Cerita

Era Baru Timnas Belanda dengan Ronald Koeman

Kurun waktu tiga tahun terakhir pasti terasa begitu menyesakkan bagi para penggemar tim nasional Belanda. Bagaimana tidak, negara yang sukses meraih titel Piala Eropa 1988 itu justru gagal lolos secara berturut-turut ke dua turnamen sepak bola akbar, Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018.

Muramnya kondisi sepak bola Belanda malah terbalik dengan negeri yang ‘bukan siapa-siapa’ dalam konstelasi sepak bola Eropa dan dunia, Islandia. Pasalnya, negeri yang terletak di Samudra Atlantik bagian utara tersebut berhasil lolos ke dua ajang bonafit itu.

Sadar bahwa upaya untuk mengembalikan nama baik Belanda harus segera dilakukan, federasi sepak bola Belanda (KNVB), terus mempercepat aksi mereka guna mewujudkan hal itu.

Beberapa masalah pelik di tubuh federasi, terkait tata kelola liga profesional dan amatir sampai pembinaan usia dini di Negeri Kincir Angin, dibenahi secara perlahan. Sejumlah nama lawas yang menjabat sebagai direktur KNVB juga disubstitusi dengan figur baru yang lebih segar dan membawa segudang ide-ide inovatif nan brilian guna menginisiasi perubahan.

Di sisi lain, KNVB juga fokus untuk mencari suksesor Dick Advocaat untuk menduduki jabatan hoofdtrainer Belanda. Dari sekian kandidat, pilihan mereka akhirnya jatuh kepada lelaki yang semasa aktif bermain, ikut andil membawa pulang trofi Piala Eropa 1988 ke Negeri Kincir Angin, Ronald Koeman.

Sedikit menarik karena sebelum didapuk sebagai pelatih anyar De Oranje, Koeman dituding gagal saat menukangi kesebelasan asal Inggris, Everton, di awal musim 2017/2018. Catatan buruk itu pula yang memunculkan banyak pertanyaan tentang kapabilitas sosok kelahiran Zaandam tersebut.

Namun di tengah ‘krisis’ pelatih berkualitas yang dialami Belanda, pemilihan Koeman bukanlah sesuatu yang mengagetkan (termasuk durasi kontraknya selama empat setengah tahun alias berakhir usai Piala Dunia 2022). Bagaimanapun juga, KNVB pasti enggan mengundi nasib De Oranje seraya menggaet pelatih minim pengalaman.

Tak berhenti sampai di situ karena hadirnya Koeman sebagai pelatih anyar dibarengi pula oleh pengunduran diri sepasang maestro lapangan hijau kesayangan publik Belanda, Arjen Robben dan Wesley Sneijder, dari kancah internasional.

Robben memutuskan pensiun dari timnas usai De Oranje rontok di babak kualifikasi Piala Dunia 2018, bulan Oktober 2017 silam. Sementara Sneijder, memastikan kabar pensiunnya pada awal Maret 2018 ini. Bila mengacu pada aksi-aksi gemilang Belanda di Piala Dunia 2014 lalu, kini hanya tersisa Robin van Persie, satu dari tiga nama lawas yang masih bertahan.

Ditinggal dua megabintangnya itu niscaya menghadirkan rasa sedih bagi suporter timnas Belanda. Namun di sisi seberang, keputusan mereka untuk mundur juga bisa digunakan sebagai titik awal menuju era baru sekaligus bangkit dari keterpurukan.

Sudah jadi rahasia umum bila ketergantungan Belanda kepada sosok Robben-Sneijder-van Persie masih amat tinggi seusai main di Piala Dunia 2014. Sialnya, begitu mereka berhalangan tampil, para pengganti kesulitan menampilkan aksi yang selevel. Ketidakseimbangan inilah yang disebut-sebut sebagai salah satu problem terbesar De Oranje dalam beberapa tahun terakhir.

Maka terasa wajar kalau Koeman banyak memanggil nama-nama ‘asing’ guna melakoni laga persahabatan kontra Inggris dan Portugal pada akhir Maret ini. Berdasarkan rilis via football-oranje, ada lima orang pemain yang mendapatkan panggilan perdana ke timnas senior yaitu Marco Bizot, Hans Hateboer, Justin Kluivert, Guus Til, dan Wout Weghorst.

Di sisi lain, beberapa nama yang dipanggil Koeman juga masih berumur 20 tahun ke bawah yakni Matthijs de Ligt, Timothy Fosu-Mensah, Donny van de Beek, Kluivert, serta Til. Kendati merupakan andalan di klubnya masing-masing, semua pun mafhum jika pengalaman mereka pada kancah internasional masih minim.

Praktis, figur senior yang familiar di telinga publik hanyalah Ryan Babel, Jasper Cillessen, Memphis Depay, Stefan de Vrij, Kevin Strootman, Virgil van Dijk dan Georginio Wijnaldum. Menariknya, cuma Babel yang usianya menembus kepala tiga.

Bermodal nama-nama itulah (walau terkesan medioker), Koeman mengupayakan pembenahan sekaligus perubahan untuk Belanda. Sasaran yang diberikan KNVB pun cukup jelas, meliputi jangka pendek (mematangkan skuat, khususnya para penggawa muda dan mencari skema terbaik untuk mereka agar kembali kompetitif), menengah (lolos ke Piala Eropa 2020) dan panjang (ke Piala Dunia 2022 sekaligus berjuang meraih titel juara di kancah internasional).

Sudah banyak momen pahit yang dicicipi Belanda akhir-akhir ini, maka menemukan penawarnya sesegera mungkin adalah keharusan. Hal itu juga sebuah pencegahan agar mereka tak semakin terkungkung dalam kesemenjanaan. Jika terlambat satu langkah saja, perjalanan mereka untuk memasuki era baru guna menjadi lebih solid dan tangguh, akan terasa semakin sulit.

Author: Budi Windekind (@Windekind_Budi)
Interista gaek yang tak hanya menggemari sepak bola tapi juga american football, balap, basket hingga gulat profesional