Cerita

Rentetan Kesialan Persija Jelang Kualifikasi Liga Champions Asia

Persija Jakarta menjadi wakil Indonesia yang tengah berjuang untuk bermain di kompetisi tertinggi antarklub di Asia, Liga Champions Asia. Tapi nahas, Macan Kemayoran tengah limbung jelang laga kontra wakil Australia, Newcastle Jets, Selasa (12/2) esok. Banyak kesialan-kesialan yang menimpa Persija jelang kualifikasi ronde kedua LCA 2019.

Persiapan tim berjuluk Macan Kemayoran tersebut akhir-akhir ini terganggu dengan beberapa problematika baik di dalam maupun di luar tim. Awal bulan ini klub dikejutkan dengan mundurnya dua sosok di balik kesuksesan Persija dalam beberapa tahun terakhir.

Mereka adalah Direktur Utama Persija, Gede Widiade, dan COO (Chief Operating Officer) Persija, Muhammad Rafli Perdana. Keduanya mengadakan jumpa pers pada Rabu (6/2) lalu di kantor klub yang terletak di Duren Tiga, Jakarta Selatan dan menyatakan bahwa per 1 Februari 2019 sudah tak berada di klub ibu kota tersebut.

Bahkan usai mundurnya dua sosok ini, berbondong-bodong para pemangku jabatan di klub mulai dari Direktur Pemasaran, Andika Suksmana, hingga manajer tim U-16, Erwan, tak lagi berada di tubuh klub menyusul kepergian Gede Widiade, sebagaimana dikutip dari detikSport pada Kamis (7/2).

Sosok pengusaha berdarah Bali ini memang memiliki kharisma tersendiri, apalagi dirinya dikenal sebagai sosok yang ramah dan dekat kepada media serta pendukung setia Persija, Jakmania.

Gede merupakan sosok yang dapat dibilang berhasil membawa gelar bagi klub yang dipegangnya. Tercatat Bhayangkara FC dan Persija Jakarta telah merasakan magis dari tangannya sebagai juara Liga 1 2017 dan 2018.

Sementara M. Rafli menjadi sosok yang baru-baru ini muncul ke publik dan menyuarakan pertanggung jawaban dari ucapan Vigit Waluyo, yang mengatakan bahwa gelar juara Liga 1 milik Persija (dan Liga 2 milik PSS Sleman) sudah di-setting.

Sayang kepergian sejumlah personel di luar ruang ganti ini menjadi kado buruk pasca-kemenangan Andritany Ardhiyasa dan kawan-kawan di kualifikasi ronde pertama Liga Champions Asia kontra wakil Singapura, Home United.

Baca juga: Persija dan Cerita dari Singapura

Bahkan tak sampai di situ, usai keluarnya Gede Widiade pun dikabarkan Sang Macan mulai berjalan limbung. Dikabarkan lebih lanjut Persija kini tak punya kepastian tempat untuk sekedar berlatih. Lapangan AU Halim Perdana Kusuma yang biasanya jadi sarang Sang Macan untuk berlatih pun belum tentu dapat kembali digunakan musim ini.

Sementara tempat berlatih anyar di kawasan Pancoran, Jakarta Timur, belum sepenuhnya selesai. Fasilitas baru tersebut juga terlaksana berkat sosok Gede yang disambut antusias oleh Jakmania yang juga berterima kasih padanya karena membuat Persija, setidaknya dalam dua tahun terakhir, tak menunggak gaji para pemainnya.

Posisi kendali Persija Jakarta saat ini kembali ke tangan Ferry Paulus, pengusaha asal Manado yang pernah menjadi presiden klub itu kini ditunjuk para pemegang saham untuk menjadi CEO Persija di 2019. Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Persija Jakarta, Kokoh Afiat.

“Karena saya kurang berpengalaman di bidang sepak bola, pemegang saham menunjuk dan menetapkan Pak Ferry Paulus sebagai CEO yang mengurus soal sepak bola,” ujar Direktur Utama Persija, Kokoh Afiat, di Jakarta sebagaimana dilansir dari Tempo.co.

Simic dan Specs

Kesialan yang mengikuti hingga ke Negeri Kanguru

Kesialan Sang Macan semakin bertambah saat menjejakkan kaki di Australia. Pasalnya, sejumlah pemain sempat tertahan di bandara Sydney oleh pihak imigrasi Australia. Beberapa sumber menyatakan enam sampai tujuh pemain sempat diperiksa aparat termasuk bomber asal Kroasia, Marko Simic.

Baca juga: Pesta Ulang Tahun Ala Marko Simic

Simic yang mencetak satu dari tiga gol kemenangan Persija kontra The Protectors di kualifikasi ronde pertama sempat tak diizinkan masuk ke Australia bersama enam pemain lainnya karena permasalahan nama di paspor mereka. Manajer Persija, Ardi Tjahjoko, pun memaklumi hal tersebut karena Australia tengah memperketat pengamanan negara.

Tak hanya di situ, sudah menjadi rahasia publik bahwa Macan Kemayoran tak dapat memainkan tiga penggawa asing mereka, Jahongir Abdumuminov (Uzbekistan/gelandang), Vinicius ‘Neguete’ Lopes (Brasil/bek), dan Bruno Matos (Brasil/gelandang) akibat belum diterbitkannya International Transfer Certificate mereka.

Hal tersebut terjadi karena mundurnya Liga 1 ke bulan Mei, sehingga secara sah jendela bursa baru dapat dibuka sebulan menjelang liga bergulir. Persija pun terpaksa meminjam dua pemain dari klub yang musim ini tengah bertabur bintang, Madura United.

Kedua pemain tersebut adalah bek Jaimerson Xavier yang musim lalu membela Persija, dan Beto Goncalves striker naturalisasi yang sudah kenyang pengalaman di kompetisi Asia bersama mantan klubnya, Persipura Jayapura.

Sayang kabar terbaru Jaimerson kembali tak dapat bergabung dengan tim karena ia memiliki masalah KITAS (Kartu Izin Tinggal Sementara) yang harus diurus di Indonesia. Bek tersubur kedua di Go-Jek Liga 1 2018 ini juga sebelumnya menjalani akumulasi kartu yang didapat di Piala AFC 2018  sehingga tak dapat membela Persija kontra Home United.

Dengan serentetan peristiwa buruk yang menimpa Persija Jakarta, akankah mereka masih dapat meraih tiket ke kualifikasi ronde terakhir dan berjumpa Kashima Antlers? Atau mereka harus terlempar ke Piala AFC dan kembali merajut mimpi tampil di kompetisi ‘kasta kedua’ di Asia tersebut?