Eropa Jerman

Andre Schürrle dan Etos Kerja yang Patut Ditiru

Saat ini, Borussia Dortmund memiliki tiga pemain lokal yang terbilang seangkatan dan bermain di posisi yang tak berbeda jauh. Ketiga pemain itu adalah Marco Reus, Mario Götze, dan Andre Schürrle. Pemain-pemain yang mengisi posisi gelandang serang ini terbilang pemain yang sangat bagus, bila kelas dunia mungkin terlalu berlebihan.

Sayangnya, nasib ketiga pemain ini tak berbeda jauh. Di masa mudanya, Reus, Götze, dan Schürrle digadang-gadang sebagai tumpuan masa depan Der Panzer, serta menjadi salah satu yang terbaik di dunia, namun, kini nasib mereka semua berbeda dari apa yang diharapkan. Lucunya, penyebab dari mandeknya kemilau tiga pemain ini adalah satu hal yang sama, yaitu cedera. Meskipun begitu, Schürrle bisa dikatakan sebagai pekerja terkeras dari tiga pemain ini.

Schürrle mengawali karier sepak bolanya bersama FSV Mainz 05. Bersama klub yang pernah menjadi tempat bekerja Jürgen Klopp itu, nama Schürrle mulai mencuat sebagai talenta muda berbakat Jerman usai mengawali debut seniornya di musim 2009/2010, setelah sebelumnya tampil memukau di level junior.

Berposisi sebagai pemain sayap, pemain yang memiliki tinggi 184 sentimeter ini ternyata cukup tajam di depan gawang lawan. Ketajaman Schürrle sudah terlihat sejak ia masih bermain di Mainz, yang mana ia berhasil menciptakan total 20 gol dari 68 pertandingan. Mampu tampil impresif, Schürrle mendapat kepindahan ke klub yang lebih besar, Bayer Leverkusen, di awal musim 2011/2012.

Direkrut dengan biaya sekitar 8,5 juta euro, Schürrle yang kala itu baru berusia 21 tahun, mampu mendobrak tim utama Leverkusen yang terhitung bagus di Bundesliga. Kombinasinya bersama Stefan Kiessling dan Sidney Sam berhasil membawa Die Werkself lolos dari fase grup Liga Champions, meski harus hancur di tangan Barcelona di fase 16 besar dengan agregat 10-2.

Di musim pertamanya, Schürrle berhasil tampil sebanyak 40 kali dan mencetak sembilan gol di semua kompetisi, sebuah awal yang terbilang lumayan. Musim keduanya berjalan lebih baik lagi, dengan mencatatkan 43 penampilan ditambah 14 gol di semua kompetisi. Berkat performanya yang memukau tersebut, Schürrle diincar beberapa klub besar di Eropa.

Bertahan selama dua musim di Leverkusen, Schürrle akhirnya direkrut oleh klub raksasa Inggris, Chelsea, di musim 2013/2014, dengan mahar yang cukup mahal, 22 juta euro. Schürrle menjadi rekrutan perdana Jose Mourinho yang baru saja kembali ke klub kesayangannya di musim tersebut.

Meskipun begitu, Schürrle nampaknya tak pernah benar-benar menjadi favorit Mourinho, yang kala itu menjuluki dirinya sendiri sebagai The Happy One. Persaingan di skuat Chelsea yang diisi oleh pemain-pemain seperti Eden Hazard, Oscar, dan Willian mungkin memang sulit, namun bukan berarti Schürrle tidak mampu berkompetisi dengan mereka.

Saat diberikan kesempatan, pemain yang lahir di tahun 1990 ini selalu tampil baik. Meskipun begitu, selama dua musimnya di Chelsea, Schürrle hanya tampil sebanyak 65 kali dengan total 2.997 menit bermain, menciptakan 14 gol dan 3 asis.

Pemain berambut pirang dan keriting ini memang tak mendapatkan menit bermain yang cukup di The Blues, namun ia berhasil meraih trofi besarnya untuk pertama kali sepanjang karier sepak bolanya setelah menjadi bagian skuat Chelsea yang juara Liga Primer Inggris di musim 2014/2015.

Menariknya, Chelsea tetap mendapatkan untung setelah Schürrle dibeli Wolfsburg dengan harga mencapai 32 juta euro, meskipun status sang pemain hanya sekadar pemain cadangan. Kembalinya pemain yang memiliki dua kaki sama kuatnya ini ke Jerman disinyalir didasarkan kepada saran yang diberikan manajer timnas Jerman, Joachim Löw.

Löw meminta Schürrle untuk memikirkan masa depannya yang mungkin tak akan baik bila hanya sekadar menjadi penghangat bangku cadangan di Chelsea, dan pindah ke Wolfsburg adalah langkah yang baik bagi karier sepak bolanya. Bergabung bersama Die Wolfe sepertinya adalah keputusan yang tepat bagi sang penyerang sayap karena ia mampu mendapatkan menit bermain yang memang ia butuhkan dan inginkan.

Ia memang tampil lebih sedikit ketimbang waktu di Chelsea, sebanyak total 63 kali, namun menit bermain yang ia dapatkan bersama Wolfsburg mencapai 3672 menit, lebih banyak ketimbang waktu bermain yang ia dapatkan di Inggris. Puncaknya, ia mampu memancarkan pesonanya kembali, dan ia pun kembali pindah ke klub besar di Bundesliga, Borussia Dortmund, di awal musim 2016/2017 lalu.

Baca juga: Bayern München Perpanjang Nestapa Borussia Dortmund di Der Klassiker

Sayangnya, waktu Schürrle bersama Die Borussen lebih banyak dihabiskan di ruang perawatan. Musim lalu, Schürrle memang berhasil tampil cukup baik, dengan total tampil sebanyak 25 kali dan menciptakan lima gol serta empat asis. Namun musim ini, pemain yang memberi asis kepada gol penentu Götze di final Piala Dunia 2014 ini baru tampil sebanyak empat kali di semua pertandingan, tanpa ada satu laga pun yang ia jalani 90 menit penuh.

Padahal, Dortmund saat ini sangat membutuhkan tenaganya setelah Pierre-Emerick Aubameyang sedang mandul dan Ousmane Dembele pindah di awal musim lalu. Sayang, cedera menghambat sinar Schürrle di musim ini. Yang menarik untuk dinanti adalah, apakah siklus dua musim Schürrle akan berlangsung atau tidak, mengingat pemain yang satu ini tak pernah bertahan lebih dari dua musim di satu klub sejak menjalani debut di Mainz lalu.

Schürrle dapat dikatakan sebagai pekerja keras karena memang tak hanya penampilannya di lapangan yang menunjukkan hal itu. Memang, di lapangan, pemain yang memiliki kecepatan kencang ini terkenal akan determinasinya yang tinggi. Namun, ia juga tak pernah berhenti berusaha ketika menemui jalan buntu.

Kerelaannya untuk berpindah-pindah klub menunjukkan bahwa Schürrle selalu lapar sebagai pemain, dan tidak akan memilih opsi yang mudah untuk dijalani. Etos kerja Schürrle patut ditiru oleh bukan hanya rekan pesepak bolanya, namun juga kita semua.

Zum geburtstag, Andre!

Author: Ganesha Arif Lesmana (@ganesharif)
Penggemar sepak bola dan basket