Cerita

Jesse Lingard-Dele Alli: Permasalahan Baru di Skuat Timnas Inggris

Satu dekade lalu, ada masalah yang begitu pelik di tubuh timnas Inggris. Saat itu permasalahan yang mesti dipecahkan adalah bagaimana Frank Lampard dan Steven Gerrard bisa dimainkan bersama atau tidak. Permasalahan ini bahkan disebut-sebut menjadi salah satu biang kegagalan Inggris melaju ke Piala Eropa 2008. Situasi ini bahkan sampai sempat membuat Paul Scholes mesti bermain melebar, agar keduanya bisa dimainkan bersama. Sepuluh tahun kemudian, fenomena hampir serupa sepertinya akan terjadi lagi.

Kali ini, situasinya melibatkan dua gelandang serang, Jesse Lingard yang bermain untuk Manchester United, dan Dele Alli yang berseragam Tottenham Hotspur. Pangkal perdebatan ini adalah pernyataan Rio Ferdinand yang menyebut bahwa Lingard memiliki kemampuan yang berbeda dengan kebanyakan gelandang milik Inggris yang lain. Tidak lama berselang, Alli kemudian menunjukkan penampilan sensasional ketika Tottenham berhasil mengalahkan Chelsea.

Apakah debat kusir terkait kemungkinan Lampard dan Gerrard bisa bermain bersama atau tidak akan kembali terjadi kepada Lingard dan Alli?

Sentuhan cepat Jesse vs operan terobosan Dele

Sebelum membahas kemungkinan keduanya bisa bermain bersama atau tidak, sebelumnya mari kita bandingkan permainan di antara dua gelandang serang ini. Baik Lingard maupun Alli terkenal sebagai gelandang modern, keduanya cerdas dan memiliki kaki-kaki yang lincah. Yang paling mencolok adalah kemampuan mereka mencetak gol. Meskipun sejauh ini, raihan Lingard dengan 14 gol di semua kompetisi, sedikit jauh lebih baik ketimbang Alli dengan 12 gol di semua kompetisi.

Tapi ada kemampuan spesial dari masing-masing, di mana Lingard memilikinya, tetapi Alli tidak. Begitu pula sebaliknya, kemampuan spesial Lingard sebenarnya sudah disebutkan oleh Rio Ferdinand dalam perdebatan pekan lalu yang juga melibatkan Martin Keown dan Steve McManaman.

Rio menyebut bahwa kelebihan Lingard adalah memainkan bola dengan satu sentuhan. Ini memungkinkan bola dan alur serangan bisa terjadi dengan tempo yang sangat cepat. Pun dengan kemampuan Lingard melakukan pergerakan tanpa bola, yang menurut bahasa Rio adalah kesederhanaan taktikal yang memungkinkan Lingard menjadi begitu berbahaya bagi pertahanan lawan. Karena kebanyakan gelandang saat ini, menurut Rio, lebih senang membuat banyak sentuhan atau berlama-lama menahan bola.

Pernyataan Rio memang benar adanya. Anda bisa melihat rekaman ketika Lingard mencetak gol atau berperan atas terjadinya gol lain dengan menciptakan asis. Pergerakan tanpa bola dan sentuhan cepat menjadi senjata andalan pemain berusia 25 tahun ini. Salah satu yang terbaik tentu terjadi ketika ia mencetak gol ke gawang Arsenal pada pekan pertandingan ke-16.

Semua terkesan dengan operan flick dari Anthony Martial, tetapi rasanya terkesan agak abai dengan pergerakan merangsek Lingard yang bahkan seakan tidak terdeteksi oleh Laurent Koscielny. Bek asal Prancis itu baru menyadarinya ketika Lingard sudah tinggal berhadapan satu lawan satu dengan Petr Cech. Kejadian di pertandingan tersebut adalah sedikit gambaran dari kemampuan hebat seorang Jesse Lingard.

Sementara Alli, kemampuannya sangat maksimal terutama di sepertiga lapangan akhir bagian penyerangan. Operan-operan kunci yang dilepaskan pemain berusia 20 tahun ini adalah operan kelas satu. Ia seakan bisa menemukan celah di antara lini pertahanan dan membuka peluang bagi para pemain lain.

Apabila Lingard punya spesialisasi di sentuhan sederhana, Alli punya kemampuan spesial dalam permainan operan yang lebih sederhana. Ini memungkinkan aliran serangan menjadi lebih lancar dan tidak rumit karena terkadang, para pemain yang memiliki posisi sama dengan Alli lebih senang melakukan operan-operan yang tidak biasa. Dalam tahapan lain memang menakjubkan, tetapi terkadang ini juga justru menyulitkan rekan setim yang lain. Operan-operan Alli membuat segala sesuatunya menjadi lebih sederhana. Pun demikian, membuat serangan Tottenham menjadi lebih mematikan.

Bisakah keduanya bermain bersama?

