tapi hasilnya tidak memuaskan. Kabarnya, ia tidak cocok dengan rumput sintetis yang dipakai di stadion milik Almere City, yang membuat kakinya sering kesakitan.

 

Joey Suk

Pemain yang sempat lepas dari tangan PSSI untuk dinaturalisasi, dan kini belum ada kelanjutan lagi mengenai naturalisasinya. Joey Suk, dulu merupakan satu dari tiga pemain bersama Diego Michiels dan Ruben Wuarbanaran pada 2011, tapi proses naturalisasinya terhenti karena PSSI terkena sanksi FIFA.

Pemain 28 tahun yang biasa beroperasi sebagai gelandang tengah dan jangkar ini bisa dibilang memiliki karier yang cukup mentereng. Saat ini ia bermain untuk Go Ahead Eagles di kasta kedua Liga Belanda, dan pada 2013 lalu nilai pasarnya sempat menembus 600 ribu euro (sekitar 9,6 miliar rupiah) saat diboyong NAC Breda.

 

Sandy Walsh

Sandy Walsh

Salah satu sensasi dari Negeri Kincir Angin belakangan ini. Dari pelindung tulang keringnya yang bergambar lambang negara Indonesia, ia menyampaikan pesan tersirat untuk membela tim Merah-Putih. Sandy sendiri memiliki darah Indonesia dari kakeknya yang berasal dari Surabaya, dan neneknya dari Malang.

Usia Sandy juga masih muda, 22 tahun, yang membuatnya masih memiliki banyak waktu untuk berkembang. Namun sedikit hambatan adalah, pemain SV Zulte Waregem ini berposisi bek kanan, yang kualitas para pemain lokal kita masih cukup mumpuni untuk mengisi pos tersebut.

 

Gaston Salasiwa

Rekan satu tim Ezra Walian di Almere City ini kabarnya akan dinaturalisasi dalam waktu dekat. Gaston pada 2011 lalu sempat bermain untuk Bintang Medan di Indonesia Premier League (IPL), tapi hanya sebentar dan kembali ke Belanda untuk bergabung dengan Telstar.

Kini, pemain berusia 29 tahun tersebut sedang trial di Madura United bersama Marcel Sacramento dan kapten timnas Tajikistan, Nuriddin Davronov. Ia termasuk pemain yang versatile. Selain bisa bermain di gelandang tengah dan gelandang serang, ia juga bisa ditempatkan sebagai bek kiri.

 

Kenny memang memiliki garis keturunan Indonesia

Kenny Anderson

Pemain ini sempat dikaitkan dengan Bali United, menyusul rumor adanya pemain naturalisasi yang akan didatangkan Serdadu Tridatu. Kenny mendapat darah Indonesia dari ibunya dan sempat akan dinaturalisasi pada 2015 lalu, tapi belum berlanjut sampai sekarang.

Di usia yang masih 25 tahun, awal kariernya cukup bagus. Ia merupakan lululusan akademi RKC Waalwijk dan juga pernah bermain di Skotlandia bersama Hearts of Midlothian. Kabar terbaru, ia telah menyepakati kontrak bersama klub kasta keempat Liga Belanda, Quick Boys, setelah sejak Juli lalu berstatus tanpa klub.

 

Jeffrey Rijsdijk

Tampaknya Go Ahead Eagles dan Almere City menjadi klub favorit para pemain Belanda keturunan Indonesia, karena dua klub tersebut telah diperkuat Jeffrey dalam empat tahun terakhir. Berposisi asli sebagai gelandang tengah, Jeffrey juga bisa bermain di sayap kiri.

Pemain 30 tahun jebolan akademi Sparta Rotterdam ini sudah bermain 10 kali dengan sumbangan 1 asis di Almere City musim ini. Periode terbaiknya adalah ketika merumput di Eredivisie bersama Go Ahead Eagles pada 2013-2016 lalu dengan sumbangsih 4 gol dan 9 asis dari 54 laga.

