Suara Pembaca

Gelandang “Nomor 8”, Sang Maestro yang Tenggelam

Sosok ini selalu ada di dalam perkembangan sepak bola, khususnya dari sisi pemain sepak bola itu sendiri. Namun, sosok ini sering tenggelam namanya karena kontribusinya tersamarkan oleh pemain yang mencetak gol lebih dari 20, atau pemain yang memiliki kemampuan individu sangat bagus dan mencetak gol indah.

Sosok tersebut adalah gelandang tengah atau yang juga disebut dengan pemain nomor 8. Kenapa sosok ini menjadi pusat permainan dan selalu dibutuhkan oleh pelatih dan tim dalam menjalankan strategi, tetapi jarang sekali disorot dan “diapresiasi”? Mari kita bedah di artikel ini.

Pemain dengan posisi gelandang tengah awalnya merupakan gelandang untuk posisi tengah dan bertugas sebagai penyalur bola dari belakang ke depan. Tetapi dengan perkembangan sepak bola sekarang, pemain di posisi ini juga dituntut dapat mengembangkan permainannya.

Awal permainan harus dari “kakinya” terlebih dahulu, membagi bola, dan mengambil keputusan serangan akan dimulai dari mana, entah dari sayap atau tengah. Gelandang tengah juga dituntut dengan tingkat akurasi umpan yang tinggi, sehingga aliran bola tidak akan terputus oleh lawan.

Kita bisa lihat kesuksesan dari pemain yang berposisi gelandang tengah ini. Era 2000-an merupakan era emas dari pemain dengan posisi gelandang tengah, mulai dari Steven Gerrard yang mengantarkan Liverpool juara Liga Champions, Frank Lampard yang merengluh treble winners di Chelsea, duo Xavi-Iniesta yang menjadikan Barcelona sulit dikalahkan, serta legenda Brasil, Kaka, menjadi pemain terbaik dunia tahun 2009.

BACA JUGA: Sinar Redup Lucas Piazon, Sang Kaka Baru

Di zaman sekarang yang dituntut permainan cepat dari kaki ke kaki dan efektif,  gelandang tengah menjadi sosok sentral dalam permainan.

Kalian tahu Kevin De Bruyne bukan? Ia sebenarnya adalah pemain dengan karakteristik “nomor 10”, tetapi Pep Guardiola memaksa Kevin untuk turun lebih ke dalam dan mengambil peran gelandang tengah, sebagai pengatur serangan di Manchester City.

Kita juga tahu Liverpool sekarang tidak mempunyai gelandang yang “kreatif” untuk menjalankan permainannya. Mereka mengandalkan sayap-sayap yang cepat dan lincah untuk merepotkan pertahanan lawan, tetapi bagaimana bisa sayap-sayap Liverpool mengobrak-abrik pertahanan lawan tanpa ada umpan akurat dari para gelandangnya?

Inilah pentingnya peran Jordan Henderson dan Georginio Wijnaldum sebagai awal permainan Liverpool dan sebagai penyuplai bola untuk para pemain di lebar lapangan.

Kalian bisa melihat cuplikan gol Alex Oxlade-Chamberlain saat melawan Bournemouth. Bola berawal di kaki Henderson, yang melihat Chamberlain berlari ke arah gawang. Henderson langsung mengumpan ke Chamberlain dan dieksekusi dengan indah oleh Chambo.

Gol tersebut merupakan salah satu contoh bagaimana gelandang tengah ini menjadi sosok “maestro” dalam terciptanya gol.

BACA JUGA: Keputusan Tepat Takumi Minamino dan Liverpool

Indonesia pun juga memiliki gelandang-gelandang bertipe nomor 8. Seperti Firman Utina, Ahmad Bustomi, dan sekarang Evan Dimas Darmono.

Pentingnya sebuah tim memiliki pemain nomor 8 yang bagus, terlihat di final SEA Games 2019. Lini tengah Indonesia langsung oleh ketika Evan ditarik keluar karena cedera, sedangkan Syahrian Abimanyu yang menggantikan, kualitasnya belum sebaik seniornya.

Ketiadaan pemain nomor 8 yang berkualitas, membuat pemain lain merasa bingung ingin bermain seperti apa dan dioper ke siapa untuk membangun serangan.

Sayap Garuda biasanya sangat lincah, tetapi setelah Evan ditarik karena cedera, alur serangan langsung tersendat. Hal ini membuktikan bahwa pemain di posisi nomor 8 begitu penting di permainan timnas kita.

Perkembangan sepak bola di dunia memang sangat dinamis, tiap masa mempunyai pemain-pemain bintang yang lahir dan bersinar di eranya. Tetapi bagi penulis sendiri, posisi yang sulit tegantikan adalah gelandang tengah “nomor 8” ini.

Meskipun sering dicemooh karena “malas” mengejar bola, terlambat turun membantu pertahanan, tetapi peran dari gelandang ini sangat dibutuhkan oleh tim sebagai “maestro” di lapangan dan “otak” dari skema penyerangan tim.

 

*Penulis adalah seorang blue moon of Manchester yang ingin berbagi perspektif di dunia sepak bola dengan menulis. Bisa ditemui di akun Twitter @rey_nalda