Tribe Tank

Tribe Tank: Peran Orang Tua, Sekolah, dan Klub Sepak Bola dalam Membentuk Pemain sebagai Manusia yang Utuh

Hari Minggu barusan kami mengadakan pertemuan antara pengurus (termasuk pemilik) dan pelatih dengan para orang tua pemain. Poin-poin utama yang kami bahas adalah tentang keuangan;merapikan administrasi dan kontrol; festival; turnamen; metode, intensitas, dan durasi latihan; asupan gizi; dan peran orang tua (keluarga) dalam perkembangan usia dini.

Menyiapkan pemain sebagai manusia utuh

Topik “pemain sebagai manusia utuh” merupakan salah satu topik yang kebetulan diusulkan oleh penulis mengingat betapa jarangnya hal ini didiskusikan. Topik ini sangat penting karena ia terkait erat dengan parenting, pendidikan formal dan non-formal pemain, intensitas latihan, istirahat, pemulihan, asupan gizi pemain, kepedulian pelatih dalam kaitannya sebagai pembimbing, dan kesiapan pengurus dalam menyediakan fasilitas yang dapat mendukung aktivitas klub sepak bola sebagai sebuah kawah candradimuka bagi pemain.

Apa yang dimaksud menyiapkan pemain sebagai manusia seutuhnya? Apa hubungannya dengan sepak bola? Dan, yang paling krusial, apa hubungannya antara klub sepak bola dan pemain dengan konsep manusia seutuhnya?

Sekolah Sepak Bola (SSB), akademi, atau tim junior dari sebuah klub sepak bola profesional level top tidak lain tidak sama-sama merupakan sekolah. Sama seperti sekolah formal di mana murid-murid diajarkan agama, matematika, akuntansi, Bahasa Inggris, dan pelajaran formal lainnya, SSB atau akademi sepak bola juga merupakan sekolah yang bertugas untuk mendidik pemain menjadi seorang pemain aandal sekaligus seorang manusia yang “siap pakai”.

Hotman Paris, pengacara kondang Indonesia yang sering jadi buah bibir wargamaya itu, mengatakan, kunci untuk sukses hanya satu, yaitu nyali. Dengan nyali, Anda sudah memegang sebuah modal yang luar biasa untuk meraih semua tujuan yang Anda tetapkan. Di luar nyali, kepemilikan ilmu terkait atau kecakapan dalam bersosialisasi merupakan dua faktor yang tidak dapat diabaikan.

Kepemilikan ilmu pengetahuan oleh murid-murid sekolah menjadi fokus penyelenggara pendidikan Indonesia dalam proses pembelajaran. Murid-murid sekolah diajarkan teori-teori operasi matematika dan ilmu eksak, Bahasa, akuntansi, dan lain-lain agar mereka memiliki dasar atau modal dalam mempertimbangkan dan/atau memilih hal-hal yang dirasa logis sebelum mengambil keputusan untuk memecahkan masalah.

Pemikiran serupa dapat kita temui dalam pembinaan atau pelatihan pemain sepak bola. Para pemain dibekali teknik-teknik dasar mengontrol, men-dribble, menendang, mengumpan, pemahaman konsep ruang dan waktu, dan bagaimana bertaktik-ria sebagai modal dalam pengambilan keputusan di atas lapangan.

Yang perlu diperhatikan ketika pemain, murid, atau seorang manusia beraksi guna memecahkan masalah, modal pengetahuan (yang dalam sepak bola disebut teknik) tidak akan pernah cukup. Seperti kata Hotman, nyali yang akan menentukan tingkat sukses aksi. Sepak bola mengenal nyali sebagai kepercayaan diri. Confidence. Semakin percaya diri seorang pemain dalam beraksi, semakin besar kemungkinan aksinya berhasil.

Ketika kita berbicara nyali atau kepercayaan diri, orang tua dan keluarga berperan sangat penting dalam mendongkrak kepercayaan diri pemain. Terutama sekali peran orang tua dan keluarga pemain-pemain yang masuk dalam golongan youth (pemain usia dini/muda).

