Cerita

Seto Nurdiantoro dan Cinta di Utara Yogyakarta

Semula Seto Nurdiantoro berniat mundur dari kursi pelatih PSS Sleman usai dua kekalahan beruntun atas PSIS Semarang dan Bali United. Sebenarnya dua kekalahan tersebut bukanlah hasil yang terlalu buruk bila melihat catatan keseluruhan. Hingga pekan ke-9 Shopee Liga 1 2019, Super Elang Jawa baru tiga kali kalah dan bertengger di posisi 10 klasemen sementara.

Niatan Seto untuk meninggalkan Laskar Sembada langsung memancing respon pendukung setianya. Bukan membenarkan niatan Seto untuk pergi, para fans justru menginginkan Seto tetap bertahan dan berjuang bersama.

Mulai dari media sosial yang diramakan tagar #InSetoWeTrust, hingga koreografi di stadion khusus dipersembahkan oleh penghuni tribun kepada pelatih yang membawa PSS Sleman promosi ke Liga 1 musim ini.

Baca juga: Dave Mustaine dan Rumah yang Terlalu Nyaman Bernama PSS Sleman

Pada pertandingan PSS Sleman menghadapi Barito Putera, Sabtu sore (27/7), suporter yang risau akan niatan Seto untuk pergi berusaha menyakinkannya agar tetap di Maguwoharjo. Kalimat-kalimat dukungan itu menyebar di tribun. Yel-yel dukungan juga diteriakkan.

Tepat setelah jeda pertandingan, tribun selatan mempersembahkan hal lebih besar untuk pria berwajah dingin. Koreografi hari itu dipersembahkan khusus untuknya. Seluruh tribun selatan dihiasai kertas berwarna putih, hijau, dan hitam dengan konfigurasi nama sang pelatih yang berniat pergi, “SETO”.

Selain itu kalimat “In Seto We Trust” dan “We Believe, Coach” jelas menjadi sebuah pesan bila mereka coba mempertahankan kebersamaannya dengan Seto.

Dengan wajah dingin penuh misteri, Seto sempat menatap koreografi tersebut dari tempatnya berdiri di depan bangku pemain cadangan. Entah apa yang dirasakannya saat itu.

Seusai laga, ketika menyanyikan anthem PSS Sleman, Seto tidak lagi mampu menyembunyikan perasaannya. Ketika Sampai Kau Bisa dinyanyikan dengan khidmat seluruh penghuni teribun stadion, mata Seto terlihat berkaca-kaca. Tidak ada lagi wajah dingin ketika lirik “Percaya kita kan rayakan kawan…” disuarakan dengan nada lebih tinggi.

Namun Seto punya pemikirannya sendiri. Usai laga ia mengungkapkan bila sebelumnya ia pernah bilang kemungkinan akan mundur. Alasannya karena ia mencintai tim ini, dan ingin tim ini tetap eksis.

Seto berpikiran bila tim yang saat itu berada di peringkat sepuluh masih bisa dibenahi, dan keputusannya untuk mundur agar pembenahan itu segera bisa dilakukan, mungkin dengan pelatih selain dirinya. Seto tidak ingin terlambat mundur saat tim yang dicintainya telah terpuruk.

“Karena saya tidak ingin mundur di saat tim ini sedang terpuruk,” dikutip dari laman resmi klub.

Baca juga: Bunda Temmy, Tentang Tribun Tanpa Asap di Jakarta

Untuk apa yang dipersembahkan suporter padanya hari itu, Seto mengaku terharu dan mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas dukungan untuk dirinya. Seto juga mengaku mencintai klub beserta seluruh suporternya. Namun apapun keputusannya nanti, semua juga demi klub yang dicinta.

“Saya mencintai tim ini, suporter. Menurut saya ini luar biasa. Tapi apapun nanti keputusan saya, saya ingin tim ini tetap eksis. Saya mohon maaf tidak bisa memberikan sore ini.”

Kini dua pertandingan setelah pertadingan sore itu di Sleman, nyatanya cinta masih mampu membuat Seto bertahan. Hasilnya, berkat cinta dan kepercayaan yang saling berbalas, PSS Sleman masih bisa bertahan di jalur yang semsestinya.

Dari dua pertandingan tandang, Super Elang Jawa mampu mengalahkan tim kuat Madura United dan menahan imbang Borneo FC di kandangnya.

Kecintaan Seto dengan PSS Sleman memang luar biasa. Sebagai putra daerah, Seto ditempa menjadi pemain yang siap bertualang di Bumi Sembada sebelum kariernya melambung bersama PSIM Yogyakarta.

Baca juga: Mencintai PSIM dengan Kedewasaan Berpikir, Logika, dan Perasaan

Meski melesat jauh menjadi pemain bintang, sang putra daerah tidak lupa jalan pulang. Setelah membela Laskar Mataram dan Pelita Solo, nampaknya separuh hatinya masih tertinggal di Sleman. Ia pun kembali dan membawa  Super Elang Jawa menuju masa keemasannya.

Cinta itu juga tergambar di akhir tahun lalu. Tentu semua masih ingat ketika air mata pria yang biasa berwajah dingin di tepi lapangan bercucuran. Usai membawa anak asuhnya menang atas Kalteng Putra, tangisnya semakin pecah ketika Rangga Muslim memeluknya.

Meski berurai air mata, senyum dan cinta berhamburan ketika tubuh 45 tahunnya dilemparkan ke udara oleh seluruh anggota tim.

Pertandingan itu adalah semi-final Liga 2 yang dengan kemenangannya membawa PSS Sleman melaju ke kancah tertinggi sepak bola negeri ini.

Hubungan Seto Nurdiantoro dengan PSS Sleman dan seluruh pendukungnya adalah cinta yang tumbuh di urat Yogyakarta. Dari kabupaten kecil, kepercayaan dan dukungan penuh membuat cinta itu terus berkembang.