Suara Pembaca

David Luiz, Nyeleneh dan Penuh Kejutan

Siapa sangka bek berambut kribo ini bakal pindah haluan. Belum genap tiga bulan usai memperpanjang dua tahun masa baktinya di Stamford Bridge, secara tiba-tiba, mahar 8 juta paun membawanya menyeberang ke Emirates Stadium. Ratusan fans Chelsea pun dilanda kekalutan. Pasalnya, David Luiz masih dianggap sosok sentral di lini pertahanan dan salah satu pemain senior di ruang ganti.

Bukan David Luiz namanya jika tidak pandai membuat kejutan. Saat masih ranum-ranumnya di Benfica, ia menjadi fenomena. Namanya disanjung sebagai talenda muda terbaik Brasil saat itu. Kepiawaiannya mengisi berbagai macam pos di lini bertahan, membuat banyak tim besar meliriknya. Sampai suatu hari di musim dingin, menjelang bursa transfer Januari ditutup, David Luiz menuju London Biru. 

Kepindahannya mengejutkan suporter Benfica yang merasa David Luiz wajib menyelesaikan tugasnya hingga akhir musim. Sayangnya, tarikan Chelsea terlalu kuat. Manajemen Benfica juga tidak mau ambil pusing. Mahar 22,5 juta paun ditambah Nemanja Matic begitu menggiurkan. Akhirnya, musim dingin tahun 2011 David Luiz habiskan di bawah cuaca London yang bersalju.

Satu setengah tahun pertama di Chelsea, David Luiz menjelma sebagai pujaan baru suporter The Blues. Karakternya yang humoris, lucu, nyeleneh, nyentrik, dan terkadang menjengkelkan, membuat suporter mudah mengingat dirinya. Apa lagi ditambah rambut kribo lebat di kepalanya, bikin Luiz kerap jadi sorotan di tengah lapangan. Kedekatan dan keramahannya pada mereka yang di tribun, makin membesarkan namanya.

Baca juga: Tiga Sosok Kunci Arsenal di Bursa Transfer Musim Panas

Momen kocak dan nyeleneh pernah Luiz peragakan di Old Trafford, Mei 2013. Usai berebut bola dengan Rafael, David Luiz terjatuh. Namun, Rafael melakukan aksi lanjutan dengan menendang David Luiz.

Sontak, si kribo ini terlihat mengerang kesakitan, tapi lucunya saat kamera menyorot dekat dirinya, ia malah sedang terkekeh. Sampai hari ini, potongan capture David Luiz tertawa kerap dijadikan meme oleh akun-akun troll sepak bola. 

Tidak hanya dari sisi karakter, permainannya di lapangan adalah alasan lain. Berkat kelugasannya di lini bertahan, Chelsea sukses meraih trofi Liga Champions musim 2011/2012. Pemain berjuluk Geezer ini merupakan bagian dari skuat fantastis saat malam penuh kejutan di Munich. Di bawah arahan Roberto Di Matteo, Luiz bak bus besar yang sanggup menghadapi gelombang serangan apapun. Buktinya, Robben dan kolega tertunduk lesu di akhir drama adu penalti.

David Luiz masih di Chelsea musim depannya, dengan tambahan satu trofi Liga Europa musim 2012/2013. Entah angin apa yang menerpa rambut kribo Luiz, ia malah memutuskan menuju Paris Saint-Germain (PSG) pada transfer musim panas tahun 2014. Padahal, dirinya diharapkan sebagai penerus John Terry, memimpin rekan-rekannya di pos bertahan. Bahkan, namanya disinyalir sebagai kandidat kuat kapten masa depan.

Baca juga: Berkah di Balik Larangan Belanja Pemain

Sebagai mantan saat itu, David Luiz lagi-lagi membuat publik Stamford Bridge terkejut bukan main. Luiz mencetak satu gol tandang, saat PSG melawat ke Stamford Bridge pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions 2014/2015. Harapan Chelsea pupus, dan kejamnya, Luiz sempat berselebrasi di hadapan bekas pendukungnya. Begitu menyakitkan bukan?

David Luiz berada di puncak kariernya saat membela Brasil di Piala Dunia 2014. Sebagai tuan rumah, optimisme menyala terang bagi skuat Selecao. Terutama bagi Luiz, gelar Piala Dunia akan semakin menahbiskan namanya sebagai bek top dunia.

Terlebih saat itu, ia sudah meraih dua gelar kompetisi bergengsi di Eropa. Nahas, optimisme itu berakhir dengan pembantaian. Penampilan Luiz jadi sorotan. Kecerobohannya –bersama Dante– membuat Brasil menanggung malu dicukur dengan skor 7-1. 

Saat pendukung Chelsea telah melupakan David Luiz, Antonio Conte membawanya kembali di penghujung bursa transfer musim panas tahun 2016. Di antara deretan bek potensial, Conte malah mendaratkan sang mantan, yang di mata orang Brasil kerap dianggap pembawa sial. Fans Chelsea harap-harap cemas. Mampukah si kribo bisa kembali ke performa terbaiknya atau malah bikin tim makin sial?

Rupanya, kecemasan itu berbuah kejutan. Kesialan menjauh dari si kribo. David Luiz mempersembahkan Liga Inggris musim 2016/2017 bagi Chelsea. Si kribo ternyata kepingan terakhir yang dicari Conte. Seorang bek yang bukan hanya pandai menekel, tapi mampu menginisiasi serangan dari lini belakang dan mengirim umpan-umpan yahud ke lini depan. Musim berikutnya, Luiz masih sanggup merengkuh trofi Piala FA, sebagai pengantar kepergian Conte dari Stamford Bridge.

Musim lalu nyatanya jadi yang terakhir bagi Luiz. Sekali lagi, bersama Maurizio Sarri, pemain kelahiran Sao Paulo itu mencicipi trofi Liga Europa. Di saat semua pendukung The Blues masih mengharapkan tenaganya, Luiz memilih pergi. Ketakutan akan kehilangan tempat jadi alasan. Apa lagi, koleganya di final Liga Champions 2011/2012, Frank Lampard, yang saat ini sebagai pelatih Chelsea, begitu menyukai pemain muda. 

David Luiz meninggalkan Chelsea masih dengan kejutan yang sama. Di akhir bursa transfer musim panas, di saat Chelsea butuh pemain bintang sepeninggal Eden Hazard.

Chelsea baru saja kalah 0-4 dari Manchester United, dan takluk lagi di laga Piala Super Eropa kontra Liverpool. Salah satu faktor kekalahan itu adalah keroposnya lini belakang. Mungkinkah mereka sedang rindu David Luiz? Geezer kemungkinan tidak akan balik lagi. Kalaupun berkunjung, tentu dengan seragam Arsenal bernomor punggung 23. 

 

*Penulis adalah blogger dan jurnalis paruh waktu. Penikmat sepak bola dari pinggiran. Dapat ditemui di akun Twitter @bedeweib.