Suara Pembaca

Muda, Beda dan Berbahaya ala Yves Bissouma

Peran gelandang bertahan merupakan salah satu fungsi penting dalam sistem sepak bola seperti profil pemain muda Brighton, Yves Bissouma, yang kali ini dibahas. Memang peran ini tak semewah perang gelandang kreatif atau pun penyerang karena terkadang keberadaannya dianggap tidak ada.

Jika kita berbicara mengenai pemain atau gelandang bertahan yang sedang bersinar di Liga Primer Inggris saat ini maka akan muncul di benak kita adalah beberapa nama tenar seperti Declan Rice, N’Golo Kante, Nemanja Matic, Paul Pogba, Abdoulaye Doucoure, dan rekrutan baru Arsenal, yakni Thomas Partey.

Keberadaan gelandang bertahan yang ditempatkan sebagai penghancur pertama serangan lawan sebelum berhadapan dengan bek pun semakin tersingkirkan perannya akibat mulai berubahnya metode penyerangan yang saat ini dominan menggunakan winger dengan kemampuan akselerasi yang tinggi ditambah crossing yang akurat.

Namun, di tengah perkembangan taktik yang semakin modern saat ini muncul sebuah anomali dalam diri Yves Bissouma, gelandang bertahan muda dari Brighton Hove & Albion yang memiliki teknik serta visi kelas tinggi.

Sayang pamor gelandang bertahan Brighton tersebut seolah sirna manakala Brighton hanya bisa menempati posisi 17 klasemen saat ini dengan dua kemenangan dan delapan kali seri dari 17 pertandingan.

Walaupun begitu permainan Bissouma yang didatangkan dari LOSC Lille pada pertengahan transfer 2018 dengan nilai 21 juta euro, memperlihatkan performa yang apik.

Ia merupakan sosok gelandang dengan semangat petarung serta determinasi tinggi, ditambah dengan kemampuan adaptasi yang baik di segala lini tengah Brighton terus menunjukan perkembangan yang signifikan.

Berkembang dan berbahaya menjadi dua hal yang menggambarkan dirinya, namun di saat yang bersamaan inkosisten berhasil ditutup dengan baik ketika Bissouma berada dibawah asuhan Graham Potter. Dengan segala atribut yang telah diasah oleh Graham Potter, ia menjadi sosok penting dan tak tergantikan di lini tengah Brighton.

Hal ini terlihat dengan rata-rata operan sukses yang mencapai 82% dari 3 musimnya bersama Brighton, diperkuat dengan 3,5 rata-rata tekel per pertandingan dan 1,07 rata-rata intersep per pertandingan menjadikan Bissouma  sosok yang garang dalam bertahan namun tetap memiliki kreatifitas untuk melakukan serangan balik atau umpan progresif.

Walaupun secara taktikal, Brighton merupakan sebuah tim yang sangat cair akan tetapi mereka tetap menggunakan lima pemain bertahan sebagai pakem utama dengan sepasang wing-back yang bergerak maju-mundur untuk melakukan support terhadap sisi sayap. Dalam hal ini, Bissouma berhasil mengakusisi dan mengakomodir kebutuhan pemain bertahan dengan baik.

Dengan teknik dan pembacaan permainan yang baik Bissouma berhasil mengagalkan serangan musuh untuk kemudian kembali merebut bola dan menyambungkan bola antar lini. Kemampuan Bissouma dalam melakukan cover lapangan tengah dengan tekniknya ini beberapa kali ditunjukkan dengan baik.

BACA JUGA: Bowo Alpenliebe dan Pentingnya Unjuk Gigi Pemain Muda di Piala Dunia

Kemampuan yang baik dalam penempatan posisi serta keberanian dalam melakukan challenge menjadikannya harus berani dalam melakukan tekeldan mengintersep bola. Hal ini terlihat dengan besarnya tingkat keberhasilan tekel Bissouma selama 2 musim bersama Brighton yang mencapai 54%.

Setelah melakukan tekel dan intersep, biasanya Bissouma menunjukan akurasi dari jangkauan operannya untuk kembali melakukan sirkulasi bola atau bahkan umpan progresif langsung ke sayap atau ke penyerang.

Kepercayaan diri ditambah dengan akurasi pendistribusian bola dari Bissouma menjadi kunci Brighton untuk mengatur ulang serangan dan mendapatkan kembali bola.

Dengan maraknya pelatih yang menggunakan sistem pressing tinggi yang ketat, kemampuan gelandang yang mampu menerima bola di ruang yang sempit dan dapat melepaskan diri dari ketatnya intensitas pressing musuh semakin dibutuhkan.

Dengan atribut yang ia miliki dalam membaca ruang, mengantisipasi tekanan serta melakukan progressive dribble yang cepat Bissouma menjadi sosok gelandang yang akan vital dalam tim baik ketika ingin melakukan sirkulasi ataupun progresif.

Walaupun musim ini Yves Bissouma lebih sering ditempatkan sebagai jangkar tengah, namun ia tetap menjadi sosok yang berbahaya manakala ia mendapatkan bola di sepertiga akhir lapangan, keberaniannya dalam melakukan tendangan spekulasi dan umpan terobosan yang beresiko.

Kreativitas yang ditunjang dengan kemampuan fisik menjadikannya berbahaya bagi lawan sekaligus menarik untuk ditonton, pengambilan keputusan dengan cepat dan tenang menjadikan lawan terkadang sulit untuk mengantisipasi apa yang dilakukan selanjutnya oleh Bissouma.

Kemampuan yang telah terendus oleh banyak scout analysis sebelumnya memang baru membuahkan hasil pada musim 2019-2020. Ketika Brighton dipegang oleh Chris Hughton, Bissouma kurang mendapatkan menit bermain dan ada masalah terkait kecocokan gaya permainan.

Ia yang bermain secara pro-aktif dan antusias harus menghadapi gaya permainan brighton yang lebih berhati-hati dan cendurung statis.

Namun bakat yang ia miliki kini telah mencapai pada tahap diatas rata-rata, kemampuan dan bakat potensialnya telah sedikit demi sedikit dicapai di bawah asuhan Graham Potter, kemampuan intersep dan tekel yang telah dimilikinya mulai dilengkap lagi dengan kemampuan passing and dribbling.

Akhir kata, Brighton sangatlah beruntung memiliki Yves Bissouma dalam skuadnya saat ini. Dengan potensi talenta yang masih dapat dieksplorasi serta umurnya yang masih muda, gelandang 24 tahun ini masih memiliki banyak waktu dan ruang untuk diasah dan dipoles demi menjadi salah satu gelandang bertahan terbaik di Eropa.

Penulis adalah fans olahraga garis keras yang tertarik dengan strategi dan analisis dan dapat ditemui di akun Twitter @mhdalf16.