Piala Dunia 2018

Olivier Giroud, Penyerang yang Lebih Berbahaya Saat Membelakangi Gawang

Penyerang berparas mirip Adam Levine itu sekarang bisa menyombongkan dirinya di hadapan para penyerang papan atas. Olivier Giroud memang bukan striker kelas satu, tapi dia sekarang menjadi yang nomor satu di dunia bersama Prancis. Bahkan yang lebih mencengangkan lagi, Olivier Giroud bisa melakukannya tanpa gol.

Percaya tidak percaya, ini fenomena yang lucu. Penyerang dalam bahasa Inggris disebut striker atau goal-getter. Perannya adalah “to strike” yang artinya untuk menyerang, atau “goal-getting” yang artinya mencetak gol. Giroud, lucunya, sangat jauh dari identitas itu selama di Rusia pertengahan tahun ini.

Mendengar namanya saja orang-orang sudah bertanya-tanya. Bagaimana seorang Giroud yang bukan tumpuan utama di Chelsea dan sebelumnya lebih sering jadi bahan guyonan di Arsenal, justru dibawa Didier Deschamps ke Rusia, menyingkirkan Alexandre Lacazette dan Karim Benzema?

Kalian boleh heran, tapi ingatlah bahwa ini adalah Piala Dunia, bukan lowongan pekerjaan. Curriculum Vitae (CV) tidak selamanya berpengaruh pada kepastian ikut tidaknya seorang pemain berpartisipasi bersama negaranya di Piala Dunia.

Itulah yang dilakukan Deschamps ketika mencantumkan nama Olivier Giroud, dengan tempat dan tanggal lahir Chambéry, 30 September 1986, dalam daftar susunan pemain tim nasional Prancis di Piala Dunia 2018.

Peran tak terlihat Giroud

Seorang pria seperti Deschamps, yang sebagai pemain pernah menjuarai Piala Dunia 1998 dan sebagai pelatih membawa Les Bleus menjadi finalis Piala Eropa 2006, tidak mungkin melakukan sesuatu di timnya tanpa pertimbangan. Itulah karenanya, Prancis tetap bisa bermain dengan nyaman, walau Giroud menjalani kemarau gol di dinginnya Rusia.

Giroud merupakan tipikal penyerang murni, atau pemain nomor 9 kalau mengacu pada istilah Louis van Gaal. Tugas utamanya adalah menjadi pemain yang berdiri paling depan, untuk menyantap umpan-umpan matang dari rekannya. Namun sayangnya Giroud bukan Ruud van Nistelrooy, dan ia dengan cerdas memanfaatkan kelemahannya itu.

Sebagai pemain yang berpostur tinggi besar, Giroud adalah daya tarik bola udara. Bukan hanya untuk rekan-rekannya, tapi juga bagi lawan-lawannya. Dengan bola datang menghampiri kepala Giroud, setidaknya akan ada dua pemain yang mendekati pemain setinggi 193 sentimeter tersebut.

Baca juga: 11 Pemain Terbaik Prancis yang Tidak Terangkut ke Piala Dunia 2018

Satu pemain untuk berduel langsung dengan Giroud, dan satu pemain lagi untuk melapis di belakangnya, untuk mengantisipasi bola liar. Dengan minimal dua pemain menjaga satu pemain, artinya akan ada ruang yang terbuka, dan di situlah pemain Prancis lainnya masuk. Bisa Antoine Griezmann, bisa Kylian Mbappé, atau siapapun yang melihat celah mencetak gol.

Gol Paul Pogba saat melawan Australia contohnya. Giroud sukses menarik perhatian lawan dengan menerima bola, dan ketika ada rekannya yang mendekat, ia langsung melepaskan operan yang disantap sepakan first-time Pogba.