Kebetulan, turnamen kompetitif terdekat yang akan dijalani penulis adalah sebuah turnamen regional U-14 dan mayoritas orang tua pemain yang hadir dalam pertemuan minggu kemarin berasal dari keluarga pemain yang berusia antara 9 sampai 16 tahun. Kehadiran mereka membuat pembahasan peran orang tua dan keluarga dalam menumbuhkan kepercayaan diri dan keberanian anak dalam mengambil keputusan terkait proses pembentukan pemain menjadi manusia yang utuh menjadi sangat gayeng.

Biarkan pemain menemukan karakternya

Semakin kecil usia seorang anak, semakin cepat pula akselerasi perkembangan kreativitasnya. Dengan berkembangnya kreativitas, karakter anak akan ikut terbentuk. Hal ini termasuk bagaimana ia beraksi atau bereaksi dalam menyelesaikan tugasnya. Seberapa berani ia mengambil risiko dan paham konsekuensi. Seberapa unik langkah-langkah yang ia tempuh dalam memecahkan masalah.

Salah satu prinsip yang harus senantiasa dipraktikkan oleh orang tua, termasuk guru di sekolah dan pelatih di tim sepak bola, adalah membantu anak menemukan jalannya. Tunjukan jalan sebagai panduan atau wadah bagi anak untuk melangkah, berjalan, berlari, atau ngesot. Atau, seperti ujaran Kahlil Gibran dalam Sang Nabi, berlakulah seperti busur yang menjadi pijakan anak panah sebelum ia dilontarkan oleh pemanah.

Karenanya, adalah tugas semua elemen terkait untuk senantiasa mengingatkan anak di mana saja kelebihan atau kekuatan yang mereka miliki, apa saja hal-hal yang bisa disempurnakan, apa saja yang harus diperbaiki, atau apa alternatif lain bagi anak ketika ia beraksi. Komunikasi dua arah dengan cara-cara yang tepat akan sangat membantu anak dalam mendapatkan kepercayaan diri dan menciptakan karakternya.

Membiasakan berdiskusi dengan pemain atau anak dengan memberikan sudut pandang masalah-analisis-alternatif pemecahan masalah-risiko-tanggung jawab-eksekusi dapat membuat pemain memiliki pemikiran (reasoning) untuk selalu menganalisis, menyintensis, dan memecahkan masalah.

Pemecahan masalah dalam diagram sederhana

 

Memberitahukan dan menyadarkan pemain bahwa posisi dan sudut tubuh terhadap gawang lawan, kawan, dan lawan memiliki efek spesifik terhadap kecepatan progres serangan dan terhadap konsep irit-energi, bukan hanya dapat memberikan keuntungan taktik bagi tim tetapi yang tidak kalah pentingnya, pelatih sedang melatih pemain untuk berpikir bahwa ada hal-hal lain (WHAT) sebagai alternatif aksi, kenapa (WHY) ia harus memilih opsi itu, dan bagaimana (HOW) ia melakukannya dengan terus “memaksa” di pemain untuk sadar ruang dan waktu.

Tumbuhkan nyali dalam diri pemain

Terus meyakinkan pemain untuk berani mencoba atau beraksi sesuai kreativitas mereka merupakan salah satu cara membuat pemain memiliki kepercayaan diri. Satu, dua, atau tiga belas kesalahan sangat mungkin diperbaiki tetapi ketika pemain terlalu takut berbuat salah maka tidak akan ada yang dapat diperbaiki. Tidak ada pembelajaran antara pemain dengan pelatih. Tidak ada proses pembelajaran antara orang tua dan anak. Antara murid dan gurunya.

Memarahi anak atau pemain tanpa pertimbangan dan alasan jelas memiliki tiga kemungkinan, yaitu, pertama, si pemain merasa tertantang untuk beraksi lebih baik. Kedua, si pemain menjadi penakut (dan bukannya respek). Ketiga, pemain menjadi apatis karena ia bosan dan jengkel dengan pelatih.

Dua kemungkinan terakhir merupakan dua kemungkinan terburuk. Dan, perlu juga diperhatikan, dua dari tiga kemungkinan yang disebutkan di atas sama dengan 66,66% dari total 100% kemungkinan yang ada. Artinya, kemungkinan-kemungkinan terburuk berjumlah mayoritas dan berkemungkinan untuk lebih sering terjadi ketimbang kemungkinan pertama.

