Tribe Tank

Tribe Tank: Latihan 3 Zona Lapangan untuk Melatih Fase Menyerang

Latihan tiga zona lapangan menjadi salah satu latihan yang kami gunakan untuk melatih model permainan, mulai dari BUdiKi (Build Up dari Kiper), progres ke sepertiga tengah dan akhir, kombinasi di antara ketiga penyerang, dan pressing.

3 zona: 7 lawan 4

Di kesempatan paling pertama para pemain melakukan latihan ini, latihan berfokus ke fase penguasaan bola. Kompleksitas latihan didesain untuk mempermudah tim yang beranggotakan 7 pemain mendapatkan banyak ruang dan waktu untuk berpikir, beraksi, dan mendapatkan feel dengan rekan-rekan setimnya.

Desain awal latihan 3 zona

Detail:

  • Lapangan dibagi ke dalam tiga zona besar, yaitu sepertiga pertama (area kiper), sepertiga tengah atau sepertiga kedua, dan sepertiga ketiga atau sepertiga akhir;
  • Permainan selalu dimulai dari kiper tim kuning melalukan tendangan gawang;
  • Di sepertiga pertama, terjadi situasi 3 lawan 1 antara kuning lawan biru;
  • Di sepertiga kedua, situasi 3 lawan 2 antara kuning lawan biru;
  • Di sepertiga akhir, awalnya 1 lawan 1 tetapi apabila progres bola kuning berhasil masuk ke sepertiga akhir, 8 dan 10 kuning serta salah satu biru harus masuk ke sepertiga akhir untuk menciptakan situasi 3 lawan 2.
  • Bola harus dimainkan dari sepertiga pertama, berlanjut ke sepertiga dua, sampai masuk ke sepertiga akhir.

Pola progres serangan

Aspek lain yang juga perlu diperhatikan adalah seberapa baik kesadaran ruang para pemain. Contoh:

  • Apakah umpan yang dilepaskan 6 kuning kepada 8 kuning merupakan umpan terobosan atau umpan ke kaki;
  • Posisi tubuh 6 kuning ketika menerima umpan 3 kuning. Apakah posisi tubuhnya memungkinkannya untuk melihat rekan dan lawan-lawannya yang berada di depan atau tidak.
  • Bagaimana pressing kedua biru di sepertiga kedua mampu mempersulit progres serangan kuning. Dalam hal ini ada baiknya menginstruksikan biru memainkan pressing zona berorientasi opsi yang memungkinkan 1 pemain biru “mengambil” 2 pemain kuning.
  • Kombinasi ketiga pemain kuning saat masuk ke zona eksekusi. Bagaimana ketiganya membagi ruang, adakah pergerakan rotasi yang betul-betul fungsional dan lain-lain.

Setelah pemain terbiasa dengan desain awal, kompleksitas latihan dapat ditingkatkan dengan menambah satu pemain biru di sepertiga ketiga. Bila kemudian pemain terbiasa memainkannya, coba ciptakan situasi awal 3 lawan 3 di sepertiga tengah.

Kompleksitas latihan juga dapat diubah lagi sedikit dengan memerintahkan kedua bek tengah (pemain nomor 3 dan 4) untuk bergerak maju berpindah sepertiga seiring dengan progres serangan. Pergerakan oleh nomor 3 dan 4 ini menjadi lebih realistis sesuai pertandingan sebenarnya apabila model permainan si pelatih menghendaki keduanya bergerak maju ketika tim melakukan serangan.

3 zona, dimulai dari sepertiga kedua

Latihan 3 zona dari sepertiga tengah

Latihan ini merupakan variasi desain 3 zona yang kami mainkan setelah pemain terbiasa dengan desain awal yang mana permainan selalu dimulai dari kiper kuning. Desain peraturannya sendiri terinspirasi oleh tulisan Eduard Schmidt di konzeptfussballberlin.de tentang latihan 3 zona yang mana permainan dimulai dari sepertiga tengah. Kegunaan utamanya adalah untuk melatih pemain agar terbiasa mendayagunakan backpass dari tengah ke lini belakang ketika mereka menerima pressing ketat yang membuat mereka kehilangan ruang “aman” untuk melakukan penetrasi.

Salah satu pertimbangan kenapa setelan latihan ini saya berikan karena dalam banyak game lapangan besar, para pemain terlihat bermain sangat, bahkan terlalu vertikal. Akibatnya, sering sekali para pemain terus berusaha secepatnya melakukan penetrasi ke depan guna mencapai gawang lawan walaupun ruang di depannya kurang menguntungkan (karena dipenuhi oleh pemain lawan) dan karenanya, mudah kehilangan penguasaan bola.

Dengan memulai permainan dari sepertiga kedua/tengah dan sejak awal biru 9 diperbolehkan masuk ke sepertiga kedua, situasi di sepertiga tengah menjadi 4 lawan 3 untuk keunggulan biru. Ditambah penjagaan orang per orang (man to man marking) oleh bek biru kepada 9 kuning di ruang eksekusi, akses kuning ke sepertiga akhir pun menjadi semakin sulit. Mau tidak mau, salah satu solusi “aman” yang dapat diambil oleh kuning adalah memainkan backpass ke sepertiga pertama.

Dengan backpass ke sepertiga awal, pressing biru di sepertiga tengah merenggang karena biru 9 diharuskan kembali ke sepertiga pertama untuk memberikan pressing kepada ketiga kuning. Bila kuning mampu memanfaatkan kelebaran lapangan dan tendensi man to man marking, ruang untuk mengakses 9 kuning akan semakin terbuka.

Kegunaan back pass

Pertanyaannya, apakah dengan desain implisit seperti ini akan membuat pemain secara otomatis memainkan umpan backpass dengan fungsional seperti yang digambarkan di atas? Bisa ya, bisa tidak. Bila ya, tentu pelatih bisa langsung melakukan koreksi ke aspek-aspek lain. Tetapi, bila tidak, koreksi eksplisit bisa diberikan kepada pemain dengan menjelaskan ke pemain apa gunanya backpass dalam situasi seperti di atas dan bagaimana memainkannya demi mengakses sepertiga akhir.

Yang terjadi dalam latihan yang kami mainkan adalah hal yang kedua, yaitupemain belum menyadari betapa mereka dapat mendayagunakan backpass untuk membuka pertahanan lawan. Tetapi, setelah set pertama dan kami melakukan diskusi tentang “kenapa tidak melakukan backpass”, pemain langsung menyadarinya dan hasilnya pola sirkulasi bola menjadi sedikit lebih horisontal (tidak melulu vertikal).

Progres akhir

Seperti biasa, latihan selalu berorientasi ke permainan lapangan besar. Apabila pada akhirnya para pemain harus berlaga dalam 11 lawan 11, pelatih harus dapat memfasilitasi para pemain untuk siap dalam 11 lawan 11. Contoh, dari latihan 3 zona di atas, yang dimulai dari 7 lawan 4, pelatih bisa melakukan progres ke 7 lawan 7, kemudian 7 lawan 7, kemudian 9 lawan 9, dan sampai akhirnya 11 lawan 11.

Author: Ryan Tank (@ryantank_)