Nasional

Siapkah Seto Nurdiantoro Latih Timnas Indonesia?

Pria berwajah dingin itu memberi sedikit jawaban. Melalui media sosial pribadinya ia memberi sinyal untuk tim nasonal. Tak terkecuali dirinya, semua pemain dan pelatih tentu punya impian sampai ke level tertinggi yaitu timnas.

Nama Seto Nurdiantoro belakangan memang santer dikaitkan dengan kursi pelatih tim nasional. Setelah dibuat kecewa oleh performa Simon McMenemy dan anak asuhnya, banyak pihak menuntut segera terjadi perubahan besar di tim Garuda. Dan nama pria asal Kabupaten Sleman menjadi yang terdepan diajukan sebagai calon pengganti.

Menanggapi hal demikian, dengan tetap rendah hati Seto berujar, siap tidak siap bila amanah datang dari negara maka harus diemban dengan baik. Hal ini seraya kesediaannya menyembuhkan sayap-sayap Garuda yang tengah terluka usai empat kekalahan beruntun.

Bila memang perubahan itu benar-benar terjadi nantinya, pelatih 45 tahun itu memiliki sedikit mimpi. Angannya dapat berduet bersama sahabatnya, coach Rahmad Darmawan. RD sebagai pelatih kepala dan ia sendiri menjadi aistennya.

Menurut Seto kapasitas RD sebagai pemimpin telah teruji. Ia bahkan mengibaratkan bila RD sebagai otak besar, sementara dirinya sebagai otak kecil kiri.

View this post on Instagram

Terimakasih netizen yg mensupport saya untuk berperan di Timnas. Bagi semua pelatih dan pemain tentunya punya impian sampai ke level yg tertinggi yaitu Timnas… Sebagai seorang bangsa, siap tidak siap, kalo amanah itu dari negara harus diemban dg baik… Tapi untuk saat ini kita harus dukung & mendoakan tim pelatih serta staff timnas, bagaimanapun mereka telah bekerja keras untuk timnas… Janganlah kita menjadi pecundang atau pengkhianat bangsa ini… Kalo boleh saya punya mimpi atau opini , semisal terjadi perubahan tim pelatih , angan2 saya coach Rahmad Darmawan sbg pelatih kepala , dan saya sebagai asistennya . Kapasitas beliau sbg pemimpin sudah teruji… Anggaplah coach RD sebagai otak besarnya , sementara saya sbg otak kecil kanan dan otak kecil kiri… Salam Damai…..🙏🏻

A post shared by Seto (@seto_nurdiyantoro) on

Baca juga: Kerinduan pada Luis Milla Sudah Basi

Seto memang telah memiliki modal yang cukup untuk sampai ke level tertinggi, duduk di kursi pelatih tim nasional. Secara lisensi, AFC Pro telah dikantongi. Syarat yang cukup dan pantas untuk menjadi pawang Garuda.

Secara pengalaman, catatan membawa PSS Sleman juara Liga 2 dan promosi ke kasta tertinggi, bahkan masih nyaman di papan tengah di musim pertama, bisa menjadi pertimbangan. Taktik, strategi, serta gaya bermain atraktif dengan aliran bola pendek dari kaki ke kaki ciri khas yang diterapkan bersama Super Elang Jawa juga dirasa cocok diterapkan bersama tim nasional.

Selain itu, pribadi rendah hati dan dikenal memiliki kemampuan pendekatan dengan pemain yang baik serta memiliki kemampuan memompa motivasi, menjadi modal lain.

Pertanyaan yang berikutnya muncul adalah apakah publik sepak bola Sleman rela melepas putra daerahnya? Atau apakah Seto siap sejenak berpisah setelah begitu banyak kenangan di Utara Yogyakarta?

Publik sepak bola Sleman tentu tidak akan mudah melepas pelatih yang telah mengantarkan gelar juara dan promosi ke kasta tertinggi sebagai pencapaiannya. Terlebih kepercayaan besar telah mereka serahkan kepadanya.

Sedangkan untuk Seto, tentu tidak akan terlupa ketika air matanya bercucuran di tepi lapangan Stadion Maguwoharjo saat Rangga Muslim memeluknya erat. Begitu juga kala tubuhnya dihempaskan ke udara oleh seluruh anak asuhnya. Bersama tubuh mungilnya, air mata juga cinta berhamburan ke udara. Saat itu PSS Sleman dipastikan promosi ke kasta tertinggi. 

Baca juga: Seto Nurdiantoro dan Cinta di Utara Yogyakarta

Atau kenangan ketika ia berdiri dengan sikap dingin di tepi lapangan Stadion Pakansari lengkap dengan jersey Handika Arga yang ia kenakan. Tidak ada kebahagiaan berlebihan saat itu. Padahal sesaat sebelumnya tim asuhannya berhasil menjuarai Liga 2.

Seto juga pasti masih ingat ketika tribun selatan Maguwoharjo berubah mozaik bertuliskan namanya. Entah apa yang dirasakan saat itu. Dengan wajah dingin dari depan bangku cadangan, Seto menatap koreografi tersebut. Sedangkan di sisi lain, seluruh tribun betebaran kalimat “In Seto We Trust” dan “We Believe, Coach”. Pesan tersebut dikirimkan suporter ketika khawatir dengan niatan dirinya untuk meninggalkan Super Elang Jawa.

Kini pilihan itu ada di tangan Seto. Tetap bersama PSS Sleman, atau mengejar mimpi ke level tertinggi bersama tim nasional. Satu yang Seto Nurdiantoro perlu tahu, Bumi Sembada akan selalu menjadi tempatnya kembali.

Seperti kala menjadi pemain. Putra daerah yang dibesarkan PSS Sleman, melanglang buana hingga menjadi pemain bintang di klub lain. Namun pada akhirnya ia pulang ke Bumi Semabada tempat cintanya tubuh bersama Super Elang Jawa.