Cerita Tribe Ultah

Berlari seperti Puma, Berlari seperti Emerson Ferreira

Sepanjang sejarah timnas Brasil hanya memiliki segelintir gelandang bertahan hebat. Namun, dari jumlah yang terbatas itulah terlihat kehebatan yang luar biasa dari para pemainnya. Salah satunya adalah Emerson Ferreira da Rosa, yang dijuluki Il Puma.

Julukan tersebut terinspirasi dari gaya bermain Emerson. Dia cepat, gesit, lincah, atau gercep (gerak cepat) istilah kerennya, walau betubuh besar setinggi 184 sentimeter. Perawakannya mengingatkan orang pada seekor puma, yang walau berbadan besar tapi memiliki kaki-kaki lincah untuk menerkam mangsanya.

Berkat kemampuannya itulah Emerson bisa menikmati karier di klub besar. Usai meninggalkan Grêmio yang merupakan klub juniornya, ia berlabuh di Bayer Leverkusen untuk memulai petualangannya di Eropa. Bersama klub berjuluk Die Werkself itu, Emerson menghabiskan tiga musim, terhitung sejak tahun 1997-2000.

Emerson memang tidak mencicipi satupun gelar di Leverkusen, tapi ia sukses membantu klub tersebut menembus babak 16 besar Piala UEFA selama dua musim beruntun. Pencapaian yang membuat AS Roma tertarik meminangnya, dan Emerson pun resmi berseragam I Giallorossi pada Juli 2000 dengan biaya transfer 18,5 juta euro.

Harga yang cukup tinggi saat itu, apalagi untuk seorang gelandang bertahan. Namun di akhir musim, harga tersebut terbilang sangat sepadan, dengan berbuah titel Serie A 2000/2001. Titel yang belum dapat diulang Roma lagi sampai saat ini. Emerson turut berkontribusi besar dalam kesuksesan itu, walau hanya bermain 13 kali karena di awal musim terhalang regulasi kuota pemain non-Uni Eropa.

Scudetto tersebut bukan satu-satunya yang diraih Emerson sepanjang kariernya. Setelah hengkang dari Roma, ia menjuarai Serie A lagi bersama Juventus selama dua musim beruntun, pada 2004/2005 dan 2005/2006, tapi gelar itu kemudian dicabut karena Juventus terlibat skandal Calciopoli.

Skandal tersebut juga sekaligus mengakhiri kebersamaan Emerson dengan Si Nyonya Tua, karena ia enggan bermain di Serie B, sesuai hukuman yang menimpa Juventus. Jalan cerita itulah yang membawanya tiba di ibu kota Spanyol, untuk memperkuat Real Madrid yang berujung trofi La Liga 2006/2007.

Relasi baik dengan Fabio Capello

Jika diperhatikan dengan seksama, ketika ada Emerson di tengah lapangan maka hampir selalu ada sosok pria berkacamata di pinggir lapangan. Dia adalah Fabio Capello, yang dikenal memiliki hubungan sangat baik dengan Emerson, yang terus terjalin di tiga klub berbeda.

Pertemuan pertama Emerson dan Capello terjadi di AS Roma. Capello merupakan pelatih yang mendatangkan Emerson ke Olimpico. Kolaborasi keduanya selain berbuah Scudetto 2000/2001 juga membawa Roma menjuarai Piala Super Italia 2001, dan meloloskan I Giallorossi ke final Coppa Italia 2002/2003, tapi kemudian takluk di tangan AC Milan.

Ketika Capello pindah ke Juventus di tahun 2004, Emerson juga mengikuti langkah sang allenatore. Emerson bahkan sampai ngambek hanya ingin dijual ke Juventus, karena awalnya Roma hendak melegonya ke Real Madrid agar tidak jauh ke tangan rival. Usai melalui saga panjang, kehendak Emerson kemudian terkabul dengan sistem tukar tambah.

Juventus saat itu harus melepas Matteo Brighi ke Roma, plus uang 12 juta euro. Harga Brighi saat itu ditaksir sekitar 16 juta euro, yang artinya total nilai transfer Emerson dari Roma ke Juventus adalah 28 juta euro. Sekali lagi, itu adalah jumlah yang sangat besar untuk ukuran gelandang bertahan saat itu, tapi Juventus langsung dapat menikmati hasilnya.

Selama dua musim berseragam Juventus, Emerson selalu membawa I Bianconeri jadi tim dengan jumlah kebobolan terminim di Serie A. Juventus hanya kemasukan 27 kali di musim 2004/2005, dan 24 kali di musim 2005/2006. Terlepas dari skandal yang melibatkan Juventus, Emerson memang membawa dampak yang signifikan dalam pertahanan timnya.

Di musim 2004/2005 kehadiran Emerson langsung membuat Juventus menembus perempat-final Liga Champions, melampaui musim sebelumnya yang hanya mentok di babak 16 besar. Pencapaian tersebut kemudian terulang lagi di musim berikutnya, plus menjadi runner-up Piala Super Italia dan mencapai babak perempat-final Coppa Italia.

Pun ketika Capello cabut ke Real Madrid pada musim 2006/2007 yang juga diikuti Emerson, kolaborasi keduanya kembali berbuah trofi liga domestik. El Real saat itu berhak jadi juara karena unggul head-to-head dari Barcelona, yang sama-sama mengoleksi 76 poin.

Akan tetapi, di Real Madrid pula Emerson mulai menunjukkan penurunan performa. Ia sempat kehilangan tempatnya di tim inti, sebelum kembali meraihnya jelang akhir musim. Meski demikian, itu tidak membuatnya lolos dari evaluasi yang dilakukan Ramón Calderón, dan Emerson kemudian dilego ke AC Milan dengan harga sangat murah, 6 juta euro di tahun 2007, ketika usianya 31 tahun.

Di Milan, ciri khas permainannya tak lagi tampak. Larinya tak lagi sekencang dulu, tenaganya tak lagi sebesar dulu, dan naluri memangsanya tak lagi setinggi di masa jayanya, Ditambah cedera yang berulang kali menimpanya, menjadi sinyal bagi Emerson bahwa itulah akhir dari perjalanan panjangnya sebagai predator lapangan tengah.

Hari ini di ulang tahunnya yang ke-42, Emerson Sang puma dari Negeri Samba tercatat sebagai staf kepelatihan di Miami Dade FC, sebuah klub di liga amatir Amerika Serikat. Seperti seekor puma yang usianya terus bertambah, ia tak lagi bergerilya di medan perang, tapi memimpin anak buahnya dari belakang, berbekal segudang pengalaman yang dimilikinya.

Author: Aditya Jaya Iswara (@joyoisworo)
Milanisti paruh waktu yang berharap Andriy Shevchenko kembali muda dan membawa AC Milan juara Liga Champions Eropa lagi.