Cerita

Sepi Penonton, Mungkin Yokohama FC Butuh Bantuan Indonesia?

Yokohama FC akan kembali ke kasta tertinggi Liga Jepang setelah 13 tahun lamanya absen. Menariknya, pihak manajemen klub memiliki tiga permintaan khusus yang diberikan kepada para suporternya jelang musim 2020 yang akan dilangsungkan akhir pekan ini.

Dilansir dari situs resmi klub, manajemen meminta tiga hal yang dilandasi satu tantangan bersama.

“Tahun ini dan di tahun-tahun berikutnya kita memiliki tantangan yang sama. Bukan hanya tim di dalam lapangan tetapi juga divisi bisnis klub yang memiliki tujuan untuk meningkatkan jumlah pendukung klub yang mungkin dapat membantu tim meraih gelar di J1.”

Permintaan khusus yang diajukan manajemen klub berjuluk Fullie tersebut antara lain:

  1. Menyebut, membahas atau bercerita tentang klub Yokohama FC di media sosial masing-masing, menggunakan tagar #YokohamaFC agar semakin banyak orang yang tahu tentang klub dan menggaet calon pendukung baru.
  2. Melakukan interaksi dengan berbagai macam unggahan yang dikeluarkan media sosial klub dengan tujuan menyebarkan informasi tentang klub kepada followers termasuk orang-orang yang awalnya tidak menyukai Yokohama FC atau sepak bola sama sekali. (Interaksi ini misalnya melakukan retweet, reply, like dan lain-lain di berbagai platform media sosial klub)
  3. Mengajak keluarga, teman dan kenalan kalian untuk datang ke Stadion Mitsunawa dan menyaksikan Yokohama FC berlaga. Tidak hanya mendukung ketika menang, datang ke stadion berarti bergembira merayakan sepak bola. Klub berharap para penonton yang baru pertama kali datang ke stadion akan terus-terusan datang di kemudian hari.

Ketiga permintaan khusus ini menandakan bahwa klub yang terkenal dengan skuat tua-tua keladinya tersebut mengalami masa krisis. Di foto berikut adalah salah satu sudut stadion ketika legenda hidup Kazuyoshi Miura menyapa para penonton Fullie yang kebanyakan adalah para orang tua dan anak-anaknya.

Kredit: Twitter @yokohama_fc

BACA JUGA: Kaki Renta Kazuyoshi Miura yang Masih Berlari

Ilustrasi berikut menyenangkan sekaligus menyayat hati. Sosok seperti Miura dan Shunsuke Nakamura berhasil membawa nostalgia ke stadion kecil bernama Mitsunawa, karena mungkin para penonton yang hadir di sini ingin melihat lebih dekat para legenda hidup sepak bola Jepang. Singkatnya, semakin tua para pemainnya, semakin tua pula para penontonnya.

Lantas apakah regenerasi suporter berhasil di klub?

Tidak adil jika hanya satu sisi lapangan saja yang disorot. Mari berbaik sangka masih banyak pemuda-pemudi yang berdandan ala hooligan atau casual dengan pakaian serba hitam, menabuh genderang dan mengibarkan bendera-bendera besar sebagai tanda bahwa klub dan para suporternya masih punya semangat jiwa muda.

BACA JUGA: Menilik Akar Gaya Suporter Kasual di Stadion

Solusi cepatnya…

Heran ketika ada sebuah tim yang, maaf, sampai harus mengemis dukungan kepada suporternya sendiri. Terlebih dengan Yokohama FC yang memiliki sejarah lekat dengan suporternya sejak awal klub didirikan pada 1999.

Yokohama FC didirikan oleh Yokohama Fulie Sports Club, sebuah wadah suporter yang menolak rencana merger dua klub kota tersebut, Marinos dan Flügels.

