Berita Eropa

Thomas Tuchel dan Tantangan Besar di Musim Depan bersama Paris Saint-Germain

Terjawab sudah teka-teki pelatih Paris Saint-Germain (PSG) selanjutnya. Sehari selepas perayaan pesta juara Ligue 1 musim ini, manajemen mengumumkan pelatih asal Jerman, Thomas Tuchel, akan menggantikan peran Unai Emery musim depan dengan kontrak hingga musim panas 2020 mendatang.

“Sungguh senang, bahagia, dan bangga saya bisa bergabung dengan salah satu klub terbesar di dunia. Saya tidak sabar untuk mulai bekerja dengan pemain-pemain terbaik dunia,” ucap Tuchel seperti dilansir laman resmi PSG.

Pelatih berumur 44 tahun ini juga menjadi orang Jerman pertama yang menakhodai PSG sejak didirikan tahun 1970. Kedatangannya ke Paris sudah banyak diisukan berbagai media di Eropa sejak kegagalan PSG di Liga Champions musim ini. Selain ke PSG, Tuchel juga santer diberitakan menjadi suksesor Arsene Wenger di Arsenal.

Presiden PSG, Nasser Al-Khelaifi, mengungkapkan jika ia kagum dengan filosofi bermain Tuchel. Terlebih dengan usia yang masih sangat muda, Tuchel masih diselimuti rasa lapar untuk meraih berbagai gelar di Eropa nantinya. Ia sendiri akan memulai tugasnya di bulan Juli mendatang.

Tantangan besar musim depan

Menjadi pelatih klub sebesar PSG tentu tidak mudah, sebab nama besar seperti Carlo Ancelotti dan terakhir Unai Emery yang sanggup mempersembahkan treble pun tidak membuat manajemen cepat puas. Di musim depan, sudah banyak tantangan yang dihadapi Tuchel besama skuat mewahnya di PSG.

Pertama, Tuchel akan dituntut untuk bisa melangkah jauh di ajang Liga Champions. Musim ini, dengan pembelian Neymar dan Kylian Mbappe nyatanya belum mampu membuat Les Parisiens lolos dari jerat 16 besar dan harus takluk di tangan Real Madrid. Kegagalan ini pula yang menjadi alasan Unai Emery memutuskan berhenti menjadi pelatih PSG di akhir musim ini.

Kedua, ketepatan strategi transfer juga akan menjadi kunci perjalanan Tuchel musim depan. Dengan sokongan dana melimpah dari sang Presiden, Tuchel dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan sangat baik dengan direktur olahraga, Antero Henrique, untuk menetukan pemain yang akan direkrut musim panas ini, atau menjual para pemain yang sekiranya tidak lagi dibutuhkan.

Ketiga, kemampuan Tuchel mengendalikan para pemain bintang juga akan menjadi ujian, terutama pemain termahal dunia, Neymar. Kala melatih Mainz dan Dortmund, tidak ada pemain bintang sekelas Neymar yang ia latih, maka musim depan ia dituntut untuk bisa memanfaatkan kemampuan Neymar sepenuhnya terutama di Liga Champions. Ia diketahui telah bertemu Neymar secara empat mata setelah perayaan gelar juara PSG hari minggu kemarin.

Keempat, tantangan Tuchel selanjutnya ialah melanjutkan hegemoni PSG di kompetisi lokal. Setelah meraih seluruh trofi kompetisi di Prancis musim ini, maka beban Tuchel bersama PSG musim depan ialah menyamai apa yang Emery raih musim ini.