Peran Giroud memang disengaja seperti itu di timnas Prancis. Deschamps pada The Guardian pernah menjelaskan, “Dia (Giroud) memang bukan penyerang flamboyan seperti penyerang pada umumnya, tapi tim kami sangat membutuhkannya di setiap pertandingan. Tidak masalah walau dia tidak mencetak gol, karena dia sangat berbahaya di udara, dan sangat berguna ketika bertahan dari bola mati lawan.”

“Dia selalu mau berkorban untuk tim. Oleh karena itu, justru pemain lain di sekitarnya yang mendapat manfaat dari kehadiran Giroud, karena dia selalu bisa menarik perhatian bek-bek lawan,” pungkas Deschamps.

Sesederhana itu?

Ya, sederhana seperti itu… untuk penjelasan perannya, karena kenyataan di lapangan, Giroud harus bekerja ekstra keras. Giroud adalah pemain sepak bola yang tidak seperti bermain sepak bola. Posisinya lebih sering membelakangi gawang, menyalahi aturan tak tertulis sepak bola, bahwa untuk menang para pemain harus mengincar gawang.

Bermain seperti Giroud membutuhkan jam terbang yang tinggi. Ia membelakangi gawang, yang artinya ia berada di depan para bek yang memburunya. Giroud tidak tahu apa yang akan dilakukan lawan di belakang pundaknya, tapi ia bisa memperkirakan itu.

Ketika membelakangi gawang, Giroud akan menggunakan tangannya untuk mengukur seberapa dekat jarak lawan dengannya. Ketika menerima bola, Giroud akan menggunakan punggungnya untuk menjaga bola, membuat lawan kesulitan mencurinya dari belakang. Dari momen tersebut, Giroud juga harus berpikir cepat, ke mana bola akan diberikan selanjutnya.

Baca juga: Olivier Giroud, Legenda yang Tak Terduga

Beruntung bagi Giroud, Prancis asuhan Deschamps memainkan formasi 4-3-3 dengan kedua sayap yang sangat suportif. Griezmann dan Mbappé hampir tidak pernah telat memberikan opsi umpan, sehingga Giroud juga jarang kehilangan bola. Tidak masalah walau Giroud tidak bisa menembak langsung, toh tembakan itu bisa dilakukan rekannya.

“Ketika kamu menjadi penyerang sepertiku, kamu akan bermain untuk rekan-rekanmu juga. Tentu saja aku selalu berusaha mencetak gol, tapi jika aku bisa membuka ruang bagi rekan setim, aku akan melakukannya agar kesempatan mencetak gol jadi lebih besar,” ujar Giroud para The Guardian dalam sebuah sesi wawancara sebelum final Piala Dunia 2018.

“Saat Prancis menjuarai Piala Dunia 1998, (Christophe) Dugarry hanya mencetak satu gol dan (Stéphane) Guivarc’h tidak mencetak gol sama sekali. Jika aku tidak mencetak gol tapi Prancis bisa juara Piala Dunia, aku tidak akan mempermasalahkan hal itu. Apabila aku berada di dalam lapangan, artinya pelatih percaya aku bisa membantu tim. Sudah ada porsi tersendiri untukku,” tutupnya.

Yup… perkataan Giroud memang tidak salah. Di Piala Dunia, sebuah tim hanya butuh 7 pertandingan untuk menjadi juara. Jumlah gol saat penyisihan grup memang bisa memengaruhi kelolosan, tapi setelah memasuki fase gugur, menang satu gol atau sepuluh gol hasilnya sama saja lolos.

Nol gol dari Giroud sebagai seorang penyerang memang sangat memalukan, tapi dengan status membawa negaranya menjadi juara Piala Dunia, siapa yang peduli jumlah gol? Giroud memang mandul, tapi dia sangat berguna di formasi Les Bleus, yang membuat Ousmane Dembélé sampai harus rela dicadangkan.

Jadi jangan iri yaa Om Cristiano Ronaldo dan Mas Lionel Messi, karena iri tanda tidak mampu…

*eh maap