
Cedera lutut merupakan momok menakutkan bagi Emre Akbaba, dan sialnya selalu kambuh saat pasukan Cimbom Aslan benar-benar tengah membutuhkan tenaganya.
Kurang memenuhi ekspektasi bila melihat tujuan awal Mustafa Cengiz mendaratkan bintang dari Anatolia -yang waktu itu dibarengi pula dengan kedatangan bintang Jepang, Yuto Nagatomo dari Inter Milan, Mugdat Celik dari Akhisar, dan penyerang nasional Nigeria; Henry Onyekuru dari raksasa Belgia, Anderlecht- demi ambisi membesarkan kembali nama Galatasaray S. K. di kancah Eropa.
Namun demikian, yang namanya cinta tetap saja cinta. Bila UltrAslan sudah menyatakan sepenuhnya Emre Akbaba jadi dambaan mereka, ban kapten kapan saja bakal mudah melekat di lengan kiri pemain binaan Antalyaspor itu.
Fatih Terim paham akan hal ini, maka dia memilih momentum paling tepat. Kapan Akbaba bisa turun ke lapangan, kapan harus duduk lebih dulu menghangatkan bangku cadangan.
Mengutip sekelumit wacana dari Yudhie Haryono, Direktur Eksekutif Nusantara Centre. Catatan untuk Rizal Mubit di laman media sosial Facebook berjudul, “Menikahi Perempuan yang Cukup Sarapan Puisi” tentang jalan menuju sorga.
Karier Emre Akbaba di dunia sepak bola juga tak ubahnya ayam yang terus-terus menerus mematuki tanah, demi memakan sesuatu yang bisa dimakan. Mencari ruang kenikmatan di antara keterbatasan waktu dan segala halang rintang.
Yudhie menulis di dinding media sosialnya. “Tibalah pada suatu masa genting. Antara kota Lamongan dan Semarang, tertulis di rural kota.”
“Jalan Muhammad menuju sorga ada empat; teks, iman, ilmu, dan amal. Jalan Budha menuju sorga ada delapan; pandangan, niat, bicara, perilaku, penghidupan, usaha, ingatan, serta pikiran yang benar.
Kemudian jalan Kristus menuju sorga ada lima; Tuhan yang menubuh, tubuh yang menuhan, gratia, sallus, propheta. Sedangkan jalan Nusantara menuju sorga ada empat; merdeka, mandiri, modern, martabatif.” ]
Maka bolehlah kiranya dibikin sebuah terusan, bahwa jalan Emre Akbaba membela timnas senior Turki ada tiga; bebas dari cedera fisik, permainan konsisten, dan seutuhnya meraih hati orang-orang Turki.
Merebut kepercayaan Senol Gunes untuk berada di antara Yusuf Yazici, Hakan Calhanoglu, dan Ozan Tufan sebagai gelandang andalan skuat The Crescent Stars of Europe.
*Penulis aktif menulis sejak bergabung di Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk tahun 2013. Sempat bergabung dengan Gatra.com tahun 2019 untuk menulis isu-isu politik, perkotaan, pendidikan, dan sosial-budaya. Bisa disapa di akun Instagram @resza_mustafa