Awalnya dua perusahaan besar yakni Nissan Motors dan All Nippon Airways (ANA) sama-sama memiliki dua klub sepak bola yang bersaing di kasta tertinggi. Nissan menaungi Marinos sementara ANA menaungi Flügels.

Singkat cerita kedua klub ini sepakat melebur menjadi satu. Nama F. di Yokohama F. Marinos sendiri merupakan singkatan Flügels, namun tidak semua suporter klub yang pernah menjuarai Piala Winners Asia 1995 ini ikhlas.

Reaksi keras inilah yang membuat Yokohama FC lahir, dan menjadikan mereka klub sepak bola Jepang pertama yang dimiliki suporter dan berkonsep socio seperti Barcelona.

Maka jelas ada pertanyaan besar, bagaimana bisa Yokohama FC memasuki fase kelam seperti ini?

BACA JUGA: J-League dan Daya Pikatnya Bagi Orang Asing

Jika melihat tiga permintaan khusus yang diminta manajemen klub, salah satu hal paling genting adalah kehadiran suporter secara nyata dan dekat, yakni memenuhi setiap sisi tribun yang ada.

Stadion Mitsunawa bukanlah stadion yang besar, kapasitasnya hanya sekitar 15 ribu penonton saja. Namun dalam 10 tahun terakhir stadion tak pernah terisi lebih dari sepertiganya.

Rata-rata jumlah penonton terendah didapat di tahun 2009 yakni 3.535 penonton per laga, sedangkan rekor tertinggi di tahun lalu hanya 6.141 penonton per laga. Yokohama FC sendiri sempat memecahkan rekor menjadi satu-satunya klub J2 yang mampu menembus angka lebih dari 10 ribu penonton per laga pada 2007 lalu.

Terbesit satu ide kecil sekaligus gila agar Yokohama FC bisa kebanjiran suporter, baik di dunia maya atau pun di dunia nyata, dan jawaban tersebut adalah merekrut pemain muda potensial dari Indonesia. Hal tersebut tentu berkaitan dengan stigma positif (maupun negatif) riuhnya suporter Indonesia di media sosial.

Tak jarang media sosial pemain/pelatih yang bermain untuk atau melawan tim asal Indonesia kebanjiran followers hingga cacian di kolom komentar. Fenomena tersebut menyeruak dalam dua kasus yang menimpa Lechia Gdansk dan penggawa timnas Vietnam, Doan Van Hau.

Sebelum merekrut Egy Maulana Vikri, siapa yang tahu nama Lechia Gdansk?

Beda halnya dengan Van Hau yang sempat berkarier di Eropa. Kolom komentar akun Instagramnya “jebol” diserang warganet yang kesal akibat ulahnya melanggar Evan Dimas di final SEA Games 2019.

Terbaru, klub kecil asal Serbia, FK Radnik Surdurlica, merekrut Witan Sulaeman berpengaruh pada naiknya jumlah followers mereka di Instagram.

Hingga tulisan ini diunggah, angkanya mencapai 8.000 lebih. Mereka pun mulai berani menulis unggahan dalam bahasa Indonesia demi menggaet lebih banyak pendukung.

Witan memang belum datang dan bermain untuk klub yang sudah berdiri sejak 1926 tersebut, namun mari berpikiran positif Witan bisa mengembangkan bakatnya di sana.

Terlebih banyak pelatih dan pemain Eropa Timur yang datang ke Indonesia dan tak menyangkal kemiripan kultur keduanya.

Sementara itu Liga Jepang seharusnya menjadi alternatif para pesepak bola muda Indonesia melanjutkan karier. Pola pikir Eropa-sentris harus diubah.

Tengok saja Thailand yang mulai rutin mengirimkan bakat-bakat terbaiknya ke sana. Jika saja ada pesepak bola muda Indonesia yang bisa bergabung dengan Yokohama FC suatu hari nanti, tiga permintaan khusus itu dalam sekejap bisa dipenuhi.

BACA JUGA: 5 Pemain Thailand di J1 League 2020