Cerita

Langkah Salah yang Diambil Perseru Badak Lampung FC

Tahun 2019 sepak bola Indonesia kembali kedatangan klub baru yang akan bertarung di kasta tertinggi Liga 1. Setelah PS TIRA pindah (pulang) kandang ke stadion Pakansari, kini giliran Perseru Serui yang berganti nama dan markas. Namun ternyata ada langkah salah yang diambil Perseru Badak Lampung FC ketimbang klub-klub ‘siluman’ lainnya.

Pertama, mari sepakat bahwa tulisan ini bukan sebuah sikap anti atas polemik jual-beli klub yang marak terjadi, terlebih sikap anti terhadap Perseru Badak Lampung FC. Tulisan ini lahir dari buah gagasan yang semoga menjadi kritik membangun bagi manajemen klub yang nanti bermarkas di stadion Sumpah Pemuda Way Halim.

Sebab proses pembelian serupa juga pernah menimpa klub sekelas Putra Samarinda yang kemudian berpindah markas dari Samarinda ke Bali sehingga lahirlah (Pusam) Bali United.

Atau Perseba Super Bangkalan yang diakuisisi oleh Pusamania, kelompok suporter Putra Samarinda yang tak puas dengan kondisi klub saat itu, hingga lahirlah (Pusamania) Borneo FC yang menapaki mimpi bermain di kasta tertinggi dari Divisi Utama Liga Indonesia 2014.

Istilah pindah kandang atau home base yang sampai mengorbankan perubahan nama klub sebenarnya jamak terjadi di Indonesia sejak jaman Persijatim Solo FC menjadi Sriwijaya FC atau jauh sebelumnya di era peralihan Galatama ke Liga Indonesia saat NIAC Mitra Surabaya menjadi Mitra Kutai Kartanegara.

Namun cerita kepindahan (dan kehilangan) Perseru Serui ke Lampung menjadi cerita sedih karena kembali klub asal Papua harus berguguran satu per satu. Mulai dari Persiram Raja Ampat yang kini menjelma menjadi salah satu klub korps, hingga Persiwa Wamena yang pindah ke Cirebon dan merger dengan Bina Putera FC.

Baca juga: Persiwa Wamena, Satu Lagi Klub Papua yang ‘Hilang’ karena Merger

Klub yang kini dimiliki oleh Marco Gracia Paulo, salah satu ‘orang lama’ di sepak bola Indonesia, sebenarnya hadir di saat yang tepat manakala nafas Kuda Laut Oranye kembang kempis. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen pun ikhlas jika klub ini harus berganti pemilik.

Apalagi memang jelang Liga 1 2019, meski melahirkan dan memiliki segudang talenta, nyatanya Perseru memiliki beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan salah satunya stadion Marora yang dinilai belum layak menggelar laga di malam hari.

Namun hingga ‘nafas terakhir’-nya tak satupun pemain, pelatih, atau manajemen mengeluh dengan keadaan yang serba susah. Secara finansial mereka terlihat masih sanggup melakukan away day sama atau bahkan lebih jauhnya dari yang biasa dilakukan kontestan lainnya ke Marora.

Sebelum ‘wafat’ dan ‘berganti wajah’ pun Perseru masih tampil spartan di turnamen pra-musim Piala Presiden 2019 meski dengan skuat seadanya. Namun sayang ternyata langkah salah yang diambil Perseru Badak Lampung FC di luar dugaan banyak pihak.

Satu langkah salah yang mereka ambil adalah ketidaksiapan manajemen baru membuat tim media sosial dan lain sebagainya. Mulai dari logo yang dituding menjiplak salah satu klub kasta bawah Amerika Serikat, hingga rumor transfer eks gelandang Bali Devata, Raphael Maitimo, yang ternyata hanya isapan jempol belaka.

Perseru mampu memaksimalkan raihan poin Perseru Serui di Go-Jek Liga 1

Warisan Serui yang tak bersisa

Pindah home base ke Lampung menjadi tajuk utama yang dilakukan manajemen, dan di saat ini masih ada harapan bahwa stadion Marora bisa dipugar sehingga Perseru suatu hari nanti bisa pulang kembali. Namun nyatanya mimpi itu segera kandas karena pada akhirnya tim ini benar-benar akan hijrah ke Bumi Ruwa Jurai.