Kemungkinan soal keduanya bisa dimainkan bersama atau tidak berpotensi menghadirkan debat kusir. Akan memunculkan pertentangan pendapat yang sama melelahkannya dengan yang terjadi di era Gerrard dan Lampard. Hal ini tentu menjadi pekerjaan yang amat berat bagi pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate.

Sebenarnya, Southgate berusaha mengakomodir kemampuan Lingard dan Alli dengan memainkan skema tiga pemain bertahan, di mana memungkinkan lebih banyak pemain bisa ditempatkan di sektor gelandang. Terkait hal ini juga diamini oleh Keown yang hadir dalam diskusi bersama Ferdinand tersebut. Skema idealnya adalah Lingard dan Alli bermain bersama, ditopang oleh Eric Dier sebagai gelandang bertahan sekaligus pelindung bagi para pemain bertahan.

Terdengar ideal memang, bagaimana skema ini terlihat mengakomodir bakat dan kemampuan hebat baik dari Jesse Lingard maupun Dele Alli. Poros dua gelandang serang ini sebenarnya sempat digunakan di beberapa tim lain. Real Madrid sering menggunakannya ketika mereka memainkan Marco Asensio dan Isco Alarcon secara bersamaan. Atau di versi lokal kita sempat melihat bagaimana Marcos Flores dan Robertino Pugliara dipasangkan bersamaan di Persib Bandung, dengan ditopang Hariono atau Kim Kurniawan kala itu.

Italia juga menggunakan skema hampir serupa di Piala Eropa 2016, di mana saat itu Marco Parolo dan Emanuele Giacherrini ditopang oleh Daniele De Rossi. Boleh jadi skema yang hampir serupa yang akan diterapkan oleh Southgate di tim Inggris saat ini. Tapi mereplikasi skema Antonio Conte di Piala Eropa 2016, tidak akan berjalan dengan mudah bagi Southgate karena ada beberapa tantangan untuk melakukan hal tersebut.

Pertama, soal poros dua gelandang serang. Di tim Italia Piala Eropa 2016, kombinasi Marco Parolo dan Emanuele Giacherrini bisa berjalan dengan baik karena ada pembagian peran yang jelas. Giacherrini bisa bergerak bebas, sementara Parolo bisa bermain lebih ke dalam.

Masalahnya, di antara Lingard dan Alli, siapa yang akan memainkan peran yang sama seperti Parolo? Karena seperti yang diketahui bahwa kemampuan keduanya akan maksimal apabila mereka diberikan kebebasan untuk bergerak ke depan. Alli juga punya kemampuan menahan bola yang jauh lebih baik ketimbang Lingard.

Pertanyaannya kemudian, apakah Alli mau memainkan peran yang sedikit lebih dalam atau boleh dibilang, pasif seperti Parolo? Ego dari seorang pemain tentu akan diuji dalam situasi seperti Ini karena permasalahan utama di era Lampard dan Gerrard adalah soal ego. Keduanya ingin berperan sebagai pengatur serangan tim, dan boleh jadi, apabila permasalahan ini tidak terpecahkan, situasi akan kembali serupa seperti yang terjadi ketika Inggris kesulitan untuk memainkan Lampard dan Gerrard secara bersamaan.

Pun soal pemain penopang, Eric Dier dengan kekuatan fisiknya jelas merupakan pemain yang paling ideal untuk menopang Lingard dan Alli. Tetapi masalahnya, tidak ada pemain lain di tim Inggris saat ini yang memiliki kualitas sepadan. Tentu perlu menjadi bahan pemikiran bagi Southgate seandainya Dier mesti absen.

Gelandang Watford, Nathaniel Chalobah, sebenarnya bisa menjadi opsi. Tetapi masalahnya, di timnya saja ia jarang bermain karena kalah saing dengan Abdoulaye Doucore. Sementara Inggris juga mesti gigit jari karena gelandang bertahan potensial, Scott McTominey, lebih memilih bermain untuk Skotlandia.

Maka, posisi Dier sebagai penopang pun sebenarnya rawan. Jordan Henderson bisa saja ditempatkan di posisi tersebut, tetapi mesti dipahami tentunya Henderson jelas tidak memiliki kekuatan fisik serta aspek defensif yang sama seperti Dier.

Harus diakui bahwa saat ini Inggris berada dalam masa terbaik mereka setelah era generasi emas pada sekitar pertengahan tahun 2000-an. Tim muda Inggris meraih banyak prestasi di turnamen-turnamen besar. Prestasi timnas Inggris di Piala Dunia 2018 tentu akan disorot, mengingat kesuksesan junior mereka di turnamen-turnamen usia muda sebelumnya.

Maka, permasalahan Lingard dan Alli mesti ditangani dengan baik oleh Southgate. Jangan sampai apa yang terjadi di masa lalu kemudian terulang kembali. Sebuah potensi yang alih-alih bisa membawa Inggris ke tahap lebih baik, tapi akhirnya justru membuat mereka tersungkur seperti di waktu-waktu sebelumnya.

Author: Aun Rahman (@aunrrahman)
Penikmat sepak bola dalam negeri yang (masih) percaya Indonesia mampu tampil di Piala Dunia