Ada yang mau (atau masih terus) membiarkan dua kemungkinan terburuk yang mungkin menimpa pemain hanya karena pelatih memarahi (atau lebih buruk dengan mengatakan “bodoh”) pemain berusia dini dikarenakan kesalahan eksekusi di atas lapangan (tanpa memberikan penjelasan yang bersifat membangun)? Aku, sih, no.

Terus memancing diskusi dua arah antara pemain dengan pelatih, walaupun sulit, harus terus diupayakan. Memberikan penjelasan yang kontekstual merupakan salah satu aksi paling mulia. Dan aksi mulia ini akan menjadi semakin bernilai ketika pelatih dapat melakukannya secara dua arah dengan pemain. Artinya, ada proses tanya-jawab antara pelatih dengan pemain.

Sama halnya dengan proses pendidikan di rumah dan sekolah, proses diskusi dua arah antara anak dengan orang tua dan murid dengan guru akan menambah tingkat kedalaman proses pembelajaran. Semakin berani pemain berdiskusi (menjawab, bertanya, dan memberikan kritik) semakin baiklah tingkat kepercayaan diri mereka. Nyalinya tumbuh.

Metode latihan atau pengajaran

Salah satu prinsip paling penting dalam latihan sepak bola adalah berlatihlah seperti caramu bermain. Karena sepak bola penuh dengan situasi-situasi tak terduga yang juga diikuti dengan adanya kesempatan bagi pemain untuk dapat mengontrol situasi-situasi tak terduga tadi, pelatih harus menyiapkan pemain untuk siap menghadapinya dan paham bagaimana harus beraksi dan bereaksi.

Terus-menerus berlatih atau terlalu banyak memberikan latihan teknik terisolasi (latihan mengumpan tanpa ada lawan atau dribble di ruang kosong) tanpa mempertimbangkan situasi-situasi yang mungkin terjadi di pertandingan atau kompetisi terdekat, bukanlah sebuah pendekatan ideal. Kenapa? Karena pemain tidak diberikan kesempatan untuk belajar menggunakan kemampuannya dalam konteks yang pas.

Terus-menerus atau terlalu banyak memberikan “latihan stamina” akan berefek meningkatnya VO2Max pemain. Tetapi efek buruknya, kemampuan bersepak bola menjadi minim karena kemampuan taktisnya rendah. Dan efek yang tidak kalah gawatnya lagi adalah pertumbuhan tubuh pemain terganggu.

Terus-menerus mengajarkan teori pelajaran berdasarkan buku teks tanpa memperkenalkan bagaimana menggunakannya di rumah, di lingkungan, atau di dunia kerja, tidak akan membuat si murid menjadi manusia “siap pakai”. Yang menjengkelkan lagi, efek dominonya bisa merambat sampai ke lapangan hijau. Ketika si murid, yang terlalu banyak didikte berbagai teori tanpa praktik, beralih peran sebagai pemain sepak bola, ia tidak paham apa saja yang sebaiknya ia lakukan demi mempraktikkan materi-materi dari pelatih ke atas lapangan. Kenapa? Karena ia tidak terbiasa mentransformasikan teori ke praktik.

Dan efek yang paling buruk lagi, bila lingkaran gelap ini terus dibiarkan, si murid, si pemain, tidak akan pernah memiliki kemampuan analisis, sintensis, dan memecahkan masalah dalam kapasitasnya sebagai seorang manusia.

Pelatih, seperti juga orang tua dan guru sekolah, harus mampu memberikan metode pembelajaran untuk merangsang pemain/anak/murid menjadi seorang manusia yang mampu menyerap teori, lalu menganalisis, menyintensis, dan menyimpulkannya demi memecahkan tugas/masalah.

Penutup

Rumah, sekolah formal, sekolah/akademi sepakbola adalah sama-sama sekolah dengan konsep pembelajaran yang berbeda. Pada intinya, kesemuanya berkewajiban untuk menghasilkan anak, murid, dan pemain yang juga seorang manusia utuh yang kritis yang mampu menganalisis, menyintensis, dan menyimpulkan guna memecahkan masalah atau menyelesaikan tugas-tugasnya.

Kesemuanya saling berhubungan dan memilik umpan balik antara satu dengan yang lain. Salah memberikan pengajaran memberikan dampak negatif terhadap pengembangan kemampuan bersepak bola pemain.

Author: Ryan Tank (@ryantank_)