 

Navarone Foor

Navarone Foor

Memiliki darah Maluku, pemain sayap Vitesse Arnhem ini menjadi salah satu pemain yang diprioritaskan untuk dinaturalisasi dalam waktu dekat. Masih berusia 25 tahun, ia bisa ditempatkan di tiga posisi berbeda, yakni kedua sayap dan gelandang serang, juga berstatus pemain inti di Vitesse musim ini.

Foor juga pernah bermain untuk Belanda U-19, U-20, dan U-21. Namun ganjalannya adalah, di posisinya, timnas kita sudah memiliki banyak pemain berkualitas. Mulai dari yang masih junior seperti Egy Maulana Vikry, Febri Haryadi di Timnas U-23, dan Andik Vermansyah di timnas senior.

 

Benjamin van Leer

Tak selamanya kandidat pemain naturalisasi bermain sebagai outfield player, karena ada juga berposisi kiper. Dialah Benjamin van Leer, kiper 25 tahun hasil binaan akademi PSV Eindhoven yang di awal musim ini direkrut oleh Ajax Amsterdam sebagai kiper pelapis.

Di Ajax musim ini ia memang belum sekalipun diturunkan, tapi menurut media Belanda ia memiliki potensi yang besar. Lalu apakah ia akan dinaturalisasi? Peluangnya cukup kecil, karena Indonesia saat ini tengah banjir kiper jempolan, mulai dari senior hingga junior.

 

Ard van Peppen

Tua-tua keladi. Meski sudah berusia 32 tahun, ia masih menjadi andalan di klubnya saat ini, Roda JC Kerkrade, dan berstatus kapten tim. Rekam jejak kariernya juga lumayan bagus, yakni pernah dua kali menjuarai Eerstedivisie bersama RKC Waalwijk dan De Graafschap, juga kabarnya diincar Leeds United di bursa transfer musim dingin ini.

Pemain yang berposisi di bek kiri ini sebenarnya ingin mendapat kesempatan bermain di timnas Garuda, tapi terlebih dulu ia menekankan bahwa sepak bola Indonesia harus bersih dari segala kontroversi, baru ia bersedia untuk dinaturalisasi.

 

Keziah Veendorp

Masih berusia 20 tahun dan berpostur setinggi 185 sentimeter, pemain jebolan akademi Groningen ini bisa menjadi opsi darurat jika Indonesia kekurangan bek tengah andal. Berdasarkan keterangan Sepakbolanda, garis keturunan Keziah berasal dari keluarga Latuperissa yang berakar di Maluku.

Sejak awal musim ini ia resmi meneken kontrak profesional dengan FC Emmen di Eerstedivisie. Dari 17 laga ia selalu diturunkan dan selalu bermain penuh dengan sumbangan satu asis. Timnya pun kini bertengger di peringkat 6 klasemen sementara.

 

Thom Haye

Masih berusia 22 tahun dan merupakan penggawa inti Willem II Tilburg. Ia merupakan eks rekan Sandy Walsh di Belanda U-20, dan karier juniornya cukup baik. PSSI sudah pasti tergiur untuk menaturalisasinya, tapi melihat perkembangan pesat pemain yang beroperasi di sektor sayap ini, sepertinya ia akan lebih memilih berjuang menembus timnas senior Belanda.

 

Lorenzo Pace

Lahir di Bandung dan besar di Italia, nama Lorenzo Pace pernah menjadi perbincangan karena statusnya yang merupakan lulusan akademi Lazio. Di awal musim lalu, ia hampir bergabung dengan Madura United, tapi karena ada dokumen yang belum dilengkapi, akhirnya kesepakatan batal terjalin.

Saat ini belum diketahui lagi bagaimana nasibnya, karena Oktober lalu sempat berlatih dengan Persija, tapi Macan Kemayoran tidak tertarik untuk memboyongnya. Meski demikian, Pace termasuk pemain berbakat. Ia memiliki pengalaman bermain di Serie C dan D Italia.

Author: Aditya Jaya Iswara (@joyoisworo)
Milanisti paruh waktu yang berharap Andriy Shevchenko kembali muda dan membawa AC Milan juara Liga Champions Eropa lagi.