Cerita

Mempertanyakan Sikap Mauricio Pochettino di Kasus Diving Dele Alli

Manajer Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino, disebut-sebut menjadi kandidat utama pengganti Zinedine Zidane sebagai manajer Real Madrid. Pochettino memang kini tengah mencuat sebagai salah satu manajer muda yang berbakat dan cerdas. Kariernya bersama Espanyol dan Southampton terhitung apik, dan kini ia mampu berbicara di level yang lebih tinggi bersama Tottenham.

Namun, kali ini, Pochettino tampak melakukan sebuah blunder yang terbilang cukup fatal. Pernyataannya tentang aksi simulasi, atau yang biasa kita kenal sebagai diving, kala membela Dele Alli baru-baru ini, tentu mencoreng namanya. Kala itu, ia menyebutkan bahwa aksi diving Alli ketika Spurs berhadapan dengan Liverpool memang layak dihadiahi kartu kuning oleh wasit, namun, ia menganggap bahwa diving sebenarnya adalah bagian dari trik dari sepak bola.

“Ya, itu memang sebuah kartu kuning,” ujar Pochettino dikutip dari Independent.

“Hal seperti ini memang terjadi, namun masalahnya, kita kini terlalu sensitif terhadap situasi seperti ini. Kita terlalu fokus terhadap apa yang Alli lakukan. Wasit memang benar, namun ketika kartu kuning sudah diberikan, ya sudah, semua selesai. Saya pikir, ini adalah isu yang minor.”

“Sepak bola adalah tentang bagaimana Anda mengelabui lawan Anda, bukan? Ketika Anda melakukan sebuah taktik, mengelabui lawan tentunya masuk ke dalam taktik tersebut. Dua puluh tahun yang lalu, tiga puluh tahun yang lalu, kita semua menyelamati pemain yang berhasil mengelabui wasit. Hal ini adalah trik sepak bola yang saya cintai ketika saya masih kecil. Di Argentina, kami melakukan hal seperti itu, namun di Inggris juga, bukan? Apakah Anda percaya bahwa sepak bola di Inggris selalu jujur dan sempurna?”

Legenda Espanyol ini juga menambahkan bahwa ia takut bahwa sepak bola di masa depan akan terlalu kaku karena kini publik terlalu fokus terhadap hal-hal kecil yang tidak penting. Ia juga khawatir akan keberadaan Video Assistant Referee (VAR) akan mengganggu alur sepak bola dan semacamnya.

Meskipun begitu, mari fokus kepada hal menarik yang ia ucapkan sebagai diving. Dalam pernyataannya, ia menyiratkan bahwa ia tak memiliki masalah dengan aksi simulasi tersebut, dan ia menganggap bahwa diving justru merupakan bagian dari trik sepak bola.

Begini masalahnya, diving sendiri merupakan hal yang terlarang, setidaknya di Liga Primer Inggris, kompetisi tempat klub yang Pochettino latih bertanding. FA Inggris, selaku pengampu sepak bola Inggris, telah mencantumkan peraturan secara tertulis bahwa diving adalah hal yang tidak boleh dilakukan, dan pemain yang melakukannya akan mendapatkan hukuman.

Contohnya pun sudah ada, yaitu penyerang milik Everton, Oumar Niasse, yang dihukum dua laga karena tertangkap basah melakukan diving di laga melawan Crystal Palace.

Jika sudah seperti ini, maka Pochettino pun secara tidak langsung membenarkan tindakan yang sesungguhnya melanggar hukum. Jika dianalogikan, perkataan Pochettino seperti pemotor-pemotor yang tidak memakai helm di acara 86 milik Net TV, dan mengelak bahwa mereka tidak pakai helm karena jarak tempuh yang dekat. Peraturan adalah peraturan, dan sedikit pun tak seharusnya dilanggar, apalagi mencari pembenaran ketika sudah ketahuan melanggar.

Publik mungkin akan berargumen bahwa Pochettino mengatakan hal seperti ini untuk melindungi Alli. Kali ini, coba kita tengok apa yang dua manajer legendaris, Sir Alex Ferguson dan Arsene Wenger, lakukan terhadap pemainnya yang melakukan diving.

Sir Alex Ferguson ketika masih memanajeri Manchester United pernah terang-terangan mengkritik Ashley Young karena pemain sayap Inggris tersebut kerapkali melakukan aksi teatrikal dan terlalu mudah jatuh. Ia mengatakan bahwa ia telah berbicara langsung terhadap Young dan memintanya untuk menghindari tindakan seperti itu. Selain Young, ia juga pernah menasihati Cristiano Ronaldo di kala muda agar tidak melakukan simulasi di laga.

Lain lagi dengan Arsene Wenger. Di tahun 2012 lalu, Santi Cazorla melakukan diving di kotak penalti West Bromwich Albion, dan wasit luput meihat kenakalan Cazorla. Penalti pun akhirnya dihadiahkan kepada The Gunners. Alih-alih membela sang playmaker, Wenger di konferensi pers pascalaga justru meminta maaf atas kelakuan Cazorla, dan menyatakan bahwa ia akan menginvestigasi dan menindaklanjuti sang pemain akan aksinya.

Dari sini, bisa terlihat bagaimana perbedaan kelas dari dua manajer legendaris dan kawakan macam Sir Alex dan Wenger, dengan Pochettino. Baik Sir Alex maupun Wenger tidak menoleransi aksi tidak sportif semacam diving, yang bahkan pada kala itu pun peraturannya belum tertulis di buku hukum FA.

Real Madrid, meski kini sedang kesulitan, tak dapat dipungkiri adalah salah satu klub terbesar di dunia dan tentunya berkelas. Ya, Pochettino tentu juga merupakan juru taktik yang jempolan. Namun, apakah Madrid mau menerima orang yang membenarkan tindakan yang melanggar aturan?

Author: Ganesha Arif Lesmana (@ganesharif)
Penggemar sepak bola dan basket