Kolom

Alen Boksic, Penyerang Penuh Anomali yang Dirindukan

Saya selalu tertarik dengan satu tipe pemain sepak bola; tipe pemain yang sepertinya tidak mengedepankan tugas yang diberikannya. Contohnya, para bek yang terlihat tidak bertahan sama sekali tetapi malah menjadi seorang pemain sayap yang bermain lebih dalam. Contoh lain, para gelandang kreatif yang tidak menciptakan peluang terlalu banyak.

Maka dari itu, saya tertarik dengan Alen Boksic, seorang penyerang yang tidak terlalu mencetak banyak gol sebagaiman seharusnya. Boksic punya kemampuan yang diidamkan oleh para penyerang, kecepatan, teknik, ketangguhan, serta ketajaman. Namun, jika melihat kariernya, rata-rata dia mencetak kurang dari satu gol dari tiga pertandingan. Apa yang terjadi?

Menurut pembelaan Boksic, dia bermain di Serie A yang saat itu memiliki pertahanan luar biasa. Faktanya, Gabriel Batistuta dan Giuseppe Signori juga bermain di tempat yang sama namun tetap menunjukkan ketajaman mereka di setiap minggu. Alasan tersebut membuat kegagalannya mencetak gol lebih disorot lagi.

Tapi, kita harus melihat lebih seksama lagi dan harus sadar bahwa Batistuta dan Signori punya kemampuan lebih; keduanya punya tendangan jarak jauh yang mumpuni. Sayangnya, kemampuan itu tidak dimiliki oleh Boksic. Dia harus melewati para pemain bertahan seperti layaknya pemain biasa, dan tentunya, itu adalah hal yang sulit. Boksic sering melakukan hal itu dari pinggir lapangan. Kedatangannya ke Lazio tumpang tindih dengan Signori sehingga dia lebih sering dimainkan di posisi sayap.

Melihat permainan Boksic membuat saya lebih memaknai posisi seorang pemain depan, bukan hanya sebagai seorang penyerang. Pada saat itu, pemain sayap tidak diekspektasi untuk mencetak gol dan penyerang tidak diekspektasi untuk mengkreasikan gol; Boksic merupakan sosok dari perpaduan dari kedua hal tersebut.

Boksic mengingatkan saya kepada rekan senegaranya, Zvonimir Boban. Boban bukanlah tipikal seorang pemain nomor 10 atapun seorang gelandang tengah; dia tidak menciptakan banyak peluang dan juga tidak melakukan banyak tekel. Akan tetapi, Boban adalah pemain penting bagi tim AC Milan yang memenangi Liga Champions tahun 1994, seperti halnya dia menjadi bagian penting bagi Juventus dan Lazio ketika mereka memenangi titel Serie A.

Harus ada hal yang dikorbankan jika bermain seperti halnya Boksic. Dia lebih sering menjadi pilihan kedua dari Davon Suker saat di tim nasional Kroasia lalu dari Alessandro Del Piero ketika dia berada di Juventus. Sebagai seorang penggemar Manchester United, saya ingat betul pertandingan melawan Juventus di akhir tahun 1990-an. Kekalahan 1-0 yang begitu menyakitkan.

Saat itu, Juventus bermain sangat efektif dengan Boksic di skuat mereka. Juve mengobrak-abrik pertahan lawan di menit-menit awal, menciptakan gol penentu kemenangan, dan bertahan dengan baik di sisa waktu bermain. Saat itu, mungkin Boksic adalah sosok sempurna di Juve, pemain yang jarang mencetak gol namun dapat mengubah keadaan ketika dia akhirnya mencetak gol.

Dia lalu keluar dari bayangan untuk menjadi bintang lapangan, mengingatkan kita bahwa dia memang mampu. Salah satu momen terbaiknya adalah gol dari 40 meter ke gawang Sampdoria saat bermain untuk Lazio di musim 1997/1998. Melewati satu bek lalu berlari menuju pinggir kotak penalti sebelum akhirnya melepaskan tendangan cantik ke gawang.

Permainan tersebut menggambarkan segalanya tentang Boksic. Dia, menurut saya, mengingatkan kita kepada playmaker Brasil di Piala Dunia 1970, Gerson, yang bermain lebih ke dalam dan mengorbankan sedikit kemampuannya agar para penyerang bisa berkembang. Raihan trofi yang pernah diraih Boksic juga menunjukkan kemampuannya. Berjalan beriringan dengan kariernya, Boksic menunjukkan bahwa dia adalah pemain depan murni; seseorang yang beradaptasi dengan baik di lapangan dan menjadi panutan bagi pemain-pemain seperti Leroy Sane, Anthony Martial, dan masih banyak lagi.

Author: Musa Okwonga
Penerjemah: Budy Darmawan