Hal tersebut lumrah seperti halnya tim-tim yang disebutkan di atas mulai dari Persijatim Solo hingga NIAC Mitra Surabaya. Namun langkah salah lainnya yang dilakukan manajemen tim adalah tak bersisanya warisan Perseru Serui di daftar skuat sementara Perseru Badak Lampung FC.

Melalui akun instagram (yang akhirnya) resmi @badaklampungfc tak ada nama-nama seperti Hendra Molle, Joshua Meraudje, Yericho Christiantoko atau Delfin Rumbino yang membela panji Kuda Laut Oranye untuk terakhir kalinya di Piala Presiden 2019.

Jika pun ingin menampilkan nuansa nostalgia Perseru, terselip nama Kunihiro Yamashita dan dua talenta Papua, Frengky Kogoya dan Melcior Majefat sementara sisanya benar-benar nama baru yang diambil dari seleksi internal tim.

Sosok Jaino Matos yang sempat menjadi direktur teknik Perseru kembali hadir, namun tidak dengan kemudi kapal yang kini dipegang Jan Saragih, pelatih muda yang mampu membawa Bogor FC promosi ke Liga 2 2019. Padahal pelatih Perseru sebelumnya Putu Gede punya bekal pengalaman untuk sekali lagi mengarungi Liga 1 dengan gaya catenaccio-nya.

Baca Juga: I Putu Gede dan Racikan Pertahanan Kokoh Perseru Serui

Pasca-selesainya Liga 1 2018 beberapa pemain Perseru memang memilih hengkang ke klub lain, sebut saja Arthur Bonai yang kini berseragam PSIS Semarang atau Donny Harold yang pindah ke Barito Putera. Namun nama-nama lain yang disebutkan sebelumnya rasanya masih pantas mencicipi Liga 1 2019.

Tapi yang dilakukan manajemen Perseru Badak Lampung di luar pikiran saya. Langkah ini jelas langkah yang salah, mengingat Bali United, Borneo FC atau Bhayangkara FC dan TIRA-Persikabo pun setidaknya tetap membawa pemain-pemain lama ke klub ‘baru’.

Borneo FC misalnya, yang saat itu mengambil alih Perseba Super Bangkalan, di awal eksistensinya tetap mempertahankan pemain dan ofisial yang ada tinggal menambah beberapa penggawa seperti Danilo Fernando dan pelatih kawakan Nus Yadera untuk mengarungi Divisi Utama Liga Indonesia 2014.

Bali United di tahun pertamanya pun tetap membawa gerbong pemain Putra Samarinda seperti Sultan Samma, Bayu Gatra bahkan Fadil Sausu pun dipercaya sebagai kapten oleh Indra Sjafri kala itu. Bahkan di kemudian hari seolah tak mau kehilangan ‘sentuhan Samarinda’ Ilija Spasojevic yang pernah membela Pesut Mahakam di 2013, seolah pulang saat menerima pinangan Bali United di 2018.

Dua klub korps, Bhayangkara FC dan TIRA-Persikabo, pun tetap membawa gerbong pemain lama tiap kali mereka berganti wajah meski kemudian didominasi juga para pesepak bola yang berlatar polisi atau tentara.

Memang tak ada salahnya merebut hati para pencinta sepak bola di Lampung dengan mengedepankan pemain lokal Lampung untuk membela klub baru ini. Namun tak salah juga tetap mempertahankan para mutiara dari Timur Indonesia yang terkenal dengan julukan Brasil-nya Indonesia untuk tetap memperkuat tim.

Semoga saja ke depannya manajemen klub ini tak kembali mengambil langkah yang salah seperti blunder di media sosial dan skuat yang benar-benar baru. Semoga saja klub ini bisa sintas di kasta tertinggi Liga 1 2019 meski banyak yang mencibir dan mendoakan mereka langsung terdegradasi.