Kisah-kisah dualisme klub dari negara-negara Eropa Timur, mengingatkan kita kepada kejadian serupa yang menimpa sepak bola Indonesia belum lama ini.
Dua klub besar Jawa Timur, Arema FC dan Persebaya Surabaya, pernah mengalami masalah dualisme klub. Masalah yang dimulai sejak dualisme liga pada awal 2010-an tersebut, berujung pada Indonesia terkena sanksi FIFA pada tahun 2015.
Kini masalah dualisme Persebaya sudah selesai. Persebaya yang sah berdiri dengan kokoh, sementara Persebaya Divisi Utama alias Persebaya tiruan diakusisi oleh Kepolisian Indonesia sehingga menjadi Bhayangkara Solo FC.
Namun masalah dualisme Arema masih berlangsung sampai sekarang. Memang, baik Arema FC di Liga 1 dan Arema Indonesia di Liga 3, sama-sama merupakan klub yang sah dan legal. Namun pada akhirnya kasus dua Arema ini mirip seperti kasus CSKA di Bulgaria serta kasus Steaua dan Universitatea di Romania.
Sama seperti klub-klub di Eropa Timur tersebut, baik Arema maupun Arema Indonesia sama-sama mengklaim bahwa mereka adalah pemegang hak merek Arema di Liga Indonesia. Kedua klub tersebut menyebut diri mereka sebagai Singo Edan yang sah.
Para Aremania juga terbagi menjadi dua: ada yang mendukung Arema FC, ada yang mendukung Arema Indonesia. Namun suara Aremania yang paling vokal adalah mereka yang menginginkan rekonsiliasi dari kedua Arema tersebut.
BACA JUGA: MMGA dan Upaya Terakhir Menyelamatkan Arema
Ya, publik sepak bola Malang tidak rela jika klub mereka terbagi menjadi dua terus-menerus. Bagi mereka Arema adalah Malang, Malang adalah Arema. Malang adalah satu, Arema adalah satu.
Dan ini yang menjadi perbedaan terbesar dari dualisme Arema dengan dualisme klub-klub Eropa Timur. Baik CSKA 1948 dan CSKA Sofia, Steaua dan FCSB, ataupun Universitatea dan U Craiova tidak menunjukkan tanda-tanda rekonsiliasi sama sekali.
Seperti kasus dualisme Arema, fans-fans klub-klub Eropa Timur tersebut juga terbagi menjadi dua kubu.
Namun tidak seperti kasus Arema, tidak ada suara penengah yang vokal yang menyerukan agar kedua klub yang terpecah menjadi dua tersebut untuk melakukan rekonsiliasi. Malah, ada kesan bahwa pecahnya suatu klub menjadi dua bisa menjadi ladang lahirnya rivalitas baru yang seru dan panas.
Menarik untuk disimak, bagaimana resolusi dari dualisme Arema. Apakah salah satu klub legowo dan merelakan sejarah mereka seperti Persebaya DU/Bhayangkara Solo? Atau perpecahan ini akan berlangsung selamanya dan akan lahir rivalitas baru yang seru di tanah Malang?
Dan apakah kedua Arema ini akan kembali bersatu seperti harapan para Aremania? Hanya waktu yang akan menjawab.